Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat

Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat
Chapter 80 : Kedamaian (Tamat)


__ADS_3

Aku mengganti pedangku dengan meriam dan menembaki setiap robot musuh yang bersembunyi di bebatuan.


Sosok Hoshimiya muncul dari dalam monitor.


"Gawat Weis, Andelona kumat... dia mengamuk."


"Yah, aku bisa melihatnya sekarang."


"Haha bunuh, bunuh."


Dia memang seperti itu.


Di radarku masih tersisa 10 robot lagi tapi di mana jenderal yang satu lagi. Cassiopeia memotong.


"Weis ubah radarmu untuk mencari di bawah tanah."


"Ah jangan bilang."


Tepat seperti apa yang dikatakan Cassiopeia dia berada di bawah. Dia menggunakan unit berbentuk tikus tanah.


"Hoshimiya coba pancing tikus tanah itu keluar dan Sento akan menembak sekarang."


"Dimengerti."


"Untuk Andelona biarkan saja."


Kokpit terbuka dan aku melompat turun bersama Cassiopeia di pangkuanku.


"Kurasa kita tidak perlu terlibat sekarang, mari buat makanan saja."


"Fufu itu ide bagus."


Ketujuh buku di dalam tubuhku keluar dan turut membantu juga. Di belakangku terdengar bunyi ledakan tapi kami semua jelas mengabaikannya.


"Sento aku berhasil memancingnya."


"Serahkan padaku."


Baam.


Yang terakhir itu adalah ledakan yang luar biasa. Setelah hidangan selesai mereka juga bergabung dengan kami.


"Rasanya lebih enak, apa ini rasa perdamaian."


"Aku yakin tidak ada rasa seperti itu," kataku pada Hoshimiya.


"Casandra jangan makan ikannya saja makan sayurannya."


"Tidak, aku hanya ingin makan ini."

__ADS_1


Kami bersenang-senang sebelum kami melaporkan hal yang terjadi di sini setelahnya, walau ratu Elvira menawari tubuhnya aku jelas menolak, wanita selalu berterima kasih seperti itu sungguh menakutkan.


"Sepertinya tuan terbentur sesuatu."


"Mari periksa dia ke dokter."


"Perkataan kalian terkadang menyakitkan."


Yah, yang terpenting semuanya berjalan dengan lancar.


Bahan makanan telah diberikan pada pasukan untuk dikirim ke bagian depan peperangan, dengan berakhirnya jenderal Demon Lord Terrytory maka mereka akan jauh lebih bersemangat.


Kami juga akan ikut tapi setelah aku puas memakan nasi.


"Tolong tambah lagi."


"Baik."


Elma yang melakukannya dan Lumia menaruh beberapa acar di mangkukku.


"Berikan aku dagingnya."


"Aku tidak akan memberikannya."


"Kau hanya memakan yang kau suka dan memberikan apapun yang tidak kau sukai."


Pelayan pribadi Lumia juga malah turut menaruh sesuatu di mangkukku.


Di hari berikutnya kami pergi ke wilayah pusat Demon Lord Terrytory.


Semua pasukannya telah dipukul mundur dan dengan mudahnya aku, Sento, Hoshimiya Cassiopeia dan juga Andelona masuk ke dalam kastilnya.


"Semuanya berjalan lancar apa ada jebakan?" aku sempat meragukan hal itu namun sampai ke ruang singgasana semuanya aman.


Di sana duduk sendirian seorang pria tua dengan jubah dan mantel.


"Kalian sudah datang."


Kami menarik senjata kami namun pria yang disebut raja Iblis tidak bergerak, seolah sinar kehidupannya telah direnggut semuanya.


Kami semua kembali memosisikan diri untuk menyimpan senjata kami.


"Kau tidak akan melawan kami."


"Untuk apa, kami sudah kalah dan aku sudah tidak ingin terlibat dalam pertarungan lagi namun sebagai gantinya bisakah kau mengabulkan satu permintaanku."


"Apa itu?"


"Para rakyatku tidak salah semuanya adalah keputusanku, aku ingin mereka bisa hidup tanpa mendapatkan diskriminasi apapun dan secara mandiri mendapatkan kebebasannya."

__ADS_1


"Aku mengerti, atas namaku Weis Either, aku akan melindungi mereka."


"Terima kasih."


Aku berjalan untuk menaiki tangga, ras iblis melakukan invasi karena mereka ingin mendapatkan tanah subur, sayangnya itu hanya membawa semuanya pada bencana.


Kalau saja dia memilih jalur damai dan menyakinkan setiap negara membantunya hal ini tak perlu terjadi.


"Selamat tinggal, beristirahatlah dengan tenang."


Aku menatap kembali sosok raja iblis yang terkulai lemas di singgasananya, sebuah pedang menancap di jantungnya sementara ekpresi yang ditunjukannya adalah sebuah senyuman tipis.


Beberapa bulan berikutnya istana kerajaan telah dibangun kembali, Lumia dikagumi sebagai ratu terbaik sementara aku tak hanya dijadikan raja, mereka benar-benar mengangkatku sebagai Raja Penyihir.


Setiap ada pertanyaan tentang sihir mereka akan senang memintaku untuk membantu, meski merepotkan hal itu juga yang membuatku dengan mudah melindungi ras iblis agar mereka bisa hidup layak.


Kini mereka memiliki wilayah sendiri yang nyaman untuk ditinggali.


Sebagai Raja penyihir aku juga memberikan beberapa metode baru lewat buku yang kutulis dan seiring waktu, sihir mulai mendapatkan kedudukannya kembali.


Para robot untuk berperang telah dihilangkan dan hanya digantikan alat transportasi udara dan darat untuk memastikan orang-orang bisa berpergian jauh.


Kami ingin mencegah bahwa unit Zeltras tidak akan digunakan sebagai alat berperang lagi.


Tentu aku tidak bisa menghilangkan Qiora karena itu Cassiopeia kini mengubahnya sebagai robot berbentuk manusia yang disebut android.


Dia benar-benar ahli dalam pekerjaan rumah tangga lalu selama di akademi kami menjalani hidup santai hingga saat lulus dari akademi aku resmi menikahi Hoshimiya.


Aku mengulurkan tangan padanya.


"Yang lain sudah hamil, tapi aku baru menikah."


"Kau juga bisa menyusul nanti bukan."


"Memang benar."


Aku ingat pertama kali aku bertemu dengan Hoshimiya dan kini kehidupanku benar-benar berubah, kami berjalan ke dalam mansion dan ketika pintu dibuka semua orang telah menyambut kami.


Kami hanya pergi bulan madu beberapa hari tapi kurasa mereka sudah merindukan kami.


"Kalau begitu mari berpesta sebagai perayaan kalian berdua."


"Bersulang."


Dewi juga mengambil tempat untuk dirinya sendiri dengan gelas bir di tangannya.


Dari sini hanya akan ada kedamaian yang menanti.


Tamat.

__ADS_1


__ADS_2