Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
52. Menjelaskan Segalanya


__ADS_3

Nine mengamati semuanya dari kejauhan.


Jadi ia sudah tahu sejak Rowan berada di kamar, mengambil cincin dari brankas di kamar pribadinya, lalu mengolesi sesuatu ke bibirnya.


Sebuah ciuman mematikan. Metode pembunuhan yang romantis.


"Regu Merah, siapkan posisi. Jemput Emilia sekarang juga."


Nine bergeser, mengarahkan seluru kamera pemantau ke tempat-tempat yang diperlukan. Hanya butuh waktu sebentar Nine bisa melihat Nina berteriak memanggil semua orang, berkata bahwa Emilia membunuh Rowan.


"Tahan posisi." Nine memberi komando. "Samuel bergerak. Ubah formasi. Regu Biru, berjaga di lokasi."


Tak lupa, Nine melakukan panggilan pada Rashi yang berada di tempat. "Pergilah dari sana."


"Tidak. Akan kutangani bagianku. Amankan Emilia."


"Baiklah." Nine bergeser menyambungkan panggilan pada Mahesa. "Emilia bergerak. Rashi masih di lokasi."


"Samuel?"


...*...


Sial. Sial. Sial.


Samuel tidak menyangka hari ini waktunya.


Ia berusaha tidak mengumpat ketika Nina berteriak memanggil seluruh orang. Tapi yang harus Samuel lakukan sekarang adalah mendatangi tempat Ema.


"Ema!" Darah merembes dari mulut ke pakaiannya.


Samuel tak punya waktu terkejut melihat Ema masih bisa berdiri dan sadar, sementara Rowan tergeletak. Ia akan bertanya nanti. Karena yang paling pertama adalah membawanya pergi.


Suara tembakan terdengar sebagai peringatan. Samuel mengeluarkan ponselnya, tak punya waktu untuk pertimbangan rahasia karena ia sekarang butuh bantuan.


"Keluar."


Ryo sudah mengerti. Tapi Samuel yang tak mengerti ketika pintu pagar didobrak paksa oleh mobil truk mini, disusul kemunculan sejumlah orang bertopeng.

__ADS_1


"Nona!"


Tidak ada waktu bertanya. Samuel langsung menangkap maksud bahwa mereka datang untuk Ema. Dihiasi oleh suara baku tembak yang terjadi, Samuel berhasil mengamankan Ema.


"Ema!" Samuel pucat pasi melihat gadis itu sekarat.


Tapi Ema masih berusaha duduk, seolah tak ada yang terjadi padanya. "Aku baik-baik saja." Ema berusaha merogoh sesuatu. "Mutia, penawarku."


Sebelum bisa menenggak botol penawar, Ema memuntahkan darah begitu banyak.


Dan hanya butuh waktu sepersekian detik, Ema jatuh tak sadarkan diri.


"Nona!"


*


Perempuan ini, kalau tidak salah dia wanita janda yang merawat Ema di desa. Tapi dia memanggil Ema dengan sebutan nona, dan sekarang melakukan pertolongan pertama begitu telaten.


Orang-orang di mobil ini, semuanya ....


Sialan. Cuma satu yang bisa melakukan kni.


Bajingan itu, dia *******, tapi ayahnya adalah mentri koordinator politik. Akses dia pada pemerintah ibarat hanya perlu ditempuh dengan berjalan kaki dari teras ke ruang tamu.


Tapi siapa Ema?


"Samuel."


Samuel langsung berbalik bersamaan dengan Ema dibawa masuk ke ruang khusus. Ia tak tahu tempat apa ini, karena sudah jelas ini markas kecil persembunyian.


"Aku sudah curiga."


Mahesa berjalan santai mendekatinya. "Kamu menduga dan tetap memakan umpan."


"Apa ini? Caramu menyatakan perang?"


Tawa Mahesa mengalun. "Perang denganmu tidak menguntungkan apa-apa. Aku hanya pemeran pembantu dalam cerita Emilia."

__ADS_1


"Emilia?"


"Nugraha."


Satu nama itu seketika membuat Samuel membeku.


Nugraha. Ada sangat banyak alasan bagi Nugraha menyerang Ahkam, tapi Samuel langsung memikirkan satu nama.


"Erwin Nugraha." Samuel menggeleng antara percaya namun tak percaya. "Ema—Emilia putrinya?"


Sialnya dengan begini semua misteri di kepala Samuel terpecah. Alasan Mahesa ikut campur hal yang sejujurnya tidak ada urusan dengan dia, adalah karena Nugraha. Hancurnya Ahkam berarti berkurangnya kekuatan dunia bawah negara ini. Sepuluh kekuasaan akan dibagi menjadi sembilan, yang berarti Nugraha akan semakin sejahtera.


Menggunakan Ema—Emilia, Mahesa bisa merampas harta Nugraha kapan saja. Karena anak Erwin hanya satu dan dia punya hak suksesi.


Disamping itu Mahesa 'mencuci tangan' dengan kematian Erwin sebagai alasan Emilia.


Bajingan ini.


"Bukan aku yang melakukan sesuatu pada organisasimu. Aku hanya memberikan Emilia-ku mainan, dan dia memainkannya sesuai keinginan dia sendiri."


"Kamu merawat Emilia untuk ini?"


Mahesa mendengkus. "Aku tidak pernah merawat seseorang. Aku mengajari mereka. Sama sepertimu."


Brengsek.


Tapi Samuel tidak bisa membalas. Diam saja ketika Mahesa membuka pintu ruang rawat Emilia, di mana gadis itu ditangani oleh Mutia.


"Keponakanmu punya selera aneh dalam mencintai wanita." Mahesa mendekati Emilia. Menyeka bekas darah dari mulutnya lalu menjilati itu tanpa ragu. "Ini tidak berbahaya bagi Emilia. Dia terkapar karena percampuran racun di bibirnya dan bibir Rowan."


Samuel mendekat. Tak tahu apa yang harus ia pikirkan sekarang.


Dia Emilia Nugraha. Anak Nugraha yang semua orang pikir tidak pernah ada. Dia juga dibawah didikan Mahesa, yang sekarang menjelaskan mengapa dia begitu dingin, mengapa dia begitu terlatih, dan mengapa dia begitu menakutkan.


Tapi dia juga mencium Rowan, dia memakai cincin pemberian Rowan.


Ini menyebalkan.

__ADS_1


*


__ADS_2