
Semakin banyak monster yang dikalahkan maka semakin lelah kami rasakan, karena tempat ini hampir tidak pernah dikunjungi orang monsternya sendiri jauh lebih banyak dibandingkan dungeon atau labirin pada umumnya.
Aku menggunakan sihir air menembakannya ke arah dinding batu untuk menciptakan lubang besar di sana, ini adalah gua yang dibangun dengan sihir yang berfungsi sebagai tempat tinggal sementara, awalnya Hoshimiya cukup takut dengan kegelapan namun di tempat ini tidak seperti yang dipikirkan olehnya.
Tempat ini dipenuhi kristal dan batu bercahaya, ada juga lumut bersinar hampir tidak ada kegelapan yang akan membuatnya takut.
Di bagian depan gua aku menggunakan air lalu membekukannya menjadi es hingga terlihat seperti sebuah penjara. Syukurlah bahwa aku di akademi telah mempelajari hal ini.
Cassiopeia membuat penerangan dengan sebuah damar, damar adalah alat mirip seperti lilin dengan sumbu tali hanya saja bagian bawahnya diisi oleh cairan terbakar serta diletakkan di dalam sebuah batang besi yang melindunginya agar saat terjatuh itu akan padam.
Dunia ini sangat berkembang.
"Kita sudah makan jadi waktunya tidur, Weis hari ini aku tidur di sebelahmu."
"Aku tidak keberatan."
"Kalau begitu aku tidak ada tempat, apa aku harus tidur dipojokkan sendirian."
"Andelona bisa tidur di sebelah Cassiopeia atau aku tidur di atas Weis saja."
"Hoshimiya, itu berbahaya."
Mereka benar-benar kelompok aneh, ini yang disebut kebersamaan kurasa. Setelah beristirahat kami tidak langsung turun ke lantai berikutnya melainkan kami juga mengumpulkan batu energi di sini.
Andelona sedang menggergaji bebatuan sementara kami menambang di sekitarnya.
Ini sangat dibutuhkan untuk membuat Rubix yang akan digunakan Nemesis serta senjata yang kami gunakan, jelas kami tidak boleh melewatkannya, dalam waktu sebulan kami telah berhasil melewati 15 lantai, beberapa kepiting raksasa bermunculan di area ini.
__ADS_1
"Semuanya serang bagian perutnya itu bagian yang lunak."
"Dimengerti."
Salah satu kepiting mengarahkan capitnya, aku menggunakan pedangku dan entah kenapa rasanya seperti menebas bongkahan besi yang keras, berbeda dariku Andelona tampak tidak memiliki kesulitan.
Aku duduk selagi menghela nafas panjang.
Tubuhku cukup menerima luka, Andelona juga memiliki hal sama, potion akan sedikit mengobatinya.
"Kau baik-baik saja Andelona?"
"Kamu bercanda, ini sangat menyenangkan."
Salahku mengkhawatirkannya.
"Apa Hoshimiya bisa menggunakan pedang."
"Aku tidak terbiasa tapi akan kucoba."
"Cassiopeia."
"Oke."
Cassiopeia memberikan benda yang disebut Light Saber padanya.
"Pedangnya dibuat dari laser cukup berbahaya loh, Weis kau juga ingin menggunakannya."
__ADS_1
"Pedangku cukup kesulitan melawan monster seperti ini, jadi aku ingin satu."
"Tentu."
Itu hanya sebuah pegangan pedang kosong, saat aku menekan tombolnya pedang cahaya tercipta.
"Ini hebat. Mari beristirahat beberapa hari, aku yakin ada monster sekelas bos di lantai berikutnya."
Semua orang mengangguk mengiyakan.
Ada sebuah kolam air panas di lantai ini maka dari itu kami tidak akan melewatkannya, aku lebih dulu berendam dan kemudian disusul ketiga gadis tersebut.
"Ada apa Weis, kau terpesona dengan tubuh kami?"
Aku bisa melihat semuanya, tidak ada kabut putih atau cahaya ilahi di sini.
"Tidak, kupikir kalian akan berendam dengan handuk atau pakaian dalam."
Mereka tertawa.
Apa aku mengatakan hal salah.
"Hal seperti itu hanya akan dilakukan oleh gadis polos, kami tidak seperti itu," Cassiopeia mengatakannya dengan bangga.
Aku lupa mereka tidak normal.
Yah biarkan saja, aku cukup senang melihat pemandangan seperti ini, apalagi tiga gadis yang saling mencipratkan air membuat perasaan hangat di hati juga.
__ADS_1