
Menurut Samuel, sisi menggemaskan Emilia adalah ketika kebingungan. Karena hidupnya hanya tentang senior dan senior, saat dia menghadapi sesuatu yang tidak diajarkan seniornya, dia gelisah.
Itu membuat Samuel senang. Karena berarti Emilia bahkan tidak mengalami ini dengan Mahesa.
Sebelum ada sesuatu yang harus dilakukan mengenai organisasi dan kerja sama, Samuel mau menyelesaikan hubungannya dengan Emilia dulu.
Membuat dia nyaman dulu.
"Kamu suka?"
Emilia menelan minumannya agak lama. "Asin."
Samuel terkekeh. "Aku menambahkan keju. Tidak enak?"
Meski dia menggeleng, sepertinya bukan bermaksud berkata itu buruk. Karena Emilia meminumnya lebih banyak tanpa diminta.
Ada perasaan sedih di hati Samuel melihat perban di mata Emilia. Ia rasanya mau menyingkirkan benda itu dan melihat lagi mata sinis Emilia yang penuh kejujuran.
Tapi belum bisa.
"Ini sudah malam, namun kalau kamu tidak keberatan, ada sesuatu yang mau kutunjukkan."
Jelas Samuel tersenyum melihat Emilia mengangguk bingung.
Mungkin dia bukan sudah luluh, tapi memutuskan membuka pintu hatinya sendiri.
Bukan masalah. Samuel menyukai Emilia bagaimanapun dia.
"Kamu bisa berjalan?" tanya Samuel memastikan. Bagaimanapun ini pengalaman pertama Emilia—juga pengalaman pertama Samuel.
Dia terlihat agak kesakitan tadi.
"Aku bisa mematahkan lengan pria dewasa." Emilia membalas datar. "Kamu ingin tahu rasanya?"
__ADS_1
Walau dia masih Emilia. "Ayolah, Emilia. Aku sedang menunggu kamu berkata gendong aku."
"Dalam mimpimu."
Samuel terkekeh. Bantu memasangkan pakaian Emilia dulu, tidak perlu terlalu banyak lapisan sebab kondisi sekitaran juga sepi.
Ia membawa Emilia keluar dari kediaman kecil sekaligus markas itu. Pelan-pelan menuntunnya berjalan. Dilihat dari langkah Emilia yang mulai pasti, dia sudah sangat terbiasa tidak melihat.
Gadisnya cepat belajar.
"Samuel."
Bagi Emilia yang sangat amat sangat jarang menyebut namanya, Samuel selalu merasa tersetrum jika dia mengucapkannya.
Mungkin hanya dari mulut Emilia, Samuel menggilai namanya sendiri.
"Aku di sini." Samuel berbisik kecil. "Ada apa? Ingin ciuman?"
"Jika aku menyuruhmu mati, kamu akan mati?"
Jika tidak memegangi tangan Emilia, Samuel pasti menutup wajahnya untuk tertawa keras.
Kalian tahu apa sebenarnya yang coba dia katakan? Dia mencoba berkata 'kamu mencintaiku?'. Tapi dia tak tahu caranya karena dia hidup dalam loyalitas, bukan cinta.
Loyalitas tertinggi adalah mati kapan dia suruh mati. Sementara cinta adalah kebahagiaan dan kesejahtraan bersama. Emilia benar-benar polos.
"Ya." Samuel mengangguk. "Jika melindungimu."
"Jika aku menyuruh?"
Maksudnya apa cinta Samuel membuatnya mau melakukan apa pun yang dia katakan? Sayang sekali tidak.
"Maaf, Emilia. Aku tidak bisa." Samuel mengecup jemarinya. "Aku harus hidup agar bisa menguasaimu, jadi kecuali melindungimu, tidak. Lagipula, jika aku mati, kamu akan berselingkuh."
__ADS_1
Samuel gemas melihat dia terdiam memikirkannya secara serius.
Biarlah. Emilia adalah Emilia, apa pun yang dia lakukan.
"Ini sudah lima ratus meter. Ke mana kamu membawaku?"
"Sebentar lagi."
Samuel tidak berbohong, karena lampu temaram dari lantai dua rumah barunya sudah terlihat. Dari teras terlihat Mama melepaskan kacamata bacanya, melihat Samuel berjalan bersama Emilia.
"Di mana ini?" Emilia langsung bertanya sewaktu memijak tangga atas arahan Samuel.
"Rumah baruku."
Emilia diam sampai mereka tiba di lantai dua. Jelas Mama langsung mendekat, meski hanya memberi isyarat ada apa.
"Aku mencium aroma asing." Emilia agak waspada. "Wanita."
Aku sudah bilang dia menggemaskan, adalah maksud mata Samuel pada ibunya.
Mama mendekat, berbisik pada Samuel. "Pergilah. Mama ingin bicara berdua."
"Dia sensitif. Tolong jaga dia, Ma."
"Ya."
Samuel melepaskan tangan Emilia. "Tetap di sana, Emilia."
"Aku tidak menyukai kejutan jadi hentikan."
Sesuai keinginan Mama, Samuel meninggalkannya. Memutuskan untuk pergi membuat teh hangat dan mungkin makan malam.
...*...
__ADS_1