Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat

Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat
Chapter 61 : Menebang Pohon


__ADS_3

Pohon Ideasil adalah sebuah pohon bencana yang mana setiap akarnya terus menjalar tanpa henti demi menyerap sumber kehidupan apapun yang dilewatinya, itu berdampak pada tanaman lain hingga menjadi kering seutuhnya.


Akibatnya para penduduk kesulitan untuk bertani ataupun mencari pekerjaan, hingga akhirnya penduduk yang paling dekat dengan pohon itu mengungsi ke tempat lain.


Hanya menunggu waktu sampai desa ini juga mengalami dampaknya.


Casandra dan Talia yang sudah tidur di sebelahku benar-benar tak memikirkan apapun bagaimana cara kami menebang pohonnya, bukan hanya mereka, ada satu lagi yang bersembunyi di balik selimutku.


Dia adalah Hoshimiya.


Kalian benar-benar menyelinap ke kamarku, aku meminta keluarga Andelona untuk memberikan kamar terpisah dengan yang lainnya tapi kurasa itu percuma.


Selagi menatap wajah tidur mereka aku menghela nafas panjang. Mereka semua memang tidak keberatan jika aku berbuat nakal pada mereka.


Kami sedang melakukan misi jadi aku menyimpannya untuk nanti.


Pagi harinya kami meninggalkan desa untuk mendekat ke arah pohon itu berada.


Setelah melewati lima desa aku bisa melihat pohon itu dari kejauhan, tak lama dari bawah tanah akar-akar mulai menyeruak untuk menyerang keberadaan kami, aku membanting stir ke kiri kemudian ke kanan sebelum menyerahkan sisanya pada Cassiopeia untuk mengurusnya. Dia menjatuhkan banyak bola-bola ke permukaan tanah sedangkan dirinya membawa remote control di tangannya.


Ketika kami sudah jauh ledakan terjadi tepat saat dia menekan tombolnya.


Boom.

__ADS_1


Akar mirip gelombang tsunami tercipta di depan kami, itu naik beberapa meter ke atas dan sebelum menghantam kami Hoshimiya telah dalam mode Eternal Suitnya untuk memotong mereka melalui light saber.


"Aku akan menahannya."


"Kupikir aku juga akan sedikit membantu," tambah Cassiopeia.


Hanya aku, Sento dan Andelona yang akan melanjutkan perjalanan. Sesampainya di sana kami buru-buru turun dari mobil untuk memberikan kesempatan bagi Andelona menggunakan gergajinya.


Aku dan Sento berbalik untuk mewaspadai akar yang merambat dari sekeliling kami, tidak ada apapun di sana namun sebagai gantinya tiba-tiba buah-buahan berjatuhan dari atas pohon.


Buah itu memiliki mulut kaki dan tangan saat tergeletak di tanah.


"Kurasa pohon ini telah berevolusi."


Andelona mengenakan kecamatan yang dia bawa dari kediamannya, bersamaan suara gergaji dia mulai menebang. Menurut Andelona jika gergaji biasa itu akan hancur setelah mencoba beberapa saat menebang pohon ini tapi dengan gergaji sekarang dia akan mampu melakukannya.


Diam-diam aku berterima kasih pada Cassiopeia, sejauh ini dialah yang memberi peran penting untuk kami.


Sento dan aku menarik pedang untuk menjatuhkan para monster yang mendekat.


"Weis kurasa akan membutuhkan waktu untuk ini."


"Berapa lama?"

__ADS_1


"Sepuluh menit."


"Aku mengerti."


Maka dari itu kami perlu menahan mereka selama itu, jika pohon ini mudah ditebang sudah sejak lama pohon ini sudah tidak berada di sini.


Aku menebas selagi berlari menembus kerumunan monster, Sento juga melakukan hal sama sampai dari kejauhan aku bisa melihat Hoshimiya yang membawa Cassiopeia terbang untuk melarikan diri dari banyak akar yang mengejarnya.


"Mereka membawa hal buruk pada kita," ucap Sento.


Aku tidak bisa berbuat apapun pada itu, hanya menunggu waktu saja sampai Andelona selesai melakukannya, tepat saat aku bersiap untuk pasrah suara Andelona terhenti.


"Ada apa?"


"Gergajiku telah mencapai batas."


"Apa boleh buat, kita dorong."


Kami sekuat tenaga mendorongnya untuk jatuh.


"Kami datang juga."


Dengan bantuan Hoshimiya dan Cassiopeia kami berhasil melakukannya, di saat pohon itu tumbang seluruh akarnya mengering dan buahnya juga tak bergerak selamanya.

__ADS_1


__ADS_2