
Aku duduk di taman akademi selagi menghembuskan nafas panjang.
Belakangan ini aku sering sekali dikejar-kejar oleh banyak orang.
Pertama aku tanpa sengaja masuk ke dalam ruangan ganti para gadis, kedua saat aku pergi ke gudang di sana ada dua gadis yang sedang melakukan adegan memalukan dan akhirnya aku dikejar lagi.
Selanjutnya saat di kantin aku tanpa sengaja melihat Sento Maria yang memungut rotinya yang jatuh ke lantai dan dia juga malah mengejarku.
Sungguh dunia ini melelahkan.
Merasakan hembusan angin yang menerpa wajahku aku bisa melihat beberapa orang yang sedang berlatih menggunakan sihir, di sana ada instruktur yang berpengalaman jadi aku tidak ingin sok tahu dengan menawari bantuan pada mereka.
Aku mengulurkan tanganku dan kupu-kupu yang terbuat dari air berterbangan ke udara.
"Itu sihir yang indah?" suara itu berasal dari Alya yang merupakan kepala sekolah di sini.
"Tidak juga."
"Boleh aku duduk."
"Tentu."
Dia duduk di sebelahku selagi menyantap roti lapis di tangannya, ini sudah masuk jam siang jadi wajar jika ia membawanya.
"Mungkin kau mau satu, ambilah."
"Kalau begitu aku menerimanya."
__ADS_1
Biasanya seorang pemuda akan gugup jika duduk bersebelahan dengan wanita dewasa sayangnya aku tidak merasakan hal itu lagipula aku merasa lebih tua darinya.
"Kudengar anggota partymu sedang membuat sesuatu di bengkel."
"Aah, Cassiopeia memang bilang begitu."
Aku menggigit rotiku lalu melanjutkan.
"Menurutmu apa sihir memang sudah tidak diperlukan di dunia ini?"
"Tidak juga, eksistensi dari sihir tetap sama sampai kapanpun, yang tidak sama hanyalah orang yang menggunakannya meski zaman sekarang teknologi sangat canggih tanpa sihir tetap saja akan sulit. Kenapa kau mengatakan itu? Apa kau merasa tidak bisa hidup di zaman ini."
"Apa maksudmu? Aku berasal di zaman ini jelas aku harus terbiasa."
Dia menatapku dengan tatapan curiga.
Aku tersenyum masam.
Apa sudah ketahuan?
"Dia seorang penyihir yang gila yang terus melatih dirinya tanpa peduli apapun dan hasilnya dia malah terbunuh."
"Aku merasa kasihan padanya... Yah terkadang bayangan seseorang bisa dilihat di tubuh orang lain."
"Mungkin saja begitu, aku sudah melihat formulir pendaftaranmu kudengar kau ingin menjadi seorang raja penyihir bukan?"
"Mungkinkah gelar itu sudah tidak ada."
__ADS_1
"Tepat sekali, setelah Demon Lord Terrytory mulai menginvasi benua ini pemilihan raja penyihir telah dihentikan, tapi kurasa jika mereka berhasil dikalahkan pemilihan itu akan dilaksanakan lagi.. mungkin perlu waktu lama agar hal itu tercipta."
Aku hanya bisa berharap ada seseorang yang mampu melakukannya jadi tidak membuatku harus terlibat di dalamnya.
"Sudah waktunya untuk kembali ke ruanganku, lebih baik kau juga habiskan makananmu... benar juga, beberapa kali aku mendapatkan keluhan dari banyak siswi perempuan bahwa ada pemuda yang menerobos masuk di situasi tidak tepat."
"Ugh sepertinya itu aku."
"Kuharap kau mulai sedikit berhati-hati mulai sekarang."
"Bukannya lebih baik kau menceramahi para gadis itu?"
"Hoho aku tidak bisa melakukannya, itu yang disebut masa muda dimana gadis saling bertukar pelukan antata sesamanya dan berbagi cinta."
Ada dorongan untuk meledakan Akademi ini namun aku memilih mengabaikannya.
"Bersenang-senanglah di akademi ini, aku tidak sabar melihat pertarunganmu nanti. Saat itu terjadi aku pasti akan yakin bahwa kau adalah orang itu."
Aku mengerenyitkan alis, sampai kapan dia ingin membongkar kedokku. Seingatku aku tidak melakukan hal buruk padanya.
Biar aku ingat.
Saat dia masih kecil aku pernah mendorongnya hingga jatuh ke kolam. Kemudian mencuri coklatnya lalu mengejeknya bahwa dadanya kecil.
Aku memegangi wajahku dengan frustasi.
"Dia pasti ingin membunuhku," teriakku dalam hati.
__ADS_1