
Menyebar secara menyeluruh, aku dan Hoshimiya bergerak bersama dengan dua orang, dari tempatku berdiri aku bisa melihat sebuah istana megah menjulang tinggi.
Rencananya sendiri seluruh pasukan akan membuat keributan secara bersamaan dan di saat itu aku dan Hoshimiya akan bergerak maju, dikatakan Eoni ada empat panglima yang mengabdikan diri mereka pada kakaknya.
Aku tidak mengerti siapa mereka yang jelas, kami akan bergerak maju.
Aku dan Hoshimiya saling bertukar tatapan kemudian bergerak maju, bersamaan itu ledakan terjadi di lokasi yang telah kami putuskan, Sento, Andelona dan juga Cassiopeia aku serahkan pada kalian.
Aku dan Hoshimiya bersembunyi di balik bangunan saat pasukan musuh bergerak ke arah seharusnya. Itu aneh bahwa dari sekian orang ada seorang wanita memakai pakaian ketat dengan lambang bunga mawar serta cambuk masih berdiri di gerbang masuk.
"Sebaiknya kalian muncul."
Dia sudah menyadari kami berdua.
Pakaiannya hanya menutupi bagian pentingnya mirip seperti Body Suit.
"Kita ketahuan."
"Aku senang melawan orang kuat jadi dari kalian berdua siapa yang akan menyerangku."
"Kau memilih satu lawan satu rupanya."
__ADS_1
"Dua juga tidak keberatan hanya saja itu tidak menyenangkan, aku suka menyiksa satu musuhku dengan cambuk ini. Ah benar... aku sebaiknya memperkenalkan diri lebih dulu namaku Black Lily, aku seorang panglima yang selalu bertugas menghukum para tahanan nakal."
Kami juga memperkenalkan diri, sebagai sopan santun.
"Kalau begitu Weis serahkan ini padaku, kamu teruslah maju."
"Apa kau yakin bisa mengalahkannya?"
"Eternal suitku telah ditingkatkan aku yakin bisa."
"Kalau begitu baiklah."
Aku berlari ke depan selagi mewaspadai pergerakan Black Lily, seperti yang dikatakannya dia benar-benar melepaskanku seolah tak peduli.
Aku berjalan di koridor yang cukup panjang menembus pilar-pilar kokoh yang berderet rapih di sampingnya, aku sampai ke singgasana di mana di sana seorang pria berambut panjang duduk menyeringai ke arahku.
"Haha jadi ini perlawanan terakhir adikku yang manis, mengirim seorang pria muda yang masih belajar di akademi."
"Aku tidak bisa menyangkalnya, bersyukurlah bahwa adikmu bilang tidak akan menghukummu mati dia hanya bilang akan mengurungmu bersama panglima yang kau miliki, sebaiknya kau menyerah."
"Huaha menyerah, aku ini rajanya aku lebih kuat dari siapapun apa kau lihat mahkotaku ini, ini adalah mahkota yang memberikan kekuatan pada penggunanya kau tidak mungkin mengalahkannya ini adalah artefak suci."
__ADS_1
Casandra yang berada di tubuhku menyangkalnya.
(Lebih mirip benda terkutuk, sepertinya artefak itu mengambil kehidupannya sebagai bayaran)
"Jadi begitu."
"Apa yang sedang kau gumamkan sialan."
Secara tak terduga raja tersebut telah muncul di depanku sambil mengayunkan pedang dari tangannya, aku pun melakukan hal sama untuk menahannya, itu saling berbenturan menghasilkan gesekan logam yang terdistorsi menjadi sebuah ledakan kejutan.
Aku mundur ke belakang sementara lantai pijakanku sebelumnya hancur berserakan dengan raja yang berdiri dengan tatapan kegilaan.
"Bukannya ini menarik, aku terus melatih diriku semakin kuat dan kuat, namun sayangnya tidak ada yang cocok melawanku jadi aku membunuh mereka lewat duel namun sekarang aku menemukan lawan yang sangat hebat, ini mengagumkan dalam berbagai arti."
Aku tahu satu hal sekarang.
"Dia sudah rusak."
Talia menambahkan.
(Kutukannya telah mengambil alih tubuhnya, jika kita menghancurkan mahkotanya itu mungkin akan menyadarkannya, sayangnya mungkin umurnya sudah banyak berkurang)
__ADS_1
"Jika hanya itu akan kulakukan."
Aku memasang kuda-kuda lebih siap dari sebelumnya.