
Happy reading
♥♥♥♥♥♥
"Apa maksud kau, Ben?" Al yang baru saja mendengar semua yang Ben ketahui seketika tangannya mengepal dan matanya memerah.
"Maaf jika saya lancang, Tuan. tapi memang itulah yang sebenarnya yang terjadi dan saya sudah berulang kali menyelidiki nya dan memang benar CCTV akurat dan mereka pelakunya." ucap Ben dan seketika.
Brakkkkk.....
Al langsung menendang kursi yang ada di hadapan nya itu sampai patah, "Sial." umpat laki-laki itu begitu mengeram kesal
"Kenapa dari awal kau tidak bilang, Ben?"ketus Al mengeluarkan suara tinggi nya begitu penuh amarah.
" Aggggghhhhhh... BANG SAT."
Al kembali berteriak sambil mengusap-usap kasar wajahnya, pria itu langsung membuka jas nya meninggalkan tubunnya yang hanya memakai kemeja warna hitam penuh amarah dan benci.
"KE PA RAT KALIAN."umpat nya lagi sedangkan Ben antara ragu dan terlanjur hanya bisa pasrah apa yang akan dilakukan tuan nya itu.
" BODOH... BODOH... BODOH..."Al memaki dirinya sambil memukul tubuhnya lalu kembali menggeprak meja.
Prakkk....
prakkk....
Ben yang sudah biasa dan tau betul bagaimana jika tuan nya sudah mengamuk dan kesal hanya bisa diam dan berjaga-jaga jika nanti tuannya berbuat nekat.
"SIAPKAN AKU MOBIL BEN, DAN ATUR JADWAL PENERBANGAN KU SEKARANG JUGA." Teriak Al begitu marah dan mentitah Ben untuk mengurus penerbangan nya saat ini juga
"Tapi tuan." saat Ben hendak bicara
__ADS_1
Krakk...
brak...
Al langsung meninju tangannya ke meja lagi hingga tangan kanan nya itu mengeluarkan dara segar.
"LAKUKAN BEN." Al tak ingin di bantah lagi dan ben pun segera menelpon orang nya untuk melakukan penyiapan penerbangan tuannya seorang di dalam pesawat nantinya.
"Ayo tuan, saya antarkan. mobil sudah siap." ucap Ben lagi mempersilahan tuan nya keluar namun sebelum keluar Al mengambil pistol kecil milik nya dan meletakan pistol tersebut di pinggang laki-laki itu.
"Tuan apa kah kita harus membawa anak buah lebih?" didalam mobil Ben mencoba untuk bertanya.
"Tidak perlu, aku akan menghabisi mereka dengan tangan kus sndiri."ucap Al, laki-laki itu masih sibuk dengan amarah dan lamunannya berapa ia tak menyangka semua ini akan seperti ini.
Tak lama Al pun tiba di bandara dan seharusnya jadwal pesawat belum berangkat namun di percepatan karna Al akan pergi sendiirian.
"Tuan kau yakin aku tidak ikut?" tanya Ben
"Tidak perlu biar aku saja yang pergi, kau cukup jaga disini." peritnah perintah Al dan Aakhirnya mereka pun terpisah di sana .
Disisi lain Nana pun baru tiba dirumah sakit dan langsung bertemu dengan dokter dan menceritakan apa masalahan dirinya.
"saya sering kali dok muntah-muntah ga jelas, terus mual nya itu ga keluar apa-apa. suami ku sellau marah dan mengira aku keracunan,apa bisa kau analisa penyakit ku dok?" tanya Nana dokter itu sibuk melihat wajah Nana dan memperhatikan gestur tubuh Nana.
"Apa muntah nya begitu sering?" tanya dokter
"Tidak juga, kadang pagi dan itu rutin setiap pagi, terus kadang malam." ucap Nana
"Kapan terakhir anda haid, nyonya?" tanya dokter sambil menuliskan apa yang ia tulis di atas kertas itu.
"bulan kemarin dok." jawab Nana
__ADS_1
"Mari tidur di atas ranjang, biar saya USG perut nya." pinta sang dokter yang seakan sudah tau apa penyakit Nana tersebut karna Nana melihat beda sekali sang dokter tampak tersenyum-srnyum dari tadi, tetapi agar lebih akurat dokter pun menyarankan untuk diperiksa lebih dulu.
Setelah selsai di USG dan hasil nya pun sudah keluar dan dibungkus map coklat oleh dokter itu, dan Nana kembali duduk untuk menunggu hasil nya.
"Selamat nyonya." ucap sang dokter membuat Nana begitu kesal
"saya dapat penyakit kenapa anda mengucapkan selamat dokter? anda ingin saya mati?" ucap Nana sudha nge ngasih lebih dulu
"Bukan, bukan begitu." ucap dokter agar Nana lebih mendengarkan nya terlebih dahulu.
"Selamat nyonya, anda hamil." ucap sang dokter lebih menjelaskan detail nya, Nana mematung dan mulutnya terbuka tak percaya.
"Dok?" panggil Nana
"Ya, itu benar Nona." ucap dokter itu lagi
"Hamil? di perutku ada baby?" Nana masih tidak percaya apa yang ia dengar.
"Pulang dan beritahu suamimu kamar bahagia ini nyonya." ucap sang dokter ikut bahagia.
"Ya kau benar, terimkasih dok." akhirnya Nana pun keluar dari rumah sakit tersebut namun saat di parkiran dirinya mengambil ponsel ditangannya lalu mencari-cari nomor seseorang
"Ya benar aku tidak memiliki nomor nya, bagaimana kalau aku menelpon Ben saja." Nana yang sibuk mencari nomor ponsel suaminya ternyata dirinya sama sekali tidak memiliki nomor Al namun dirinya pernah menyimpan nomor Ben dari kepala pelayan yang memberikan nya.
"Hallo Nyonya." ucao Ben mengangkat telpon
"Bisa aku bicara dengan suami ku? ada hal penting yang harus aku bicarakan." ucap Nana
"Maaf Nyonya saya rasa anda tidak perlu menunggu tuan, jika anda sudah pulang lsh ke mansion. tuan berangkat ke Amsterdam ada pekerjaan mendesak besok baru pulang." ucap Ben
"Owh begitu, ya sudah biar aku pulang saja." sedikit kecewa karna malam ini suaminya tidak ada bersama nya dan lagi tidak ijin dulu pada dirinya di tambah Nana saat ini mempunyai berita bahagia.
__ADS_1
Bersambung....
Bantu support othor terus ya, bantu vote nya supaya othor makin rajin up 🙏🙏🙏