Ranjang Panas Sang Mafia

Ranjang Panas Sang Mafia
Bab 14 (Tiga puluh menit)


__ADS_3

Happy Reading


🌴🌴🌴🌴🌴


Setelah mengetahui jika wanita bernama Meeryana itu adalah orang tua Al membuat Nana tidak berkutik sama sekali, gadis itu hanya diam tanpa banyak bicara bahkan pembicaraan Al dan ibunya pun Nana tidak paham.


"Apa kabar mu Al?" tanya nyonya Meeryana


"Aku sibuk banyak pekerjaan, apa ada yang lebih penting lagi?" tanya Al tak menjawab apa yang ditanyakan mama nya


"Cih... anak durhaka, bicara macam apa seperti itu kepada mama nya sendiri? tidak sopan." ketus Nana namun percayalah gadis itu hanya memiliki nyawa satu jadi dirinya tidak berani sama sekali mengucapkan nya secara langsung, Nana hanya mengumpat kesal bos mafia itu di dalam hatinya.


"Kau sibuk? baiklah, mau makan siang dengan ku hari ini?" tanya Meeryana lagi, karna sudah lama sekali tidak makan bersama dengan anaknya itu sedangkan mereka terakhir sekali makan satu meja bersama enam bulan yang lalu.


"Tidak perlu keluar rumah, kita akan makan besar didalam rumah saja, bagaimana?" tanya Meeryana penuh harap kepada anaknya itu


"Bahkan mau makan bersama saja, ibunya harus minta ijin dulu pada si anak,, cih.. kalau aku jadi ibunya pusssttt pussttt... ku kutuk di jadi makin kundang." ucap Nana geram melihat wajah Al yang tanpa dosa begitu mencuekan wanita yang sudah melahirkannya itu.

__ADS_1


Entah ada masalah apa antara keluarga itu sehingga laki-laki itu menjadi tidak begitu menghormati wanita berjuluk seorang ibu itu.


"Baiklah tiga puluh menit." ucap Al lalu pergi menuju tangga atas dan ternyata masuk kedalam salah satu kamar yang diketahui Nana baruan bahwa itu adalah kamar pribadi Ak yang ada dirumah besar ini dan hanya laki-laki itu yang bisa masuk kedalam kamar tersebut.


Nana melihat wajah nyonya Meeryana terlihat jelas terukir senyum diwajah wanita tua itu setelah Al memberikan waktunya walau hanya tiga puluh menit.


"Kamu siapa nak?" tanya Meeryana kepada Nana yang berdiri bengong dihadapan nya.


"Kamu di bawa Al kesini?" tanya wanita tua itu lagi dan Nana masih diam antea bingunhau jawab apa.


"Saya... sa.. saya." Nana bingung mau bicara apa dan apa sangkut pautnya ia dengan Al sedangkan dirinya pun tak tau dan tak jelas.


"Ya sudah kalau kamu belum mau cerita, mau bantuin saya masak di dapur?" Nyonya Meeryana mengajak Nana agar membantunya di dapur


"Disini saya ada banyak pelayan dari berbagai tugas masing-masing, tetapi anak saya tidak akan memakan masakan orang lain kecuali dari tangan saya sendiri." ucap Nyonya Meeryana lagi


"Baik nyonya, saya akan membantu anda." Nana dengan senang hati mau membantu, setidaknya masih ada orang yang memperlakukan dirinya dengan baik disini.

__ADS_1


Mereka berdua pun tiba di dapur yang begitu besar dimana semua pelayan langsung memberikan ruang untuk nyonya besar nya itu dan mereka semua pun keluar dari sana sesuai perintah.


"Kamu punya keluarga nak?" Tanya Nyonya Meeryana sambil mengiris bawang yang ada di meja itu.


"Keluarga?" Nana mengulangi pertanyaan tersebut


"Iya keluarga, apa kamu punya?" tanya Meeryana namun Nana hanya diam


"Kalau kamu ga mau jawab gak papa kok, bdw... aku punya dua orang anak dan keduanya laki-laki semua." ucap Nyonya Meeryana tidak ingin memaksa Nana lalu ia memilih menceritakan kehidupan nya.


"Kau tau, anak ku Al adalah anak pertama ku yang begitu dewasa dan tegas." ucapnya


Nana tersenyum "Tapi kenapa dia sedikit bicara Nyonya? terus dia jarang tersenyum? apa dia punya penyakit semacam itu?" tanya Nana


"Penyakit?"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2