
Kami mendarat di pasir putih dengan selamat, Hoshimiya kembali ke pakaian seragam akademinya dan bersama-sama mulai memasuki daerah hutan yang hampir semuanya ditumbuhi pohon kelapa.
"Aku ingin satu Weis, tolong ambilkan."
"Baiklah."
Aku mengambil satu yang mana kuberikan padanya setelah membelah bagian atasnya.
"Lihat Weis ukuran kelapa ini sama dengan ukuran dadaku."
"Tolong jangan merayuku di saat seperti ini."
"Fufu aku suka melihat Weis yang memerah."
"Sekarang di mana Talia berada."
Kami sedikit berjalan lebih jauh dan di sana, di atas batu seorang wanita sedang duduk selagi memainkan kelopak bunga di tangannya, ia memiliki rambut biru dengan telinga runcing yang dihiasi anting-anting perak.
Tubuhnya yang kurus ditutup dengan gaun biru dan memperlihatkan seluruh belahan dadanya.
"Apa ada yang bisa kubantu untuk kalian berdua?"
Ia memiliki empat tanduk di kepalanya karena itu tidak mungkin seseorang tidak mengenalnya, dia seekor naga laut.
Hoshimiya mengembungkan pipinya.
"Dia cantik."
"Lama tak bertemu Talia, aku pikir laut jadi seperti ini memang ulahmu."
"Kenapa kau berbicara akrab denganku mencurigakan."
Aku lupa dia memang sangat curigaan.
(Casandra cepatlah keluar dan katakan sesuatu)
(Hehe, aku ingin menikmati ini lebih lama lagi, lagipula dari kita semua dia paling sulit mempercayai siapapun)
__ADS_1
(Ini tidak lucu)
"Aku tahu, mungkin kau pria yang mengaku-ngaku dan saat aku lengah kau akan menghamiliku, mencurigakan."
"Di sini kaulah yang paling mencurigakan, lagipula aku ini pemilikmu."
"Aku hanya punya satu kontrak seumur hidupku tidak ada siapapun yang bisa menggantikannya... bukannya aneh memercayai pria yang membawa wanita berdada besar ke pulau kecil sangat mencurigakan."
Hoshimiya membalas dengan nada merayu.
"Kami berniat membuat bayi di sini."
"Sudah kuduga, wanita ini juga sangat mencurigakan kenapa dadanya sebesar itu, apa dia suntik silikon."
"Apa yang kau katakan, ini asli."
"Aku harus memeriksanya."
Dan mereka saling menyentuh bagian itu.
Aku yang memperhatikan hanya mendesah pelan hingga Casandra muncul dari tubuhku.
"Tiba-tiba Casandra muncul.. sangat mencurigakan, setahuku dia tinggal di dalam dungeon."
Orang ini.
"Kau meragukanku, bagaimana kalau kita bertarung untuk membuatmu yakin?"
Talia menyeringai.
"Dengan senang hati."
Pulau kecil ini telah menjadi area pertempuran mengerikan, ledakan di mana-mana, pasir berhamburan ke udara, beberapa pohon juga tumbang, sementara itu aku dan Hoshimiya menonton selagi meminum air kelapa.
"Kau bisa memakan bagian isinya Hoshimiya?"
"Aku tidak terlalu suka."
__ADS_1
"Begitu."
Beberapa jam berlalu keduanya saling menatap satu sama lain dengan tubuh babak belur.
"Tak kusangka ternyata itu kau Casandra."
"Dari awal aku sudah bilang bukan, dan pemuda di sana adalah tuan kita yang sudah bereinkarnasi."
"Sulit dipercaya tapi kurasa kau mengatakan yang sejujurnya."
Pada akhirnya keduanya roboh secara bersamaan.
"Sudah kuduga akan jadi seperti ini," kataku mendekat ke arah Casandra lalu ke arah Talia.
"Aku senang tuan sudah kembali, tolong buat kontrak denganku lagi."
"Tentu saja, dari awal aku memang bertujuan seperti itu... kalian semua, orang-orang yang berharga untukku."
"Aku senang tuan."
Talia berubah menjadi buku kemudian masuk ke dalam tubuhku bersama buku Casandra.
(Apa tubuh Anda baik-baik saja tuan?)
(Tak masalah)
(Tubuh Anda yang sekarang sedikit lebih lemah)
(Aku hanya perlu berlatih lagi)
Mereka secara bergantian mengkhawatirkanku.
Hoshimiya bertanya.
"Apa kita akan kembali terbang dengan Eternal Suit lagi?"
"Tidak, kurasa biar mereka yang menjemput kita."
__ADS_1
Aku mengarahkan tanganku dan dalam sekejap mata laut mengamuk menjadi laut yang tenang dimana ikan-ikan melompat di atasnya.