Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat

Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat
Chapter 79 : Sebuah Bantuan Dalam Peperangan


__ADS_3

"Ternyata ratu elf punya dada besar juga."


"Iya, ini salah satu kelemahan Weis."


"Aku bukan orang seburuk itu juga."


Kami duduk selagi menghadap ratu yang memandang kami dengan tatapan lembut, dia memiliki rambut pirang sama dengan Delfina hanya saja alih-alih membuatnya terurai ia lebih mengikatnya ke samping.


"Namaku ratu Elvira 3, aku pemimpin dari seluruh elf yang berada di wilayah ini, apa kalian yang akan mengambil hasil panen kami."


"Benar yang mulia, saat misi diberikan kami langsung datang kemari."


"Bukannya itu terlalu cepat."


"Aku bisa berpindah tempat kemanapun yang kuinginkan."


"Itu luar biasa."


(Aku memang luar biasa')


Suara Miko jelas sekali di kepalaku hingga aku tersenyum masam.


"Kudengar wilayah Anda sedang kesulitan kami ingin menawari bantuan sebelum membawa hasil panennya tentu kami hanya akan mengambil setengah dari yang Anda tawarkan untuk keberlangsungan kehidupan di sini juga."


"Aku merasa terbantu tapi itu cukup berbahaya, sekarang dua jenderal yang sedang menyerang kami termasuk pasukannya, mereka semua bahkan memakai unit Zeros, aku khawatir dengan keselamatan kalian."


"Itu bukan apa-apa bagi kami, tolong serahkan semuanya, kami akan mengalahkan mereka."


"Jika kalian berfikir begitu apa boleh buat, Delfina tolong siapkan kamar untuk tamu-tamu kita."

__ADS_1


"Itu tidak perlu kami sudah berjanji akan menyelesaikan semuanya hanya satu hari saja."


Semua orang kebingungan.


"Sesuai yang diharapkan dari seorang pahlawan, Delfina siapkan saja apapun yang mereka inginkan."


"Saya mengerti."


Aku meminta Delfina menunjukkan tempat yang paling tinggi dan akhirnya itu berakhir di sebuah pohon raksasa yang sangat besar.


Sento tersenyum senang.


"Tempat yang tepat, dengan Aura aku akan menjadi penembak jitu tak terkalahkan."


Dia mulai serius terlebih saat memanjat ke atas.


"Dan kalian semua, kita akan bergerak bersama."


Andelona dan Hoshimiya menggunakan unitnya sementara aku harus berbagi tempat duduk dengan Cassiopeia. Sebuah peta telah ditampilkan di layar monitorku dengan penjelasan Qiora di sampingnya.


"Ini adalah beberapa titik keberadaan musuh Master, bagian luar dihuni pasukan pengawas."


"Yah itu bagus, Andelona dan Hoshimiya ahli dalam serangan kejutan."


"Weis bisa aku mencoba mengemudi Nemesis, aku ingin melakukannya."


"Aku tidak masalah tapi kakimu tidak sampai bukan."


"Ugh... itu benar."

__ADS_1


Qiora menahan tawanya.


"Terkadang ciptaanku membuatku kesal."


Tanpa perlu menunggu waktu lama kami mulai bergerak dan saling terhubung satu sama lain lewat komunikasi.


Dengan ini akan kutunjukan seberapa kuatnya kami sekarang.


Hoshimiya dan Andelona menggunakan kamuflase membuat mereka seolah menghilang.


"Bukannya itu luar biasa... kau memang jenius Cassiopeia."


"Puji aku lagi, aku menggunakan Aura dengan cara berbeda."


Ini sudah jelas akan menjadi kemenangan kami.


Dua hingga lima unit Zeros dijatuhkan tanpa perlawanan membuat semua unit musuh kebingungan, radar mereka juga tidak bisa menemukan musuh terlebih sebuah panah yang tiba-tiba mengenai mereka tanpa tahu siapa pelakunya.


"Weis, satu orang mengincarmu, boleh aku tembak?"


"Dia salah satu jenderal, biarkan dia masuk aku akan menebasnya."


"Oke, kalau begitu aku akan membantu Hoshimiya dan Andelona lagi."


Dari samping menerjang sebuah unit Zeros berbentuk minoutarus, dia bahkan menggunakan tanduknya untuk menyerudukku yang mana aku tangkap lalu melemparkannya ke samping.


Robot dan penggunanya memiliki penampilan sama.


"Aku tidak tahu bagaimana kau bisa menembus pertahanan kami tapi sayangnya aku lebih hebat. Eh?"

__ADS_1


Aku sudah berada di belakangnya setelah memberikan tebasan cepat, dalam waktu singkat dia meledak.


"Aku merasa kasihan padanya," ucap Cassiopeia bersimpati.


__ADS_2