Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat

Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat
Chapter 50 : Senyuman Cerah


__ADS_3

Dari atas sini aku bisa merasakan hembusan angin yang jauh lebih kuat, ada beberapa penjaga di sana, sebelum mereka bergerak Cassiopeia yang lincah menggunakan Stun Gun di tangannya yang mana membuat mereka tak sadarkan diri.


Sejak awal aku selalu kagum dengannya, aku sempat memikirkan seperti apa kota mesin dimana dia dilahirkan namun itu sia-sia saja.


Hoshimiya menembak beberapa orang yang keluar untuk menyergapnya, dibantu Sento, Andelona mereka menjatuhkan musuh dengan cepat. Sisanya adalah aku dan Eoni.


Aku menendang pintu di mana kepala penjaga benteng ini berada, dia sedikit memekik terkejut dan hendak mencoba melompat dari jendela namun aku lebih dulu menariknya jatuh ke lantai, ketika dia ketakutan, Eoni duduk di atasnya selagi memamerkan pisau di tangannya.


"Apa sebaiknya aku menusuk jantungmu dengan ini?"


Yah, itu cukup menakutkan.


"Tunggu, apa yang kau inginkan?"


"Aku ingin kau membuat dua benteng yang lain menyerah akan kakakku dan mendukungku sebagai penerus selanjutnya."


"Bukannya itu pengkhianatan."


"Bodoh, apa kau masih mau mendukung kakakku dia secara perlahan menghancurkan negara ini, padahal seharusnya kerajaan Aloysius akan baik-baik saja karena kita tidak berada di pertarungan depan melawan Demon Lord Terrytory tapi kondisinya malah lebih buruk dari sekarang."


"Ugh, soal itu."


"Kau juga mengerti bukan, hanya menunggu waktu semua orang menjadi sengsara dan tempat ini jadi tidak layak untuk orang lain."


Kakak bodohnya telah meningkatkan pajak, memperjual belikan budak serta memanipulasi banyak perekonomian, dengan alasan itu saja cukup membuat kerajaan lain menyerang tempat ini.


Eoni terbilang beruntung karena kami datang untuk memperbaikinya sebelum dewan pengawas bertindak.

__ADS_1


"A-aku mengerti, akan kulakukan."


"Baguslah."


Eoni bangkit dengan senyumam nakal, dia seperti seorang putri yang sudah lama hidup di alam liar.


Aku kagum.


Dalam waktu singkat balasan diterima kami kembali.


"Seluruh benteng sudah menyepakatinya mereka sudah siap menyerang ibukota di waktu bersamaan."


"Semudah itu?"


"Aku rasa semua orang sudah memikirkan hal ini sejak lama sayangnya kami tidak memiliki alasan untuk bergerak saat nona Eoni dikalahkan tapi sekarang sepertinya semua orang memiliki harapan baru."


Aku senang semuanya berjalan dengan baik.


Di atas tembok aku duduk untuk melihat matahari terbit, aku lebih awal bangun dan kesulitan untuk tidur kembali jadi kuputuskan untuk melakukan hal ini.


Setelah persiapan, kami akan segera maju untuk menyerang ibukota pusat. Andelona muncul dari arah belakangku dengan pakaian seragam militernya.


"Masih terlalu pagi untuk bangun Weis."


"Bukannya kau juga?"


"Aku selalu melihat matahari terbit jadi bagiku ini sudah biasa."

__ADS_1


"Kau serius?"


"Tentu saja, apa ada yang aneh?"


Aku memang pernah melihat Andelona tidak ada di kamarnya, jadi ini alasannya.


"Di desaku cukup suram karena itu saat melihat matahari sangat mencerahkan."


Aku sudah mendengar keseluruhan cerita tentang Andelona yang ingin menebang pohon yang ada di wilayahnya, meski dia hanya seorang pembunuh berdarah dingin aku ingin membantunya sebagai sesama rekan tim.


"Kalau Andelona tidak keberadaan, bagaimana kalau lain kali kita pergi ke desamu?"


Andelona terkejut.


'Weis itu tiba-tiba, apa jangan-jangan kau mau melamarku."


"Bukan itu, bukannya kau berniat untuk menebang pohon yang mengganggumu aku pikir sudah waktunya untuk melakukannya."


"Tapi aku belum yakin."


"Kalau begitu aku berjanji setelah ini mari pikirkan caranya."


Andelona menangis secara tiba-tiba, aku berfikir apa aku salah berbicara namun Andelona tersenyum ke arahku.


"Ini pertama kalinya ada orang yang mengatakan hal seperti itu padaku, aku berterima kasih."


Dibandingkan matahari terbit, senyumam Andelona lebih cerah dari apapun.

__ADS_1


__ADS_2