Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat

Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat
Chapter 32 : Kota Restorasi


__ADS_3

Setelah Hoshimiya tenang kami melanjutkan perjalanan kembali, di jalanan yang sepenuhnya datar aku memacu mobil semakin cepat.


"Ini terlalu cepat Weis," kata Cassiopeia.


"Bagaimana jika kau menengok ke arah belakang kita, baru katakan itu lagi."


"Uwah makhluk apa itu?"


Seekor kadal raksasa sedang mengejar kami. Bahkan dengan kecepatan 120 km/jam makhluk ini hampir bisa menyusul kami.


Aku membanting stir ke kiri tepat saat mulutnya hampir menerkam kami.


"Itu nyaris sekali, apa kau bisa menghindarinya Weis?"


"Itu mustahil instruktur, lebih baik kau turun dan cobalah untuk mengalahkannya."


"Tidak ada guru yang turun tangan saat muridnya dalam kesusahan, anggap saja ini latihan."


Orang ini.


Aku memarkir mobil dan kami berempat turun untuk melawannya. Cassiopeia mengeluarkan bom-bom asap dari sihir penyimpanannya untuk dilemparkan pada kadal tersebut. Di saat yang sama Hoshimiya berlari mundur untuk mencari jarak aman demi menembak dan hanya menyisakan aku, Cassiopeia dan juga Andelona di garis depan. Mulut kadal mengintip dari asap.


Giginya yang berjeruji menampilkan air liur yang beracun.


"Komodo dragon, makhluk merepotkan loh."


"Aku bisa melihatnya."


"Apapun itu, yang terpenting tubuhnya bisa mengeluarkan darah."


Kadal tersebut menerjang ke depan kami, aku menggunakan sihir pelindung dan saat menabrak dinding pelindung tersebut itu menghasilkan getaran keras.


Andelona menyeringai untuk berlari ke samping di saat yang sama Cassiopeia membawa meriam di tangannya.

__ADS_1


Pelindung dihilangkan dan menciptakan lingkaran sihir api.


"Hellfire."


Api ditembakkan membuatnya terjungkal ke belakang.


"Dibanding di dungeon itu, ini tidak terlalu sulit."


"Bilang itu jika kita sudah mengalahkannya," teriak Cassiopeia pada Andelona.


Terhadap Andelona yang mempersempit jarak, kadal tersebut menarik kaki depan untuk menginjaknya, sebelum dia bisa melakukanya meriam Cassiopeia menghalaunya sebelum Andelona menggunakan gergajinya untuk memotong tubuh musuh dari leher.


Dia berhenti di udara.


"Are, dagingnya sangat keras."


Tubuh Andelona dilemparkan dan aku membiarkannya melewatiku begitu saja.


"Cassiopeia terus tembak."


Lima tembakan meluncur padanya.


"Graaaagh."


"Kau keras kepala sekali."


Aku melompat demi menusukan pedangku sebelum kembali melompat untuk menjaga jarak.


Peluru timah menembaki dari kejauhan sayangnya sama seperti yang telah kami lakukan kulitnya terlalu keras. Kami secara serempak menghindar serangan brutal yang dilancarkannya sebagai balasan.


"Apa, apa, apaan ini?"


Cassiopeia panik, tanah di pijakannya terbang ke langit bersama dirinya di atasnya. Tepat mulut itu hendak menerkamnya aku melompat untuk menyelamatkannya.

__ADS_1


"Weis, kau pahlawanku."


Aku hanya tersenyum masam padanya dan melihat Andelona masih sibuk mengurus kadal tersebut sendirian.


Adapun Sento Maria sedang duduk di atas kap mesin selagi menikmati teh di tangannya.


"Jangan sampai terbunuh loh."


Mari abaikan saja.


Aku menurunkan Cassiopeia dan mulai mengubah taktik, Hoshimiya yang menyadari serangannya tidak berpengaruh memutuskan untuk menggunakan Eternal Suit, penampilannya selalu mempesona.


Dia terbang ke langit dimana meriam di punggungnya diarahkan ke bawah untuk menembakinya dari sana yang mana bergantian dengan serangan Andelona.


Itu cukup kuat untuk membuat kulitnya terkelupas.


Hoshimiya menggunakan light saber sebagai senjata utama dan kami bertiga menyerang secara bersamaan.


Mulut kadal tersebut menyemburkan racun tapi aku tidak peduli dan terus menerjang ke depan.


Aku telah menggunakan ramuan penawar racun dan bekerja selama tiga menit, sebelum racunnya bekerja aku harus meminumnya kembali.


"Andelona, Hoshimiya, serang terus bagian lehernya."


"Dimengerti."


Jika kami terus mengikis bagian sana lambat laut daging keras tersebut akan bisa ditebas, setelah 15 menit serangan berturut-turut serangan tebasanku memenggal kepalanya dan jatuh tanpa daya.


Sento Maria hanya bertepuk tangan untuk kami.


Dia sama sekali tidak berguna.


Kami benar-benar tidak ingin bertemu dengan makhluk seperti ini lagi. Setelah melanjutkan perjalanan kembali akhirnya kami bisa melihat sebuah kota besar di depan kami.

__ADS_1


Itu adalah kota Restorasi yang menjadi tempat misi kami berlangsung.


__ADS_2