Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat

Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat
Chapter 72 : Tembakan Akhir


__ADS_3

Berkat sihir ruang Miko aku berhasil menghilangkan serangan Hugo, meski begitu keadaanku tidak berubah.


Dua lawan satu.


(Yah barusan cukup berbahaya)


(Benar)


(Tuan masih perlu belajar)


(Pastinya)


(Mungkin kita semua harus menghibur tuan nanti?)


(Kalian semua tolong berhentilah mengejekku)


Aku memilih mengabaikan setiap komentar roh agung untuk menghubungi Sento lewat jalur komunikasi.


"Ada apa Weis?"


"Kurasa aku sedikit kerepotan di sini, sudah waktunya menggunakan tembakanmu."


"Aku sudah menunggu hal itu, beri aku waktu tiga menit aku siap menembak."


Tiga menit adalah waktu yang cukup lama untukku bertahan melawan dua robot dengan satu tangan.


Singkatnya aku terpojok.


Aku menggerakkan Nemesis untuk menyerang ke depan, alih-alih bertahan di belakang aku akan mengulur waktu dengan sebuah serangan tak henti.


"Itu pilihan bagus master, jangan sampai biarkan dia menembak lagi."


Hugo tertawa.

__ADS_1


"Aku tidak tahu bagaimana kau menghilangkan seranganku tapi ini adalah skatmat, Vardia."


"Aah."


Kami saling membenturkan pedang, aku berhasil menghindari serangan Hugo di detik akhir namun tebasan Vardia memberikan luka di punggungku, sebagai gantinya aku bergerak ke samping dengan roket pendorong sayangnya unit Hugo lebih cepat dariku, dia bahkan lebih cepat dari sihirku.


"Percuma."


Ia menendang hingga tubuhku terlempar jauh, di saat yang sama menambahkan tembakan melalui sihirnya, aku menciptakan sihir pelindung meski begitu Vardia sudah siap menebasku dan dia memotong tanganku yang lain.


"Satu menit lagi master."


"Sangat lama."


Aku berlari ke belakang saat kedua unit musuh mengejarku. Tanpa menahan aku menembakan seluruh persenjataan dari tubuh Nemesis seperti misil serta tembakan plasma. Hugo menghancurkannya dengan sihir dari aura.


Sebelum aku bisa membalas Vardia muncul dari atas kemudian menjatuhkan pedangnya secara vertikal membuat tebasan dari bahu ke bawah secara menyamping.


"Ini jelas berbahaya."


"Kerusakan sistem 50 persen."


Aku merasa tubuhku tersengat aliran listrik, paling tidak Nemesis masih memiliki kaki untuk berlari.


Hugo yang merasa berada di atas kejayaan tertawa terbahak-bahak, menghujaniku dengan berbagai sihir api, air, angin dan tanah.


"Berhentilah bermain-main Hugo, cepat habisi dia.. aku selalu merasa dia selalu memiliki kartu as di tangannya."


"Kau ini seorang jenderal apa kau takut, haha ini menyenangkan melihat bagaimana musuh kita tak berdaya."


"Kerusakan sistem 80 persen."


Nemesis jatuh berlutut ke bawah, sementara aku merasa kesakitan di sekujur tubuhku, yang masih berfungsi hanyalah layar serta komunikasinya tapi kurasa ini sudah cukup.

__ADS_1


Hitungan tiga menit berakhir, tepat saat Hugo ingin mengakhiriku sebuah panah menembus tubuhnya lalu meledak dahsyat.


"Gwaah."


Aku bisa mendengar suara akhir darinya.


"Hugo, mustahil di jarak sejauh itu dia bisa menembak."


Vardia tampak ketakutan, ketika dia berbalik untuk memeriksa keadaan anak panah menembus tubuh robotnya termasuk tubuhnya.


"Sial, seharusnya aku langsung membunuhmu."


Dan dia juga meledak dengan cara yang sama. Aku menyandarkan punggungku dengan helaan nafas panjang.


"Bagaimana tembakanku hebat bukan."


"Ah iya, terima kasih nyawaku baru saja selamat."


"Fufu."


"Cassiopeia maaf soal Nemesis."


"Tidak masalah itu memang pertarungan sulit, apa aku harus menambahkan tangan lagi untuk Nemesis?"


"Kurasa tidak usah, lain kali aku tidak akan lengah dan sebaiknya berikan radar musuh untuknya nanti."


"Dimengerti."


Aku keluar dari kokpit dan melihat bagaimana pertempuran yang lainnya juga sedang berlangsung, mereka juga berjuang terutama Hoshimiya dan Andelona.


Sementara mereka mencoba menghabisi sisanya aku memungut Aura yang berwarna merah serta berbentuk persegi.


"Ini bisa kita gunakan nanti."

__ADS_1


__ADS_2