Ranjang Panas Sang Mafia

Ranjang Panas Sang Mafia
Oleh-oleh


__ADS_3

Happy reading


♥♥♥♥♥


Malam itu Nana benar-benar tak bisa ngapa-ngapain dirinya di hajar habis-habisan oleh Al dari atas ranjang hingga berakhir didalam kamar mandi, bahkan makan pun ia di atas kasur sangking kelelahannya Nana mengimbangi suaminya yang jauh lebih besar dari dirinya itu.


Pagi pun tiba dan Al sudah berjanji akan mengajak Nana untuk keliling kota Amsterdam dan akan berbelanja sesuka hati wanitanya itu. Nana sebelum mandi tadi wajahnya terlihat sekali kusut dan tampak lelah karna di ajak suaminya bergadang semalaman, namun pagi ini ka telah mandi dan sudah memakai pakaian nya dengan gaya santai karna hari ini mereka akan pergi jalan-jalan.


"Udah belum? kenapa kau banyak sekali menghabiskan waktu ku?" ucap Al menahan sabar karna baru kali ini laki-laki itu menahan emosi juga menunggu orang lain bahkan selama ini tidak pernah ia lakukan dan sekarang bisa di lihat, Al pun melakukan nya,, menunggu Nana yang masih sibuk di meja rias hotel itu.


"Sedikit lagi, cuma mau poles sedikit ini bibir doang kok." ujar Nana


"Ribet." ketus Al jenuh


"Kau mau belanja apa nanti?" tanya Al sambil melihat jam ditangannya


"Mbbb... sebenarnya aku tidak terlalu menginginkan apa-apa, tapi apakah boleh aku belikan oleh-oleh untuk pelayanmu seperti Hollin?" tanya Nana mendekat kearah Al sambil men jinjit kan kakinya agar bisa sama tinggi dengan suaminya walaupun usahanya itu tetap lah sia-sia.

__ADS_1


"Boleh." jawab Al


"Benarkah?" tanya Nana meyakinkan suaminya


"Ya." ujar Al menundukan kepalanya agar bisa sejajar dengan Nana


"Untuk Ben apa juga boleh?"


"Kau menyukai nya?" Al langsung balik bertanya dengan tuduhan yang tidak masuk akal


"Tidak, tapi jika tidak boleh juga tidak apa, kan aku hanya ingin kasih oleh-oleh saja dari bulan madu kita." ucap Nana tanpa sadar


"Baiklah kau boleh membeli segala yang kau inginkan." Al langsung menyetujui keinginan istrinya itu


"Waaaahhhh... Thanks suami ku."


Cup

__ADS_1


Nana langsung mengecup bibir Al sekilas dan langsung pergi mencari sepatunya sedangkan Al mematung seakan ada sengatan listrik barusan menyambsr bibirnya "Wanita itu berani sekali? awas dia." Al tersenyum smirk.


Akhirnya setelah perdebatan masalah oleh-oleh selesai mereka pun kini sudah berada di sebuah toko perbelanjaan khusus oleh-oleh di Amsterdam dan Nana memborong begitu banyak nya oleh-oleh untuk pelayan di rumah besar Al juga beberapa untuk ajudan Al yang Nana ketahui bisa ia hitung ada sepuluh orang yang ia pernah lihat .


Setelah belanja mereka berdua pun duduk di sebuah tamat yang mengarah kearah jalanan.


"Mau minum?" Nana memberikan air mineral yang mereka beli di super market tadi dan Al pun mengambil air tersebut dan meminumnya.


Al melihat Nana yang melamun sambil melihat ke arah jalanan banyak nya orang berlalu lalang. "Ada yang kau fikirkan?" tanya Al tanpa melihat istrinya


"Setiap hari aku selalu berfikir." jawab Nana melirik sekilas suaminya


"Hays... bukan begitu maksudku Na, apakah ada yang menggangu fikiran mu?" tanya Al lagi mendetail kan pertanyaan nya.


"Apa kau tidak bahagia dengan ku?" Tiba-tiba Al langsung bertanya dan memutarkan tubuh Nana agar mengadap dan menatap mata nya.


"Jika aku bilang tidak bahagia itu tandanya bohong suamiku."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2