Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat

Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat
Chapter 68 : Pernikahan Dengan Putri


__ADS_3

Di koridor akademi aku berpapasan dengan Figo, dia adalah orang yang sebelumnya menantangku.


"Aku turut berdukacita apa yang terjadi pada seluruh bangsawan."


"Aku tidak butuh ucapanmu, lebih dari itu lebih baik kau persiapkan dirimu untuk perang berikutnya."


"Tentu saja."


Kami saling berpisah.


"Dia jelas masih membenciku."


Dari sampingku sang tuan putri Lumia muncul selagi menyodok pipiku.


"Jangan diambil hati."


"Lumia."


"Hehe hari ini kau luang, aku perlu seseorang untuk menemaniku hari ini."


"Hmm bukannya kau selalu pergi dengan pelayanmu."


"Weis kurang peka ya, aku mengajakmu kencan loh kencan, jika mau kau bisa tidur denganku setelah ini."


"Putri tidak boleh berkata seperti itu."


"Mau bagaimana lagi, ini adalah hari terakhirku di akademi karena aku dilantik sebagai ratu aku harus mengurus kerajaan mulai besok."


Aku memang merasa bahwa beban berat telah dilimpahkan padanya, sama seperti dulu aku sepertinya harus mengabdikan diri untuk kerajaan.


Aku berlutut di depannya.


"Weis."


"Aku tidak tahu akan bisa membantu atau tidak tapi apapun yang terjadi aku akan berada di sisi Anda yang mulia ratu dan akan melindungi Anda sebagai kesatria."


"Ditolak."


"Ditolak?"


Aku menunjukan wajah heran.


"Kau memang akan melindungiku tapi tidak sebagai kesatria melainkan suamiku."


"Eh?"


"Sudahlah mari pergi, aku tidak sabar untuk berjalan-jalan."


Tanganku ditarik olehnya.

__ADS_1


"Bagaimana seorang putri bisa menyukai orang sepertiku?"


"Saat melawan tuan Figo, Weis terlihat keren."


"Begitukah?"


Aku ragu mengatakannya, bahkan saat aku bilang aku akan punya banyak istri dia tidak mundur, raja memang biasa punya banyak selir jadi tidak masalah.


Aku kehilangan kata-kataku, selera yang harus kulakukan hanya membuat putri di sampingku puas, kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu bersamaan pasti membuatnya sedih walaupun dia dianggap sebagai putri yang dibuang dia tetap saja seorang anak.


Aku tidak ingin menunjukkan rasa simpatiku padanya dan hanya mengikutinya kemanapun dia suka.


Aku bertepuk tangan pada Lumia saat dia bermain-main dengan anak-anak.


"Ini menyenangkan, ini baru pertama kali aku bermain seperti ini selama ini aku hanya diajarkan berdansa terus menerus."


Dansa adalah cara lain untuk mendapatkan pasangan bagi bangsawan.


Selagi mengatur nafasnya Lumia mengusap pipinya yang berkeringat dengan handuk.


"Weis bantu aku membersihkan keringat di pahaku."


Sebelum aku menyetujuinya dia sudah menaikkan roknya dan darah menyembur dari hidungku.


"Lu-Lumia."


"Kamu tidak memakai pakaian dalam."


"Aku tahu, beberapa wanita bilang kalau sedang berkencan kau harus mengenakan pakaian dalam favoritmu tapi aku bingung jadi aku memutuskan untuk tidak mengenakannya."


Putri ini mesum, aku bisa mendengar perkataan Casandra.


"Jadi dia berniat menyerahkan kesuciannya pada Tuan, bukannya itu bagus."


"Bagus jidatmu."


"Pokoknya kau harus mengenakannya."


"Eh."


Aku menarik tangannya untuk masuk ke dalam toko, dia cukup berani mengenakan seragam akademi tanpa mengenakan apapun dibalik rok pendeknya.


Syukurlah sejauh ini tak ada yang menyadarinya.


"Padahal aku tidak masalah."


"Itu jadi masalah denganku."


"Sekarang aku lapar bisakah kita makan sesuatu yang enak."

__ADS_1


"Tentu saja."


Putri Lumia berjalan berjinjit ke depan layaknya anak kecil kemudian berbalik dengan tangan di belakang selagi tersenyum senang.


"Hari ini hanya ada hal yang menyenangkan bagiku, terima kasih Weis."


"Aku juga merasa demikian."


"Kalau begitu mari selesaikan hari ini dengan sebuah pernikahan."


"Kau serius mengatakan itu?"


"Tentu saja jika aku tidak melakukannya mereka pasti akan memaksaku menikah dengan pangeran dari kerajaan lain."


"Meski begitu."


"Dibandingkan menikah dengan orang yang tidak kukenal akan lebih baik jika aku menikah dengan yang kukenal."


"Memangnya tak masalah jika siswa akademi menikah?"


"Itu tidak masalah, lagipula kau sudah cukup umur, bangsawan bahkan bisa menikah di umur 12 tahun terlebih aku juga akan keluar dari akademi."


Rasanya ini terlalu berat untukku tapi aku juga tidak bisa mengecewakannya. Dia jelas tidak akan bahagia jika pernikahan politik digelar.


Dia pasti berusaha melindungi wilayahnya sendiri, dibanding jatuh ke kerajaan lain karena sebuah pernikahan politik dia memilihku untuk mempertahankan semuanya.


Itu sebuah langkah yang besar yang tidak mungkin aku bisa tolak.


Karena inilah aku tidak terlalu suka kehidupan bangsawan.


Aku meniduri Lumia di atas ranjang di penginapan sementara semua roh Agung menonton dari samping.


"Hari ini kurasa kita tidak dapat kesempatan."


"Sepertinya begitu."


Hoshimiya pasti akan marah padaku karena ini. Dan tak perlu menunggu waktu lama aku dan Lumia berseiza selagi menatap Hoshimiya yang duduk di atas ranjang.


"Jadi kalian sudah menikah, dan bahkan melakukan itu."


"Maaf Hoshimiya, aku tadinya ingin mengajakmu juga tapi kurasa kamu lebih suka kehidupan di akademi juga... jika kau menikah sekarang kau mungkin akan kehilangan kehidupan akademimu lebih awal, lagipula aku sangat senang melihat Hoshimiya selalu tersenyum bersama yang lainnya."


Ia menghela nafas panjang.


"Putri benar-benar sangat licik."


Lumia hanya menjulurkan lidahnya jahil.


Setelah lulus dari akademi aku pasti akan menikahinya juga.

__ADS_1


__ADS_2