Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat

Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat
Chapter 71 : Aura


__ADS_3

Kami menjaga jarak saat beberapa kali saling berbenturan di udara, aku mengaktifkan roket pendorong di bawah kaki dan punggung yang mana menambahkan kecepatannya untuk akselarasi saat puluhan misil berusaha mengejarku.


"Master, di kiri Anda."


Tepat saat satu misil muncul dari sana aku menebasnya dengan pedang, bisa kulihat salah satu bawahannya telah ikut campur dalam pertarungan ini, maka dari itu aku menembaknya jatuh.


Dari pedang berubah jadi meriam kemudian berubah kembali jadi pedang.


"Yang barusan nyaris sekali."


"Kau memang lawan yang seimbang untuk dihadapi, sebagai jenderal dari Demon Lord Terrytory aku mengakui kemampuanmu."


"Sayang sekali tapi aku tidak peduli pengakuanmu."


Aku melesat maju, mengayunkan pedangku bergaya x dimana Vardia memblokir lewat gaya pedangnya. Dia menggunakan gaya putaran yang memaksaku untuk mundur.


"Struktur dari robotnya tidak seperti dulu master, ada sejenis bahan energi yang kuat disisipkan di dalamnya, saya menganalisa bahwa itu adalah Aura, di data saya tidak menemukan jenisnya."


"Aura?"


Aku segera menghubungi Cassiopeia dan menanyakan soal itu, dia cukup ahli dalam bidang tersebut hingga dia berteriak terkejut.


"Kau bilang aura?"


"Memangnya ada apa."

__ADS_1


"Itu bijih langka... Aura sama seperti penyimpanan mana, jika kau menghadapinya maka."


"Dia bisa menggunakan sihir."


"Tepat sekali."


Bola api terarah padaku aku juga menembakan bola api yang sama hingga keduanya meledak di tengah-tengah.


"Ahaha kini tak hanya dirimu yang bisa menggunakan sihir, kini Demon Lord Terrytory juga bisa melakukannya."


"Ternyata ada cara seperti itu."


Aku menciptakan tiga lingkaran sihir yang menembakkan air, Vardia menciptakan tornado yang mana menghalau semuanya, dia menggunakan lompatan padaku dan saat aku berniat menahannya dia mengubah dari serangan pedang menjadi tendangan hingga aku terdorong ke belakang.


"Apa ada batasan dari penggunaan Aura?"


"Apapun itu aku harus mengalahkannya."


Aku kembali menyerangnya dengan terjangan melalui dua pedang.


Bunyi dentingan menghiasi tebasanku, dari sini kami hanya bertarung melalui ilmu pedang.


Aku menarik tuas kontrol yang mana mengayunkan pedang dari samping, Vardia tidak menahan melainkan menghindar untuk memberikan momentum untuk serangannya, dia menusuk dengan cepat, salah satu pedangku menahannya sayangnya itu menyisir bagian luar pedang sebelum menusuk bahuku.


Kerusakan di konfirmasi tapi tidak cukup parah untuk menghentikan sistem tanganku, dari jarak dekat itu aku menembakan misil yang membuatnya terdorong ke belakang.

__ADS_1


Satu pedangku berubah jadi meriam dan itu menembak ke arahnya hingga terlempar ke belakang.


Sebelum dia bangkit aku berlari selagi menyeret pedang di tanah, dia mencoba bangkit dan dengan baik menangkap pedangku.


Aku mengayunkan pedang satunya untuk memotong tangannya lalu mencoba mengakhiri dengan tusukan yang lain sebelum mengenainya seorang lebih dulu menghalaunya lewat sebuah tembakan. Tangan kananku jatuh dan aku harus menggunakan roket depan untuk mendorong diriku mundur.


"Yang barusan hampir saja."


"Kau rupanya Hugo."


"Aku ingin memeriksa wilayah ini, dan bertanya kenapa sangat lama untuk mendapatkannya ternyata kau benar-benar kesulitan."


"Mereka memiliki unit Zeltras yang cukup kuat."


"Kita punya Aura seharusnya mudah untuk mengalahkan mereka."


Orang bernama Hugo mengarahkan tangannya dan itu menciptakan sepuluh lingkaran sihir di depannya.


"Ini adalah sihir yang sama yang kugunakan untuk melenyapkan ibukota, sekarang terimalah."


"Terdeteksi sihir abnormal, telah dikonfirmasi ia menggunakan lebih dari 5 Aura," ucap Qiora.


"Bagaimana dengan ESD."


"Tidak akan bisa diblokir."

__ADS_1


Cahaya terang menyilaukan mataku.


__ADS_2