Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat

Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat
Chapter 64 : Rintangan Selalu Ada Bahkan Di Acara Seperti Ini


__ADS_3

Walau acara berjalan lama aku rasanya sama sekali tidak bosan, saat semua orang bersaing aku meraba-raba tubuh Hoshimiya dan semua anggotaku menatap ke arahku seperti sampah.


"Aku sudah mencapai batasku Weis."


"Maaf Hoshimiya, aku terbawa suasana, jika Cassiopeia aku tidak melakukan hal barusan."


"Kau mengejekku, sepertinya aku tidak lupa membawa pisau di pahaku."


"Ahaha aku cuma bercanda."


Kini giliran buku yang ditunggu olehku yang akhirnya ditampilkan.


Mereka terjaga dengan baik serta ditempatkan di dalam etalase sempurna yang tertutup kaca indah.


"Kami membuka untuk dua buku super langka ini 1 juta koin emas, siapa yang berminat."


Mereka sudah tahu harganya.


"Satu juta setengah."


"Dua juta."


"Empat juta."


Tahu-tahu sudah 10 juta.


Ini pelelangan yang luar biasa.


Andelona berbisik padaku.


"Apa aku harus membunuhnya?"


Orang yang dimaksud adalah pria dengan potongan rambut cepak dengan jas dan wanita di sekelilingnya.


"Itu akan jadi masalah, mari bertaruh sedikit lama... 11 juta."


Aku memperhatikan pria tersebut dan Talia berbicara lewat pikiran.


"Tuan, orang itu."


"Aku juga merasakannya, ini akan jauh lebih menarik."

__ADS_1


Casandra mengiyakan.


"Lima belas juta."


"Tujuh belas juta."


"Dua puluh juta."


"Hey Weis kita tidak memiliki uang sebanyak itu."


"Aku akan menyerah untuk ini, dari awal aku tidak berniat mengambilnya dengan cara ini," kataku pada Sento membuat mereka semua kebingungan tapi aku tidak akan memberikan alasannya.


"Dengan begitu pria di sana yang akan memilikinya, selamat."


Aku akan mengakhiri pencarian buku ini dengan sangat cepat.


Setelah lelang selesai aku maupun anggota partyku mengunjungi pria tersebut.


"Tuan Rudolf kah, senang bertemu denganmu namaku Weis Either, aku mengucapkan selamat atas kemenanganmu barusan."


Jabat tanganku diabaikan.


"Kau pria yang tadi kah, pertandingan yang bagus barusan."


"Tidak itu bukan pertandingan."


"Nani?"


"Pertandingan sesungguhnya baru akan dimulai sekarang... aku memiliki dua buku roh agung yang lain apa kau mau bertaruh dengan semua buku di tanganmu itu."


"Maksudmu dua buku sebelumnya."


"Tidak maksudku lima dari mereka, Anda memilikinya bukan."


"Heh, kenapa kau bisa mengetahuinya?"


Aku harap dia mau melepaskan tangannya itu membuatku risih.


"Anggap saja tebakan beruntung, dilihat sepertinya kau seorang kolektor."


"Benar sekali, aku anak dari pedagang terkenal di ibukota Aston, ibukota Solovia Empire.. aku memang memiliki buku yang lain tapi hanya saja tidak sampai sejauh itu, aku hanya memiliki tiga dengan yang barusan kumenangkan, temanku lah yang memiliki buku yang tersisa dia juga seorang kolektor."

__ADS_1


Dia jelas berbohong.


Kemungkinan besar dia akan mengirimnya langsung ke sana.


Aku tinggal menjemputnya nanti.


"Begitu."


"Jadi apa yang kau inginkan?"


"Bertarunglah dengan salah satu temanku jika kau menang maka aku akan memberikan bukuku dan jika kalah kau yang harus memberikannya."


"Menarik, tapi aku yang memutuskan siapa yang bertarung anggap saja keuntungan karena memiliki jumlah buku lebih banyak."


"Aku tidak keberatan, lalu siapa yang kau pilih?"


Rudolf mengangkat tangannya lalu menunjuk ke arah Cassiopeia.


"Dia?"


"Apa yang kau katakan, dia masih kecil."


"Aku bebas memutuskannya."


Aku sungguh kesulitan untuk tidak tertawa sekarang, dia terlalu meremehkannya.


"Besok pagi di Colosseum, temui aku di sana."


"Tentu."


Dia berjalan melewatiku selagi berkata.


"Buku itu akan jadi milikku."


Aku mengabaikan perkataan tersebut dan berbalik untuk menatapnya pergi.


"Cassiopeia apa kau mendengarnya?"


"Sangat jelas, siapapun itu akan kuhancurkan dengan segala kemampuanku."


Dari semua orang dia memilih orang yang salah.

__ADS_1


__ADS_2