
Aku menegaskan pada diriku bahwa ini sama dengan menggerakkan tubuhku sendiri. Perlahan aku bisa mengendalikannya dengan baik dan tepat saat unit Zeltras yang satu lagi dihancurkan aku berlari mengantikannya.
Aku melompat di udara selagi menebaskan pedang dari atas ke bawah, memanfaatkan gaya gravitasi seranganku membuat robot musuh berderit ke bawah sebelum aku melompat menjaga jarak.
Di layar monitorku tampak seorang iblis muncul dengan seragam hitam, dia memiliki rambut pirang dengan tanduk melengkung di atas kepalanya.
"Sialan," teriaknya
"Sepertinya aku mulai terbiasa menggunakan benda ini."
"Haha jangan berharap terlalu tinggi, aku salah satu komandan pasukan raja iblis tidak mungkin kalah hanya dengan amatir."
"Mari kita lihat saja."
Kami menerjang secara bersamaan dan saling membenturkan pedang dengan keras, aku memastikan keadaan unit Zeltras yang sebelumnya dihancurkan dan sepertinya pilotnya baik-baik saja.
Dentrang.... Dentrang.... Dentrang.
Percikan besi berbenturan menciptakan hujan api.
Dari tubuh robot musuh menembakan beberapa macam roket peledak. Aku berlari ke samping untuk menghindarinya, karena benda itu terus mengikutiku aku menebas mereka lewat pedangku.
"Jadi ini namanya unit Zeltras, benar-benar hebat, apa mungkin aku bisa menyalurkan sihirku pada benda ini."
Aku mencobanya dan seperti dugaanku manaku diserap baik melalui komponen perangkatnya. Dari tangan robot yang kuarahkan ke depan, itu menciptakan lingkaran sihir biru sesuai elemenku.
__ADS_1
"Bagaimana bisa besi membentuk lingkaran sihir sendiri."
Suara keterkejutan muncul dari lawanku, berarti ini pertama kalinya. Dari lingkaran sihir aku menembakan elemen air yang tidak bisa dihindari.
"Sayang sekali tapi unit seperti ini tahan dengan air."
"Aku hanya ingin mencobanya saja."
Aku berlari dengan tangan memegangi kedua pedang, robot musuh mati-matian memosisikan diri untuk menahannya tapi itu tidak bisa diantisipasi hingga salah satu tangannya berhasil kupotong dengan baik.
Sebelum aku bisa menusukan pedang ke bagian kepalanya dia mampu menangkisnya sebelum mundur menjaga jarak.
Sesuatu tengah dia lakukan, dari tubuh robot itu tampak moncong senjata dikeluarkan dan secara bertahap menarik sebuah energi masuk ke dalam.
"Jangan bilang."
Dia menargetkan kotanya, aku buru-buru berdiri di depan gerbang lalu memaksimalkan manaku untuk menciptakan lingkaran sihir yang berfungsi untuk pertahanan.
Bersamaan itu sebuah cahaya ditembakan dari depan, lingkaran sihirku hancur dan setengah tubuh robot ini telah rusak parah hingga tak tersisa bagiannya lagi.
Paling tidak kotanya selamat.
"Untuk amatiran kau lumayan, siapa namamu Nak?"
"Weis Either siswa Akademi Rosenbag."
__ADS_1
"Begitu, namaku jenderal Vardia.. suatu hari kita pasti akan bertemu lagi dan saat itu aku pasti akan membunuhmu."
Dia melarikan diri.
Aku juga jelas tidak dalam posisi mengejarnya.
Kokpit mesin terbuka dan aku melompat ke bawah, Hoshimiya yang kukira sudah pergi malah kembali dan melompat ke arahku.
"Itu sangat berbahaya, syukurlah kau selamat Weis.. aku bersyukur."
"Maaf membuatmu khawatir."
Para petualang berkumpul di depanku saat Hoshimiya mundur menjaga jarak, mereka mengangkatku ke udara.
"Kau seorang penyelamat, kau berhasil menyelamatkan kota ini Weis."
"Hidup Weis Either."
Ini juga berkat mereka juga, aku senang bahwa semuanya baik-baik saja.
Setelahnya Sento muncul namun seperti yang diduga semua orang, dia terlambat.
"Ugh, seharusnya aku datang lebih awal," setelah mengatakan itu dia malah berjalan pergi.
Pasti dia sibuk dengan monster yang telah masuk ke dalam kota.
__ADS_1
Aku melirik ke arah unit Zeltras yang hanya terduduk hancur dan bergumam dalam hati.
"Apa era sihir memang telah digantikan dengan teknologi seperti ini, kuharap itu tidaklah benar."