
Seperti biasa aku menghabiskan waktu di perpustakaan dengan tumpukan buku yang kususun baik di meja.
Setiap buku mengajari berbagai sihir termasuk teknik alkemis dan sebagainya.
"Alkemis adalah suatu teknik yang menentang kehendak dewa, itu pasti bagus jika tuan menggunakannya."
"Kenapa rasanya sangat gelap."
Casandra menemaniku di perpustakaan ini dengan wujud manusianya, dia tertarik dengan buku juga hanya saja yang dia baca lebih seperti ke arah novel dan sebagainya.
Aku menemukan bagian bagus dari tranformasi sihir di mana di sana menggabungkan beberapa lingkaran sihir menjadi satu.
Dengan kontrakku bersama Casandra aku bisa menggunakan api juga, dengan begitu aku bisa menggunakan dua elemen yang bisa kulatih dari sekarang.
Pertama aku menciptakan sihir api selanjutnya digabungkan dengan lingkaran sihir air dan keduanya sama sekali tidak bergabung.
"Tuan aku pikir, itu akan sulit jika kau langsung menggabungkannya begitu saja."
"Tapi dibuku ini dikatakan seperti itu."
"Aku rasa bukunya memang tidak sempurna "
"Apa kau menyadari sesuatu?"
"Benar, dibandingkan menyatukan sirkuit dari tranformasi lingkaran sihir, akan lebih baik jika tuan bisa membuat lingkaran baru yang bisa bersikronisasi dengan seluruh elemen."
"Maksudmu seperti ini."
Aku membuat lingkaran besar sebagai lingkaran dasar di dalam buku, dan kemudian membuat lingkaran sihir dari api dan air di sekelilingnya yang jauh lebih kecil.
"Seperti ini."
__ADS_1
"Itu benar, hanya saja sulit untuk membuat lingkaran dasar yang bisa disatukan dengan lingkaran lainnya."
"Maksudnya lingkaran sihir tanpa atribut bukan."
"Sesuai yang diharapkan dari tuan anda sangat cepat mengerti."
Aku akan mulai memikirkan hal tersebut, lingkaran sihir dibuat dari mana, dan sesuai orangnya mana tersebut akan selaras dengan elemen yang telah dimilikinya sejak lahir.
Dengan begitu hampir mustahil untuk melakukannya.
"Ngomong-ngomong tuan, bagaimana kepribadian dewi yang tuan maksud? Apa dia sangat berwibawa atau sebagainya."
"Bagaimana mengatakannya dewi itu lebih ke arah dewi jahil, dia pernah mendorongku ke kolam dan terkadang menyembunyikan sesuatu barang yang ingin kuambil."
"Bukannya itu sangat berbahaya."
"Seperti itulah tapi hari yang kuhabiskan cukup menyenangkan."
Setelah membaca buku beberapa saat kemudian aku berpapasan dengan Sento Maria.
"Weis aku perlu bantuanmu sebentar, bisakah kau ikut denganku," katanya saling membelakangi.
"Tentu saja."
"Padahal semua orang telah kembali ke asrama anda sangat rajin."
"Begitulah, sebagai instruktur teladan aku memang harus bertingkah seperti ini."
Aku ingin membantah perkataan itu namun lebih baik membiarkannya begitu saja, aku dibawa ke sebuah ruangan tak terpakai di sudut koridor.
"Jadi apa yang harus kulakukan."
__ADS_1
"Kau tahu aku biasanya suka menghukum murid. Karena itu aku sekarang sangat bersemangat untuk melakukannya."
Aku memucat.
Aku dijebak.
[Tuan lebih baik kau segera melarikan diri]
[Benar sekali]
Sento Maria mengunci pintunya sementara aku jelas harus mundur ke belakang.
"Bukannya kau terus menantapku Weis, aku pikir kau pasti berharap sesuatu padaku."
"Maafkan aku sebenarnya aku terus melihat dada dan pantat anda di kelas."
"Hoh, bagaimana kalau aku membiarkan kau melakukan apa saja dengan tubuhku hanya saja sebagai gantinya aku menghukummu, jangan khawatir ini tidak akan terlalu sakit loh."
[Mengerikan sekali, apa akademi ini penuh kegelapan]
[Nah Casandra kurasa aku tidak bisa menolak tawarannya]
[Ya ampun, aku tidak ingin tahu]
Aku berlutut ke arahnya.
"Dengan senang hati, tolong injak aku nona Sento."
"Fufu."
Dan setelah hukuman, aku juga menghukum Sento Maria dengan tidak senonoh, kurasa ini yang dimaksud saling menguntungkan.
__ADS_1