
"Itu bukan hanya efek dari ESD saja melainkan kekuatan dari zirah besinya, yang mencakup area sekelilingnya."
"Begitu, apapun itu akan kuhancurkan."
Aku kembali menerjang ke depan, mengayunkan dua pedang dari bawah ia menangkisnya melalui pedang lasernya hingga menciptakan percikan kembang api ke udara.
"Fuhaha Ichi yang hebat ini akan memberikan bagaimana batas kekuatanmu."
Dia menendangku hingga Nemesis terjungkal ke belakang, tepat saat aku mencoba bangkit dia mengayunkan pedangnya dan aku buru-buru menahannya.
Dua pedang lebih baik dari pada satu.
Aku memberikan serangan balasan sayangnya mampu ditahan oleh medan pelindungnya hingga hanya aku yang menerima kerusakan.
"Bahu mengalami kerusakan mal fungsi 20 %."
Qiora akan dengan jelas memberitahukan hal itu padaku.
"Ini cukup sulit."
"Sepertinya begitu, jika kau menggunakan sihir, ESD akan memblokirnya kekuatan pelindungnya cukup kuat untuk menahannya dan jika kau menyerang secara langsung efek dari zirah akan menangkisnya."
"Apa kau memiliki satu cara?"
"Beri aku waktu beberapa menit."
"Baiklah."
Aku bisa melihat Cassiopeia sedang menganalisa sesuatu lewat komputernya sementara itu aku hanya bisa menghindar dan menangkis serangan musuhku.
"Kenapa? Kau tidak menyerang, tunjukan kemampuanmu Haha."
Orang ini jelas berusaha memancingku untuk bergerak, dia cukup ahli dalam serangan balik, sudah jelas dia sangat mengandalkan pelindung tersebut sebagai counter.
Jika soal permainan pedang dia cukup amatir.
__ADS_1
Dentrang.
Unit Zeltras musuh menggunakan roket pendorong dan menjadikan dinding pelindungnya sebagai serangan untuk menabrakku secara langsung.
Aku terdorong ke belakang di mana di belakangku hanya ada sebuah jurang. Aku menggunakan roket yang sama untuk menahannya.
Rasanya seperti menangkap seekor banteng secara langsung.
"Sampai kapan kau bisa bertahan."
"Cassiopeia apa masih belum selesai?"
"Sebentar lagi Weis."
"Master? Ini keadaan darurat jika terus begini anda akan jatuh."
"Aku tahu."
"Aku akan mengirim datanya."
"Sekarang."
Aku menarik tuas di tanganku untuk menggunakan roket pendorong secara maksimal hingga Ichi terlempar ke belakang.
"Apa?"
Dua pedang di tanganku berubah menjadi meriam dan masing-masing menembakan peluru ke arahnya.
"Kau masih belum sadar serangan seperti itu tidak akan berguna untukku."
"Memang tidak berguna paling tidak aku memiliki waktu."
"Penginstalan perangkat telah selesai, apa master ingin menggunakannya?"
"Tentu saja."
__ADS_1
Dari atas langit sebuah material mulai membentuk dirinya berubah menjadi sebuah meriam yang kuambil lewat tanganku.
"Ini?"
"Meriam ini menggunakan program untuk memecahkan ESD, jika kau mengunakannya pelindungnya akan hancur jika efek zirah aku rasa sihirmu bisa melakukannya."
"Sesuai yang diharapkan darimu Cassiopeia."
"Puji aku lebih banyak nanti."
Aku menembakan meriam di tanganku dan itu mengenai targetnya dengan baik. Ichi tampak bangga dengan kemampuannya dan seketika sistem ESD miliknya telah dinetralkan.
"Menarik tapi paling tidak aku memiliki pertahanan yang lain, kau tidak akan bisa."
Dia berhenti di sana saat melihat beberapa lingkaran sihir muncul di depanku.
"Bagaimana bisa, bukannya itu."
Berbeda saat melawan unit Zeros milik Demon Lord Terrytory, unitnya memang dibilang kuat. Tapi jika sihir seperti ini aku pasti meragukannya.
[Aku pikir aku tidak punya kesempatan untuk ujuk gigi]
"Jangan khawatir Casandra aku selalu mengandalkanmu loh."
[Itu membuatku senang]
"Inferno," tepat saat aku mengatakannya api meluncur padanya hingga dalam sekejap itu menghancurkannya dan hanya menyisakan teriakan di akhir.
"Aaaargh."
"Tanda kehidupan sudah dikonfirmasi telah lenyap, master pemenangnya."
"Barusan pertarungan yang cukup melelahkan."
Jika raja langit lainnya memiliki benda yang sama sekarang itu bukan masalah.
__ADS_1