Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat

Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat
Chapter 41 : Pertempuran Di Pelabuhan Bagian Dua


__ADS_3

Sento mendobrak pintu utama dengan kakinya yang mana membuat benda itu melayang ke tengah ruangan, aku bisa melihat dua orang sedang berdiskusi di meja mereka salah satu adalah pria gemuk dengan kepala plontos dan kumis melingkar di wajahnya yang terkesan penjahat sesungguhnya dan satu lagi pria dengan zirah besi seperti milik Ichi.


Tidak berlebih jika dialah orang yang dimaksud dengan sebutan Ni.


"Bukannya kau Sento Maria?"


"Hoh kau tahu tentangku."


Sento menyeringai layaknya iblis yang menemukan mangsanya.


Sebelum kami berdua bergerak pria bernama Ni berlari menghancurkan jendela dengan tubuhnya lalu berlari ke unit Zeltras miliknya.


Bangsawan juga hendak melakukan hal sama namun langsung dicegah oleh Sento yang melakukan tendangan pembunuhnya, tubuhnya terbang menabrak dinding dengan keras sebelum akhirnya pingsan.


Aku bisa merasakan rasa sakitnya.


"Aku akan mencari bukti di kediaman ini setelah mengikatnya, Weis."


"Aku tahu."


Aku melompat ke luar perkarangan, memunculkan Nemesis dari sihirku kemudian masuk ke dalamnya dan melihat pria sebelumnya telah bersiaga dalam mode bertarung, lucu karena dia menggunakan skop dibandingkan pedang.


Nomor 2 tertulis di tubuhnya.


"Apa itu robot penggali tanah?"


"Sepertinya begitu master, modelnya sama seperti sebelumnya."


"Dengan kata lain aku bisa mengalahkannya dengan cepat."


"Kau ini banyak bicara, hanya siswa akademi mana mungkin bisa mengalahkanku."


"Mau dicoba."

__ADS_1


Suara logam berat terdengar saat musuh berlari ke arahku, aku menarik dua pedangku lalu mengayunkan doubel slash padanya.


"Hehe pelindungku tidak bisa dihancurkan dengan mudah."


"Kau terlalu percaya diri jadi akan kuberitahu, orang bernama Ichi sudah aku kalahkan... dia mungkin sudah menunggumu di alam sana."


"Apa?"


Dia menusukan skop yang bisa kuhindari dengan mudah, berkat Cassiopeia, Nemesis sudah pulih, tidak seperti sebelumnya aku tidak akan membiarkannya mengalami rusak berat.


Aku berlari menjauh setelah memasukkan kembali pedangku pada sarungnya, meriam muncul secara otomotis di tangan Nemesis.


Satu tembakan menghilangkan ESD-nya dengan mudah.


"Apa-apaan barusan?"


"Qiora buka ruang kokpit."


Seperti yang kuminta ruang kokpit terbuka dimana aku berdiri di sana selagi berpose penuh kemenangan.


"Ini sudah akhirnya."


"Apa kau bercanda, apa kau sedang mempermainkanku hah."


"Tidak juga."


Dia berlari dengan unitnya sementara aku mengulurkan tanganku padanya, aku tidak hanya bermain-main saja di akademi aku juga selalu berlatih untuk menggunakan sihir berbeda.


"Gravitation."


Lingkaran sihir muncul di bawah kaki unit musuh, tubuhnya tertarik ke bawah memastikan bahwa dia tidak akan bisa bergerak kembali.


"Mustahil, kenapa ESD milikku tidak bisa memblokir sihir."

__ADS_1


"Kau penasaran?"


"JANGAN BILANG TEMBAKAN MERIAM SEBELUMNYA."


"Tepat sekali, unit kalian tidak terlalu kuat maka dengan satu sihir sudah cukup."


Aku memunculkan sihir api lalu menembakannya padanya hingga entah unitnya atau pemakaiannya dikonfimasi telah mati.


"Satu lagi yang sudah kukalahkan, jika saja mereka tidak mengunakan zirah pelindung aku mungkin bisa sedikit menikmati pertarungan pedang."


"Master, apa master maniak bertarung?"


"Tentu saja tidak, aku hanya sedikit bosan mengalahkan musuh dengan cara ini."


"Itu artinya master maniak."


Aku hanya tersenyum masam sebagai balasan, setelah ini tinggal menyelamatkan para budak yang berada di sepanjang gang itu, saat aku berjalan dengan Sento mereka semua berhamburan dan di sinilah peran mereka dimulai.


"Aku cukup bosan karena tidak ada yang datang kini banyak orang yang kemari huaha."


"Kau ini raja iblis kah."


"Weis di sini juga cukup banyak, dengan stun gun milik Cassiopeia aku dengan mudah menjatuhkan mereka."


"Kerja bagus kalian berdua."


Aku memutuskan obrolan dan melihat bagaimana jeruji itu dipotong oleh pedang Sento.


"Kalian sudah aman."


"Te-terima kasih."


Masih banyak hal yang misterius tentang Sento Maria.

__ADS_1


__ADS_2