
Di masa lalu aku hanya bisa menggunakannya dua kali tapi sekarang aku berhasil melakukannya tiga kali, sudah kuduga pertumbuhanku tidaklah cepat.
Semua orang terdiam sehingga aku berkata pada mereka.
"Apa gagal?"
Aku bisa melihat kehancuran yang telah kuciptakan namun, dari sana beberapa monster masih keluar.
"Tak masalah Weis, aku pikir ini jumlah yang normal dihadapi semua orang."
"Aku bisa melihat itu."
Sementara orang-orang mulai berlarian untuk menyerang, Hoshimiya di sebelahku menembak melalui senjatanya.
Aku yakin barusan telah membunuh lebih 5.000 ekor tapi jelas itu belum cukup, ketika aku memikirkannya dua unit Zeltras telah terbang di udara lalu turun ke bawah tanah.
Itu jelas milik akademi.
Kaki mereka menciptakan lubang besar bersama getaran di bawah tanah, orang yang sebelumnya menyerang mulai berlari menjauh termasuk Rex yang menepuk punggungku.
"Kerja bagus Weis, itu serangan bagus."
"Aku juga berfikiran demikian," tambah Hoshimiya.
"Bukannya jumlahnya masih banyak."
"Tidak, aku pikir barusan serangan bagus kami di sini diminta hanya untuk mengulur waktu saja sampai dua unit Zeltras siap digunakan."
"Jadi begitu."
__ADS_1
Mereka bukan diminta untuk menghalau serangan melainkan hanya untuk mengulur waktu.
Rex menambahkan.
"Sekilas kita berada untuk mengalahkan monster namun sesungguhnya lawan kita lebih dari itu," saat Rex selesai menjelaskan aku bisa melihat sebuah unit berbeda muncul dari depan kedua unit Zeltras, itu adalah robot hitam dengan sayap di punggungnya serta membawa pedang di tangannya.
"Apa itu?"
Giliran Hoshimiya yang menjelaskan.
"Itu adalah Unit Zeros, robot yang dimiliki oleh pasukan raja iblis yang tergabung dalam Demon Lord Terrytory... robot itu pasti memiliki kemampuan untuk mengendalikan monster."
Ini tidak seperti dunia yang kuingat.
Satu robot besar menyerang dua robot lainnya.
Unit Zeltras menarik pedang mereka lalu berlari maju secara bersamaan, di saat yang sama robot musuh mengayunkan pedang hitamnya hingga ketiga serangan itu berbenturan.
"Pekerjaan kita masih belum selesai, kalian semua jangan biarkan mereka masuk ke dalam kota, lindungi kotanya," Rex memberikan arahan tapi petualang lain memotongnya.
"Percuma, mereka memanjat tembok."
"Apa?"
Seperti yang dia katakan para monster yang memiliki cakar bisa masuk.
"Sial... kita bagi dua orang, ikuti aku masuk dan sisanya bertarung bersama para instruktur dari akademi."
"Baik."
__ADS_1
Hoshimiya membidik dan terdengar letupan dari senjatanya bersamaan selongsong pelurunya yang terbang ke udara.
"Sebaiknya kita mundur Weis."
"Aku akan berada di sini."
Bam.
Salah satu robot Zeltras telah menghancurkan tembok hingga pengemudinya terlempar dari kokpit pengendali.
Aku dan Hoshimiya buru-buru memeriksanya.
"Dia luka parah, Hoshimiya bawa dia masuk ke dalam kota."
"Weis sendiri."
"Aku akan mencoba mengendalikan unit Zeltras."
"Itu.."
"Aku pasti bisa melakukan sesuatu dengan ini."
"Dimengerti."
Sementara Hoshimiya menyeret siswa akademi tersebut aku masuk ke dalam kokpit, seketika ruangan yang terbuka tertutup dan pemandangan yang gelap gulita telah berubah menjadi monitor dengan penampilan pertarungan, ada tuas yang berfungsi sebagai pengendali kaki dan tangan walau sederhana sulit untuk terbiasa.
Aku mencoba bangkit dan robot sekitar 25 meter ini mulai bergerak untuk berdiri, layar di depanku bisa difungsi alihkan sebagai mata dengan beberapa panel layar kecil sebagai penunjang.
Selain dua robot yang masih bertarung, para petualang yang bertarung dan juga Hoshimiya terlihat jelas sedang melihat ke arahku.
__ADS_1
Bukan waktunya untuk memikirkan apapun, yang harus kulakukan adalah belajar dengan cepat untuk mengendalikan robot ini.