
Dengan kekalahan dua jenderal, seluruh pasukan Demon Lord Terrytory bisa dipukul mundur, itu memberikan waktu kami untuk bernafas lega serta menyiapkan pertempuran yang akan kami lakukan nanti.
Demon Lord Terrytory adalah sebuah wilayah yang dijadikan oleh basis raja iblis, jika kami mengalahkannya maka kemenangan akan dapat diraih dengan mudah dan ras iblis akan diusir mundur ke wilayah mereka sebelumnya di tengah laut maka dengan begitu kedamaian akan tercipta kembali ke dunia ini.
Jika berbicara memang terasa mudah.
Sebelum pertempuran yang akan datang aku memiliki urusan yang lainnya jadi saat ini aku meminta izin untuk meninggalkan akademi.
"Bukannya waktunya terlalu cepat, aku ingin sedikit lebih lama menghabiskan waktu denganmu."
"Aku harus segera membuka dua buku lagi, dengan begitu aku bisa menempati janjiku."
"Apa boleh buat, tolong kembali dengan selamat."
"Tentu saja."
Misiku bukan hanya untuk sebatas buku saja melainkan menghancurkan kota tersebut, raja sebelumnya selalu melindungi mereka maka dari itu saat dia sudah tidak ada, kami akan bisa secara leluasa.
Nemesis sudah bisa digunakan dan aku pergi ke sana dengan terbang. Berkat Aura, Sento juga bisa melakukannya dan terbang di sebelahku.
Cassiopeia juga ikut dan duduk di pangkuanku di dalam kokpit.
"Ini akan menyenangkan."
"Jangan lengah mereka memiliki sesuatu yang sulit untuk dihadapi," ucap Cassiopeia
"Tentu."
__ADS_1
Kami mendarat di tengah kota dengan kegemparan yang bisa dirasakan orang-orang, Sento mengumumkan.
"Siapapun yang tidak ingin mati kalian bisa meninggalkan kota ini, karena sebentar lagi penghancuran akan dimulai."
Dia benar-benar melakukannya.
Sesuai namanya kota ini benar-benar kebanyakan dibuat dari besi, ada pipa aneh yang terhubung ke setiap bangunan dan ketika aku memotongnya asap mengepul ke udara.
"Waktu kalian sudah habis, kini giliran kami mengamuk."
Dan pertempuran pecah dalam waktu singkat.
Beberapa benda disebut tank baja muncul tapi itu bukan sesuatu yang dikhawatirkan, kami dengan mudah menghancurkannya.
Ledakan terjadi dimana-mana membuat pemandangan yang dilahap oleh bencana.
Aku mengikuti arahan Cassiopeia menunjuk sebuah bangunan putih di mana seorang profesor berdiri di sana.
"Aku ingin menyelesaikan masalahku karena itu Weis."
"Aku mengerti, berhati-hatilah."
"Iya."
Kokpit terbuka dan ia melompat ke bawah dengan parasut, tugasku sekarang hanyalah mengalahkan mereka.
Penampilan keduanya ditunjukan di layarku, aku meminta Qiora untuk mengambil gambarnya.
__ADS_1
Di sana terlihat Cassiopeia mendarat dengan sempurna, ia mengenakan sarung tangannya selagi menatap tajam pada pria di depannya yang seutuhnya berpakaian jas putih.
"Lama tak bertemu Cassiopeia atau kubilang X-13, apa kau akhirnya memutuskan kembali."
"Tentu, selama ini aku dibesarkan di fasilitas ini sebagai ucapan terima kasihku. Aku sendiri yang akan membunuhmu."
"Gadis kecil mau membunuhku hal itu jelas tidak mungkin."
Beberapa anak yang mirip Cassiopeia bermunculan mereka mengenakan gaun putih dan masing-masing membawa senjata.
"Jadi begitu, kau sudah berhasil membuat kloningku."
"Hebat bukan, dibanding denganmu mereka akan selalu menuruti permintaanku."
"Mereka hanya sebuah cangkang tanpa jiwa."
"Kalian semua majulah."
Semua Cassiopeia yang lain menyergapnya secara bersamaan. Cassiopeia asli melawan dengan pukulan dan dia tanpa ragu membunuh mereka tanpa ampun.
"Ka-kau kenapa kau jadi sekuat ini, bukannya kau hanyalah objek saja."
Cassiopeia melesat maju lalu menendang tubuhnya hingga pria itu terlempar menabrak pintu.
"Seharusnya aku membunuhmu saat itu dengan begitu tidak ada anak-anak yang mati."
Dari 500 orang kelinci percobaan, hanya Cassiopeia saja yang selamat.
__ADS_1