
Happy reading
❤️❤️❤️❤️
Pagi itu Nana langsung berjalan masuk kedalam pabrik pembuatan tas tersebut untuk mencari keberadaan suaminya.
"Permisi.. " panggil Nana kepada salah satu karyawan yang sedang merapikan tas yang sudah jadi untuk di masukan kedalam kotak nya.
"Ya."
"Maaf, apa anda melihat suami saya?" tanya Nana kepada salah satu karyawan itu, setelah melihat Nana karyawan itu kaget dan langsung menundukan kepalanya.
"Ehm... nyonya... mungkin tu." belum sempat ia meneruskan ucapan nya tiba-tiba dari arah belakang Nana asisten Ben datang.
"Nyonya muda, apa ada yang kau butuhkan?" tanya Ben kepada Nana
"Oh Ben, aku mencari suami ku. dimana dia?" tanya Nana dan Ben langsung mengambil ponselnya untuk mengirim pesan singkat kepada tuan nya.
"Baiklah nyonya muda, akan saya antarkan anda ke tempat tuan muda. dia sedang di bagian pen jahitan." ucap Ben .
"Ah .. ya baik lah,, ayo." mereka berdua pun akhirnya menuju ke ruangan bagian jahit dan benar saja Al sudah ada disana .
"Sayang... " Panggil Nana kepada suaminya, Al yang pura-pura kaget langsung melihat ke arah Nana
"Ah... istriku...kau disini?" ucap Al kaget padahal asisten Ben telah memberikan kabar dengan nya terlebih dahulu.
"Kerjakan pekerjaan ku, aku ingin menemui istriku dulu." ucap Al kepada karyawan yang ada disana.
"Akting mu boleh juga tuan." batin Ben terkekeh
"Nana... ada apa? kau butuh sesuatu? atau ingin pulang? biar aku antarkan." ucap Al pura-pura dengan wajah penasaran nya.
"No... aku." Nana mengelus-elus perut nya di depan Al lebih tepat nya di depan Ben yang mana jiwa jomblo nya merontak-rontak ngajak nikah.
"Kau lapar?" tanya Al sedikit panik melihat istrinya.
"Aku mau mangga." rengek Nana manja kepada suaminya.
Al menatap Nana lalu langsung melihat kearah asisten Ben "Belikan istriku mangga, Ben." perintah Al namun dengan cepat Nana mencegah nya.
"No, aku tidak mau." ucap Nana dengan wajah cemberut nya.
"Tadi kau ingin mangga kan? biarkan Ben membeli nya untuk mu." ucap Al lagi kepada Nana
__ADS_1
"Aku tidak mau mangga yang di beli, aku mau mangga yang ada di sebelah pabrik ini." ucap Nana memelas.
"Maksudnya?" tanya Al tidak paham
"Ayo ikut aku." Nana langsung menarik tangan suaminya untuk menunjukkan mangga yang ada di sebelah pabrik itu.
Akhirnya mereka pun tiba di depan pohon mangga yang Nana inginkan "Sayang, ini." tunjuk Nana kepada pohon begitu tinggi namun terdapat banyak mangga disana.
"Ini pohon." ucap Al kepada Nana
"Aku juga tau sayang kalau ini pohon bahkan Ben pun tau ini juga pohon." ucap Nana cemberut, sedangkan Ben sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.
"lalu?" tanya Al
"Aku mau mangga yang ada di pohon ini." ucap Nana memohon didepan Al
Mata Al langsung melirik dari bawah pohon hingga ke atas "Ben, belikan mangga di swalayan yang sama seperti mangga yang ada di pohon ini." perintah Al kepada asisten nya.
"Siap tuan."ucap Ben namun Nana langsung menghentikan nya.
" Stop... aku tidak mau."ketus Nana lagi.
Al mengela nafas nya "Kau tadi bilang mau mangga kan? seprti ini kan? biarkan Ben yang belikan nya." ucap Al sesabar mungkin.
"Itu punya orang, nanti kita di marah nya." Alasan Al kepada istrinya
"Asisten Ben, aku istri tuan mu kan? dan kau akan menuruti perintah ku juga kan?" tanya Nana menatap tajam ke arah Ben
"Siap nyonya muda." ucap Ben
"minta ijin kepada tuan nya," perintah Nana dan Ben pun dengan cepat langsng meminta ijin kepada pemilik pohon tersebut dan tak lama Ben pun datang kembali setelah meminta ijin.
"Bagaimana Ben?"tanya Nana sedangkan Al di belakang Nana melambai kan tangannya kepada Ben berharap asisten nya itu bisa di ajak kerja sama.
Ben melihat tuan dan nyonya nya bergantian lalu " Nyonya muda, kata pemiliknya kau bisa mengambil sebanyak yang kau mau."ucap Ben sambil mengekspresikan wajah memelas kepada tuannya yang sudah mengeraskan rahang nya kepada Ben.
"Yeyyy... sayang." Nana bersorak gembira lalu membalikan badannya menatap Al suaminya dan begitu cepat Al langsung menampilkan wajah tersenyum kepada istrinya itu.
"Eheemm." Al berdehem.
"Ayo ambil mangga nya." ucap Nana sudah tidak sabaran
"Tapi sayang pohon mangga itu tinggi sekali." ucap Al agar istrinya itu mengerti
__ADS_1
"Sayang aku lagi ngidam loh, ayo di panjat." ucap Nana lagi
"Panjat?" Al mengulangi perkataan istrinya
"Iya di panjat." ucap Nana tersenyum
"Ben, panjat pohon itu dan ambilkan beberapa mangga." perintah Al kepada anak buah nya itu.
"No... suami ku, kau atau Ben?" tanya Nana berkacak pinggang
"Aku" ucap Al cepat
"Kalau istri ngidam itu pengen apa-apa harus suami yang kerjaan tidak boleh orang lain,, cepet." ucap Nana kepada Al sedangkan El yang berdiri tidak jauh dari sana menahan tawa nya.
"Ya baiklah." Al pun berjalan beberapa langkah namun kembali berhenti dan melihat kearah Nana
"Jadi suami mu ini harus naik, yank?" tanya Al
"Ya." jawab Nana tersenyum
"Oke." Al kembali berjalan dan berhenti kembali dan membalikan badan menatap Nana
"Apa tidak bisa di cancel, ngidam yang lain?" tanya Al
"No.. no... no... aku mau mangga, sayang." ucap Nana lagi
"Oke baiklah, semi dirimu akan aku lakukan." Al langsung berjalan mendekati pohon besar itu.
"Namanya aja ketua Mafia masak ia naik pohon mangga kerjanya." umpat Al ngedumel akan apa yang akan di lakukan.
Ia mencoba berkali-kali naik tetapi belum juga bisa karna sulit nya tidak ada pegangan. Al pun berinisiatif memanggil Ben.
"Ben kemarilah." titah Al
"Saya Tuan." ucap Ben
"Ambilkan tangga untuk ku." ucap Al
"Sekarang Tuan?"
"TAHUN DEPAN, BEN." ketus Al terpancing emosi nya.
Bersambung....
__ADS_1
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣