Pria Dingin Dan Nona Batu

Pria Dingin Dan Nona Batu
33. pihak Ketiga


__ADS_3

Jika ada satu hal yang membuat Emilia merasa kekanakan, itu akan selalu jadi Mahesa.


Cinta pertamanya, satu-satunya pria yang Emilia anggap benar-benar ada, senior sekaligus tumpuannya. Tentu saja saat dia menikah, Emilia merasa sedih.


Tapi lebih dari itu, ia juga kesal pada bagaimana Mahesa selalu memaksanya secara halus.


Mengirim Rashi menemui Emilia bukan isyarat dia khawatir. Itu isyarat agar Emilia tidak terlalu berbaik hati dan malah berlarut-larut dalam perannya sebagai pembantu.


Kurasa memang menyebalkan jika hanya bermain dalam ranah kecil seperti rumah ini. Emilia berpikir ketika ia sendirian karena Rashi tidak bisa berlama-lama menemuinya.


Kalau begitu ....


Bagaimana kalau sejenak mengalihkan diri dan mengecoh perhatian Ahkam?


*


"Bos."


Samuel langsung bisa mendengar suara dari alat pendengar di burung elangnya ketika binatang itu mendarat. Untuk meminimalisir kemungkinan terlacak sekaligus bergerak dalam bayang-bayang, Samuel memang tidak pernah menghubungi Oto lewat jalur ponsel.


Mahesa Mahardika mengajarinya untuk berkomunikasi lewat elang. Biasanya Ryo akan menyelipkan surat di kaki elangnya, jadi ini mengisyaratkan keadaan darurat karena Ryo menggunakan alat komunikasi dua arah.


"Katakan."


"Terjadi serangan dini hari tadi. Tiga orang terbunuh dan sejumlah data berhasil tercuri."


Samuel mengerutkan kening. "Tiba-tiba?"

__ADS_1


"Ada jejak yang mereka tinggalkan secara sengaja. Shi dan lambang bunga higanbana."


Shi, artinya kematian. Higanbana, bunga kematian. Dari jejaknya sudah terlihat jelas mereka memang sengaja menyerang untuk sebuah tujuan yang bukan informasi semata.


"Data yang mereka dapatkan?"


"Ada beberapa, termasuk daftar keluarga Ahkam dan rincian tersangka yang kami simpan."


Mencurigakan. Jika dilihat sekilas saja, Samuel pasti akan berpikir bahwa itulah pembunuh di balik kematian Ahkam beberapa waktu lalu.


Tapi jika dipikirkan lebih dalam, mengapa dia muncul ketika dia bisa saja terus bersembunyi? Kenapa dia meninggalkan jejak terlalu jelas seolah minta untuk ditemukan? Jebakan, kah? Atau memang tindakan awam?


"Dia menyentuh bagianku." Samuel bergumam. "Menurutmu ini pernyataan perang?"


"Kemungkinan untuk itu meningkat. Perintah Anda?"


"Riokai."


Samuel meremas alat komunikasi di tangannya hingga remuk, dan membiarkan burung elang bernama Tobi itu terbang menjauh.


Otak Samuel bekerja memikirkan siapa kemungkinan orang yang menyerang organisasinya. Asumsi terkuatnya sekarang orang itu tahu bahwa Samuel pemilik Oto, tapi informasi soal itu tidak pernah Samuel berikan pada siapa pun kecuali ....


Argantana dan Mahesa.


"Satu dari mereka berdua."


Atau ... pihak ketiga?

__ADS_1


...*...


Jika tahu begini, Emilia sejak awal melakukannya. Sudah dua hari penuh, Samuel tak muncul dari kamarnya. Dia bahkan tak turun untuk makan, dan Emilia asumsikan bahwa Samuel punya persediaan makanan.


Sekarang dia pasti sedang menduga-duga siapa yang menyerang organisasinya. Akan butuh waktu lama agar dia tahu itu perbuatan Emilia kecuali dia mulai melirik keluarga Nugraha.


Meski Emilia tidak bilang jika Samuel melirik Nugraha maka dia akan tahu.


"Apa yang terjadi pada Paman, Ema?"


Sekarang, urusan Emilia hanya Rowan Ahkam. "Tidak tahu."


"Kamu tidak mengeceknya?"


"Tidak."


Rowam memperhatikannya beberapa saat sebelum dia duduk memerhatikan kegiatan Emilia.


Kesenangan Emilia karena Samuel tidak mengganggu memang besar, tapi pada dasarnya jika tidak ada Samuel, Emilia tidak tahu apa yang harus ia kerjakan. Samuel sendiri yang berkata bahwa Emilia hanya pelayannya, jadi ia bukan pelayan rumah ini kecuali Samuel berkata 'pergi bantu pelayan lain'.


Jadi Emilia mengambil pekerjaan ringan, menyirami tanaman.


"Bisakan aku menanyakan sesuatu padamu, Ema?"


"Apa?"


"Kenapa kamu menjadi pelayan Paman?"

__ADS_1


*


__ADS_2