Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat

Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat
Chapter 23 : Peran Penjahat


__ADS_3

Aku bisa melihat bagaimana unit Figo telah berdiri di sana, unitnya memiliki warna merah dengan senjata perisai dan pedang.


Bentuknya sangat berbeda di mana dia menambahkan ornamen tanduk di atas kepalanya serta bahunya. Mirip seperti bentuk dari seekor badak.


"Aku akan memindainya."


Seperti yang dikatakan Qiora dia melakukannya dan kemudian mengatakan hasilnya.


"Bahan yang digunakan dalam membuat robot ini sama baiknya dengan master, atau bahkan tenaganya dua kali lipat lebih besar, aku sarankan agar tidak terus-menerus menerima serangannya."


"Dimengerti."


Belum saja mulai aku dipukul oleh kenyataan bahwa unitnya lebih kuat dua kali lipat, Cassiopeia memintaku untuk menyembunyikan kemampuan sihirku di pertandingan ini karena itu aku murni akan melawannya dengan Nemesis.


Sekarang aku sedikit ragu.


"Keduanya sudah di posisi, pertarungan akhir dimulai."


Sebuah tebasan pedang terayun dari samping membuatku sedikit mundur ke belakang, menarik dua pedangku aku menyilangkan pedangnya untuk menahan serbuan darinya.


Dia menghantamkan perisainya untuk mendorongku ke belakang selanjutnya menggantikannya dengan sebuah tebasan pedang.


"Bagaimana? Inilah kekuatan dari keluarga bangsawan Marquez, dengan ini kami sudah banyak mengalahkan musuh dari ras iblis."


"Itu memang kuat tapi tidak sebanding denganku."


Aku membuat gerakan untuk membuatnya mundur ke belakang, jika aku membiarkannya terus memukuliku pertarungan ini tidak akan seru bagi siapapun yang menonton, sekarang giliranku membalas.

__ADS_1


Dentrang.


Hantaman tercipta di sana.


Unitnya memang kuat namun gaya bertarungnya tidak lebih baik dari iblis yang sebelumnya aku hadapi.


Perisai menahan tebasan pedangku dan pedang terayun sebagai serangan balasan. Sudah kuduga hal seperti ini mudah disadari.


Perisai memang bagus digunakan dalam pertarungan apapun, sayangnya itu tidak memiliki gerakan yang sulit dibaca lawan, setiap kali menahan di saat yang sama mereka akan menyerang, bagiku aku bisa melewatinya dengan baik.


Aku menyelinap di bawah pergerakan tangannya.


Kuayunkan pedangku dari punggung hingga akhirnya percikan kembang api meluncur ke udara sementara unit Figo mulai maju ke depan karena kehilangan keseimbangan.


Dia bisa bertahan namun aku menendangnya hingga ambruk ke tanah.


"Sialan, kenapa orang sepertimu bisa sekuat ini."


"Kau cukup merendahkan rakyat jelata bukan, apa kalian bangsawan hanya pandai berbicara omong kosong saja... kini rakyat jelata ini telah mempermalukan kalian semua lebih rendah dari serangga."


Aku berbicara menggunakan pengeras suara karenanya hal ini juga bisa didengar oleh bangsawan yang hadir di dalam arena ini.


"Sungguh mengecewakan, bukannya kalian sudah dilatih sejak kecil serta memiliki pendidikan bagus tapi kekuatan kalian hanya sebatas ini."


"Apa kau bilang?"


"Dibanding siapapun kalian lebih membutuhkan kami, lagipula setiap peperangan rakyat jelata yang berada di garis depan kalian hanya muncul setelahnya."

__ADS_1


"Tutup mulutmu."


Figo mengayunkan pedangnya dan aku memblokirnya dengan baik, dia akan menggunakan perisainya jadi aku tidak langsung menyerangnya melainkan menendang kakinya hingga dia sekali lagi kehilangan keseimbangannya kemudian kupotong pergelangan tangannya hingga perisai tersebut hanya menjadi sesuatu yang tidak berguna.


"Lihat benda yang kau miliki tidak lebih seperti sebuah sampah."


"Sialan kau."


Sebelum dia bangkit aku menusukan dua pedang Nemesis di tubuhnya hingga kerusakannya cukup membuatnya tidak bisa bergerak lagi.


"Sumber energi dipastikan sudah tidak mengalir lagi," ucap Qiora dan aku mengangguk puas.


Aku menginjak tubuhnya.


"Aku masuk ke akademi karena kudengar para bangsawan di sini sangat kuat, sungguh mengecewakan bahwa mereka sangat lemah, mau bagaimana lagi saat kalian menolak pelajaran instruktur di akademi ini kami terus belajar dari mereka dan saat kau sadari kami jadi lebih kuat sekarang."


"Mungkinkah kalian mendapatkan bimbingan tanpa sepengetahuan kami."


Mereka semua terpancing, aku bisa melihat bagaimana kepala sekolah ini menahan senyumannya.


Dari awal dia membuat kami sebagai tokoh penjahat.


"Benar sekali, jika kalian tidak mau kedudukan kalian tergeser oleh rakyat biasa seperti kami, mulai sekarang cobalah untuk belajar sebaik mungkin."


"Sialan."


Kurasa itu cukup, aku bisa melihat bagaimana reaksi para bangsawan tentangku, tidak aneh bahwa ada beberapa yang akan mencoba menyerangku atau sebagainya, sayangnya setelah ini kami memiliki hal yang dilakukan maka mereka tidak akan memiliki kesempatan sedikitpun.

__ADS_1


"Pemenangnya Weis Either."


Namaku diumumkan di akhir.


__ADS_2