
Dengan Nemesis aku menjungkir balikkan seluruh tank dengan mudah, aku juga memotong moncong mereka lalu meledakannya dengan bunyi ledakan yang menggema di udara.
Saat aku melihat kembali ke arah Cassiopeia dia telah menusuk pria di depannya dengan sebuah belati, meninggalkan pria yang kehilangan nyawanya sebelum masuk ke dalam fasilitas percobaan.
Jelas aku baru kali ini melihat Cassiopeia benar-benar marah.
"Sento sesuatu muncul di bawah tanah cepat menghindar."
"Baik."
Bertepatan saat itu sebuah naga terbuat dari besi menyeruak keluar. Aku berlari ke arah naga tersebut dan mengirim banyak tebasan.
Di waktu yang sama Sento juga mengirimkan tembakan yang mampu menghancurkan bagian perisai miliknya.
"Tepat sasaran."
Berbeda dari sebelumnya aku tidak akan lengah.
Aku menciptakan sihir gabungan dari seluruh roh lalu melesatkannya pada sang naga hingga selanjutnya dia meledak dan menjadi serpihan saja.
"Master jadi semakin kuat."
"Tentu saja, aku sudah banyak berlatih sejak saat itu."
"Hehe."
Kami menghancurkan sedikit bangunan kotanya termasuk pipa yang selalu membuatku tidak nyaman, dan saat Cassiopeia melompat keluar dari pintu fasilitas, bangunan tersebut diledakan.
Aku dan Sento turun untuk memeriksanya.
"Bagaimana?"
"Aku sudah berhasil, kita bisa kembali sekarang."
__ADS_1
"Bagaimana soal kotanya?"
"Di dalam tanah ada semacam bola energi, aku memasukan beberapa kode penghancuran diri dan ketika waktunya habis semuanya akan diledakan."
"Bukannya itu artinya kita harus melarikan diri segera mungkin."
Kami naik kembali ke unit Zeltras, saat hitungan mencapai nol, kota mesin lenyap seutuhnya dan menjadi kawah setelahnya.
"Semua ini malah terasa mudah."
"Sebenarnya kalian yang terlalu kuat, tank barusan sudah cukup menghancurkan satu kerajaan."
Aku jelas terkejut.
Di mansion di mana semua orang sedang berkumpul Cassiopeia menembakan sebuah pistol yang terlihat seperti pistol mainan itu, chip yang dipasang di bawah buku meledak dan saat itu aku bisa membukanya.
Dua buku berubah menjadi roh seperti yang kuduga, yang satu seorang wanita dengan telinga rakun dan satu lagi telinga tupai.
"Namaku Neil," kata wanita rakun.
"Kami siap mengikat kontrak dengan master baru kami."
Dua buku yang lain telah didapatkan dengan mudah. Sudah waktunya memanggil sang dewi tapi akan kulakukan besok saja karena hari ini aku benar-benar ingin beristirahat.
Di halaman luar aku membuat lingkaran sihir dan menempatkan setiap buku dititik tertentu.
Tujuh buku roh agung digunakan sebagai katalis yang membuka gerbang pemanggilan ke alam dewi.
Dewi telah banyak mendapatkan kesulitan karenaku, jadi mari tebus semuanya di sini.
Sementara seluruh kelompokku memperhatikan aku mengulurkan tanganku untuk mengaktifkan sihirnya, setiap buku bercahaya yang mana setelahnya sebuah gerbang muncul di atasnya.
Dari gerbang yang terbuka sosok dewi muncul seperti biasanya, ada sepasang sayap di punggungnya dan tiba-tiba saja dia melompat ke arahku.
__ADS_1
"Weis, akhirnya aku berhasil."
"Tentu saja."
Semua orang menatapku dengan wajah bermasalah.
"Pasti wanita baru lagi yang dimasukan ke dalam kerajaan Harem kita."
"Tidak salah lagi."
"Mereka menantapku dengan tatapan penuh kecemburuan Weis."
Aku tersenyum masam.
Aku dan dewi tidak ada hubungan seperti itu dan dengan senang menjelaskannya pada mereka sehingga tidak menjadi salah paham.
Roh agung juga kembali ke bentuk manusia mereka.
"Aku tidak mengerti, tapi apa kita akan selalu melalui hal mesum di rumah ini."
"Kau benar Neil, sebaiknya kau mulai terbiasa dan juga Eir."
"Aku akan bekerja keras."
"Tidak, tidak, kau tidak perlu terlalu bekerja keras untuk itu."
Aku jelas membantahnya atau aku bisa tidak beraktivitas keesokan paginya.
"Di dunia ini panggil saja aku Rista, dengan begitu semua orang tidak akan mengetahui diriku seorang Dewi."
"Sayapnya?"
"Bisa dihilangkan dengan mudah."
__ADS_1
Dia bisa melakukanya dengan baik.
Kurasa sudah waktunya menantang makhluk itu.