Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat

Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat
Chapter 54 : Pertempuran Akhir Di Kerajaan Aloysius Bagian Empat


__ADS_3

Hoshimiya dan Cassiopeia telah menyelesaikan pertarungan mereka kini Sento juga mengalami pertempurannya sendiri.


Sento menarik dirinya mundur saat dua tebasan dari kapak raksasa berusaha memotongnya secara zig-zag, dia menahan salah satunya kemudian merubah posisinya dari bertahan menjadi menyerang dalam waktu singkat.


Percikan dari benturan logam memantul di udara dan dengan sedikit gerakan Sento menendang tubuh pria musuhnya hingga meluncur sejajar dengan tanah.


Sebagai instruktur Akademi Sento sudah mengalami banyak pertarungan entah sulit atau tidak ia berhasil melewatinya dengan nilai baik, bukan tidak ada alasan bahwa dia ditunjuk sebagai instruktur untuk kelompok Weis, semua itu karena dia sangatlah kuat terlepas dari sifat mesumnya.


Pria bernama George bangkit, meludah untuk membuang darah dari mulutnya, dia seorang pilar dari kerajaan ini dan termasuk yang paling kuat diantara semuanya.


"Aku terlalu meremehkan instruktur akademi, kau benar-benar kuat."


"Kami ditunjuk bukan karena memiliki orang dalam, melainkan kami dipilih karena kemampuan kami."


"Aku mulai penasaran."


George menyelimuti kapak besarnya dengan api, ketika dia mengayunkan di udara tebasan api mirip bulan sabit meluncur ke arah Sento. Dia tidak bergerak sebagai gantinya menangkis melewati pedangnya yang mampu memantulkan seluruh tebasan itu ke samping.


George melesat maju dan begitu juga Sento, mereka kembali membenturkan senjata mereka di udara, Sento memiliki pergerakan yang cepat melebihi George namun dalam segi kekuatan dia lebih lemah dari yang dibayangkan.


Sento menarik dirinya ke bawah dan bangunan di belakangnya terbelah dua bagian, dia berputar dan menggunakan teknik tusukan.


George tidak sempat mengantisipasinya dan ujung pedang itu menembus bahunya, dia sempat membalas dengan kapak namun pergerakannya membuat pedang semakin dalam.

__ADS_1


"Aargh."


Sento menarik pedangnya lalu menendang kedua kapak tersebut agar terlepas dari penggunanya kemudian memberikan tendangan untuk membuatnya terhempas menabrak bangunan.


Ketika dia hendak bangun ujung pedang ditaruh di lehernya.


"Jika kau bergerak aku tidak segan untuk memenggal kepalamu."


"Ba-baik."


Ini kemenangan telak baginya.


Sementara itu Andelona melawan pria bernama Tarot yang ahli dalam penggunaan perisai berduri.


Tak hanya menahan, perisai itu juga bisa dilemparkan seperti sebuah roda, Tarot terkejut dibanding menghindarinya musuhnya malah menangkapnya dengan tangan kosong, walau darah menetes dari sana Andelona menyeringai dengan menakutkan.


Tarot memucat dan pada akhirnya memilih menyerah, jika dia melanjutkannya tidak aneh jika dia akan dibunuh.


Andelona sedikit kecewa tapi dia jelas tidak memiliki alasan untuk melakukannya, jika Weis tahu ia mungkin akan dibenci.


"Apa boleh buat, aku akan mengampuni nyawamu."


"Baik."

__ADS_1


"Kalian, ikat orang ini juga."


"Kami mengerti."


Pertarungan Andelona lebih cepat dari siapapun.


***


Aku menghindari serangan dari raja yang sudah tidak berfikir jernih lagi, setiap dia kalah dia akan meningkatkan kutukan padanya.


Talia mengasihani sosoknya.


(Tuan, lebih baik ada segera menyelesaikan ini, atau umurnya akan jauh lebih berkurang)


(Talia benar)


Yang jelas kutukan itu telah menelannya.


Tubuhnya mulai terselimuti kegelapan dan secara membabi buta menyerangku, ketika seseorang kehilangan akalnya dia bukan lagi ancaman bahkan jika kekuatannya lebih kuat dariku.


Aku mengayunkan pedangku dan darah menyembur dari tangannya yang terpotong.


"Aaaargh, tanganku?"

__ADS_1


Dengan tebasan akhir aku memotong mahkotanya menjadi dua bagian dan dalam sekejap raja menyedihkan ini jatuh ke lantai.


"Kurasa sudah akhirnya, dengan ini kau diturunkan dari tahta," perkataanku telah menghilangkan keinginannya untuk bertarung.


__ADS_2