
Seperti yang diduga pohon ini sekuat besi, untuk berjaga-jaga aku memasukannya ke dalam sihir penyimpananku dan berharap bahwa suatu hari bisa digunakan dengan baik.
Semua orang tersenyum puas dengan hasil yang kami lakukan meski begitu aku yakin bukan waktu sebentar untuk memulihkan wilayah ini pada seharusnya.
Kami kembali dan pesta diadakan untuk menyambut kemenangan ini, kami tidak berpesta di mansion kediaman Andelona melainkan di tengah desa bersama puluhan orang lainnya yang turut senang dengan semua ini.
Aku meminum jus di gelasku yang terasa lebih manis dari seharusnya.
"Apa kau masih minum jus seperti itu, paling tidak cobalah minuman beralkohol," tawaran itu datang dari Sento yang kutolak apa adanya.
"Aku tidak menyukainya."
"Berarti kau bukan pria, yah meskipun kuyakin kau sudah melakukan hal dewasa dengan dua pelayan di sana."
"Insting wanita membuatku takut."
Aku mengalihkan pembicaraan ke tempat semestinya.
"Sepertinya keyakinan semua orang terhadap kerajaan sangat rendah bukan, aku harap kau tidak menyembunyikan apapun sekarang."
__ADS_1
"Dari awal aku tidak bermaksud demikian hanya belum tepat waktunya untuk mengatakan semuanya padamu tapi sekarang berbeda."
Sento menghentikan pembicaranya sesaat sebelum melanjutkan.
"Seperti yang kukatakan ibukota hanya diisi oleh bangsawan-bangsawan kotor yang mementingkan kehidupan diri mereka sendiri, mereka bahkan tega untuk mengirim orang-orang yang baru terkena wajib militer bahkan anak-anak ke medan perang saat Demon Lord Terrytory untuk pertama kalinya menginvasi benua ini dan aku salah satu dari mereka."
"Sento kau?"
"Lima tahun yang lalu ada sebuah insiden yang disebut pembantai besar-besaran, saat itu kami yang tidak tahu dasar-dasarnya berperang maju begitu saja tanpa persiapan. Kami dibantai habis oleh mereka semua. Aku adalah satu orang yang berhasil selamat dan akhirnya memutuskan untuk mengganti namaku dan hidup sebagai instruktur Akademi."
"Siapa yang tahu ini?"
"Hanya kepala sekolah, walau tidak terlihat kerajaan ini sudah busuk bahkan mereka juga tidak mencoba menyelematkan wilayah ini."
"Tanggapan raja?"
"Dia juga berfikiran sama dengan bangsawan lainnya, selagi mereka bisa hidup damai tak masalah untuk mengorbankan ribuan nyawa orang di garis depan."
"Bukannya kau bisa berkonsultasi pada putri yang bersekolah di akademi, aku yakin dia mau."
__ADS_1
"Percuma saja karena putri adalah orang yang dibuang dari kerajaan."
Suasana menjadi lebih sulit dari yang kubayangkan, ada dua fakta baru yang kuketahui. Pertama soal Cassiopeia yang merupakan manusia eksperimen dan sekarang soal ini.
"Putri sangat menjunjung keadilan dia berharap untuk mencoba bekerja sama dengan kerajaan lain demi mengatasi Demon Lord Terrytory sayangnya bagi raja itu hanya sebuah sikap merendahkan bagi kita, dia pikir semua hal bisa diselesaikan dengan hanya kita sendiri namun kenyataannya dia tidak ingin terlibat masalah secara langsung."
Aku ingin berteriak.
Apa-apaan dengan zaman ini, semua hal terasa menyulitkan.
Tanpa sadar aku meneguk minumanku dan memikirkan apa yang harus kulakukan nanti di ibukota, mengingat bahwa bangsawan di sana tidak bersahabat aku ingin melewatinya dan langsung ke tempat tujuan namun itu akan buruk jika kami tidak melihat ibukota.
Tempat itu terkenal indah dan mengagumkan walau sekali aku ingin mengunjunginya tanpa harus menyesal.
Atas keegoisanku keesokan paginya kami berpamitan dan berangkat seperti biasanya. Untuk sementara Andelona tidak bisa menggunakan gergaji jadi kami memberikannya alat yang fungsinya sama yaitu sebuah kapak.
"Sudah lama aku tidak memegangnya."
"Kau jangan mengayunkannya di dalam mobil."
__ADS_1
"Maaf Weis aku sedikit bersemangat."
Gadis normal tidak bersemangat karena itu.