
Malam harinya aku dan Hoshimiya tidur seperti biasa meskipun aku memang memeluknya dari dalam selimutku tanpa melakukan hal lainnya.
Aku mendengar percakapan Cassiopeia dan Andelona tapi aku putuskan untuk tidur saja.
"Cassiopeia kau tidak cemburu, aku juga ingin dipeluk."
"Hal itu kita pikirkan nanti, yang lebih penting apa kau tahu siapa yang harus kau kalahkan besok?"
"Tidak, karena terlalu malas aku tidak peduli, siapapun akan kuhancurkan."
"Itu semangat yang bagus tapi jangan sampai musuhmu terbunuh... aku yakin mereka pasti akan memakai unit Zeltras."
"Hoh, bukannya itu kesempatan baik.. aku ingin sekali mencoba melakukan hal bagus dengan gergaji buatanmu."
"Iya."
Setelah saling merapikan rambut keduanya tidur bersebelahan.
"Aku sedikit penasaran, kenapa Andelona masuk ke dalam akademi? Biasanya gadis sepertimu lebih suka pergi ke guild petualang atau sebagainya."
"Apa maksudmu karena aku dari desa atau karena aku bukan anggota bangsawan."
"Tidak, bukan itu maksudku.. semua orang bebas melakukan apa yang mereka inginkan, hanya saja jika itu akademi militer aku yakin ada sesuatu yang coba ingin kau raih, misalkan Weis ingin menjadi seorang Raja Penyihir, Hoshimiya ingin hidup dipenuhi banyak uang di masa pensiunnya dan kau?"
"Kalau Cassiopeia mengatakan tujuannya maka aku juga tidak akan menolak untuk memberitahukannya."
Cassiopeia menutup matanya sesaat sebelum membukanya kembali.
__ADS_1
"Aku datang kemari hanya karena bosan, tempatku sebelumnya hanya tempat yang menjengkelkan."
"Begitu, kalau aku... apa Cassiopeia pernah mendengar pohon Ideasil."
"Pohon yang mengambil kehidupan di sekitarnya."
"Benar, aku adalah putri dari seorang penebang kayu dan kebetulan rumahku terkena dampaknya juga, karena berada paling jauh kami masih hidup dengan layak... sebenarnya aku punya impian, aku ingin bisa menebang pohon itu dengan kemampuanku, aku pikir jika aku pergi ke akademi suatu hari aku pasti bisa melakukannya."
"Jadi begitu."
Keheningan terasa diantara keduanya sampai suara nakal Hoshimiya terdengar jelas, biasanya mereka berdua lebih dulu tidur jadi mereka tidak pernah mendengar hal itu.
"Ugh.... sepertinya dia sangat menikmatinya."
"Aku sangat iri."
Itu adalah sebuah area Colosseum di mana setiap bangkunya telah terisi para penonton yang mayoritas merupakan siswa akademi itu sendiri. Para instruktur memiliki tempat khusus yang mana mereka duduk bersama dengan kepala sekolah serta putri dari kerajaan ini.
Ketika timku masuk ke dalam arena, teriakan pendukung sama sekali tak terdengar itu sangat hening seolah kau bisa mendengar suara seseorang batuk dengan jelas.
"Sambutan yang menyedihkan," perkataan Cassiopeia membuat suasananya semakin jatuh.
"Nah Weis, bagaimana untuk semalam tadi."
"Terima kasih Hoshimiya aku jadi semangat karenamu."
"Aku senang."
__ADS_1
"Lain kali tolong pakai Bra bermotif bunga."
"Dimengerti."
"Dimengerti jidatmu, bukan waktu tepat untuk mengatakan hal aneh-aneh apa kau tahu situasi kita sekarang?"
"Kita akan menang dan kita dapat sambutan."
"Kuharap aku bisa berfikir sederhana sepertimu."
"Apa ada yang akan terjadi?"
"Nanti juga kau akan tahu."
Andelona menunjukkan wajah menakutkan saat kami berempat saling berhadapan dengan empat orang yang menyebalkan.
Figo berdiri di depanku dengan senyuman penuh kebanggaan.
"Aku akan menghancurkanmu di sini."
"Mari kita lihat apa yang bisa kalian lakukan?"
"Hehe kalian akan menjadi mangsaku."
Perkataan Andelona memang sangat mengintimidasi.
Seorang instruktur yang disuruh menjadi wasit berkata setelah kami melakukan jabat tangan palsu serta menyapa penonton.
__ADS_1
"Bagi yang bertarung tetap di tempat dan sisanya bisa menunggu di belakang."
Kami melakukan apa yang dia katakan, pertama adalah pertarungan Andelona.