
Hoshimiya duduk di atas sofa selagi melipat kakinya dalam suasana frustasi, karena memakai rok pendek aku bisa melihat semuanya.
Hari ini dia memakai warna putih rupanya.
"Aku tidak mau masuk ke dalam dungeon."
Dia terus mengatakan hal itu jadi aku akhirnya mendapat sebuah pencerahan.
"Hoshimiya kamu takut kegelapan."
"Eh aku... aku tidak."
"Sebelum menyangkal perkataanku ada baiknya kau menurunkan kakimu."
"Heh, Weis apa kau mau sedikit berbuat nakal."
"Tentu saja."
"Ugh, memalukan sekali, kau harus bertanggung jawab."
Aku akan bertanggung jawab untuk menikahinya nanti, paling tidak setelah lulus dari sini.
"Mungkinkah selama ini kau terus menempel padaku karena kau takut kegelapan."
Dia mengalihkan pandangannya ke samping, tak berani melihatku secara langsung lalu dengan malu-malu ia mengangguk kecil.
Dia memang sangat imut.
Jadi begitu, lampu kamar akan dimatikan saat kami tidur jadi ia tidak suka hal itu. Entah kenapa aku merasa berterima kasih pada kegelapan yang memberikanku malam indah dengan Hoshimiya.
__ADS_1
"Kenapa kau terlihat senang Weis?"
"Bukan apa-apa, aku tidak akan memaksamu untuk ikut. Hoshimiya bisa tinggal di sini sampai kami kembali."
"Aku tidak mau, aku tidak mau ditinggal sendirian.. apapun yang terjadi aku akan ikut."
Ini sulit untukku, seperti apa yang kuminta kepada kepala sekolah jika kami menang, aku ingin memiliki izin untuk masuk ke dalam ruang bawah akademi ini, sekarang kami berniat pergi pada siang hari.
Apa aku harus menjelajahinya sendirian saja.
Ketika aku berfikir demikian Hoshimiya melompat padaku, merangkulku dan menggunakan senjata miliknya yang berupa kelembutan.
"Weis, kau akan selalu bersamaku kan selamanya, jika aku mati kau juga akan mati juga kan."
"Hentikan kau terlalu gelap, aku akan selalu bersamamu."
"Itu bagus."
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Aku menjelaskan soal Hoshimiya.
"Eh, itu cukup mengejutkan kau takut kegelapan, apa terjadi sesuatu yang membuatmu sedikit trauma?"
"Sebenarnya saat aku kecil aku selalu dihukum oleh Ibuku di dalam lemari dan di sana sangat menakutkan."
Ini terlalu gelap untuk didengar.
Yang jelas kehidupan Hoshimiya cukup sulit, ia juga menceritakan bagaimana ia sesungguhnya berasal dari dunia lain dan lari dari kerajaan yang telah memanggilnya.
__ADS_1
Cassiopeia, Andelona dan aku berlutut meminta maaf. Kami barusan ingin menakutinya tapi sekarang kami jelas berubah pikiran.
"Weis, sebagai kekasihnya kau harus melindunginya."
"Aku mengerti."
"Jika kau berbuat salah aku akan memotong-motong tubuhmu."
"Kenapa kalian berdua malah menyerangku?"
Hubungan aku dan Hoshimiya memang berada di tingkat seperti itu.
Setelah mempersiapkan peralatan, sisanya kami menuruni tangga menuju bagian terdalam ruangan bawah tanah.
Tidak ada penjaga atau hal lainnya sebagai gantinya di sini ditempatkan sihir sangat kuat, dengan menunjukan sebuah kartu yang sebelumnya diberikan oleh Alya. Sihir penghalang dengan cepat dihilangkan dan kami bisa melihat sebuah gerbang besi raksasa dimana setiap rantai melilitnya dengan rapih.
"Jadi ini tempatnya? Apa ada sesuatu yang kau inginkan di dalam sana Weis," tanya Cassiopeia.
"Benar, mungkin itu berada di lantai paling bawah."
"Heh, jadi kita akan turun semakin dalam, berapa lama kita menyelesaikannya."
"Menurut kepala sekolah sudah puluhan tahun tidak ada orang yang mencobanya. Kudengar seseorang bisa mencapai pertengah labirin ini sekitar 3 bulan," balasku pada Andelona.
"Itu cukup lama."
"Karena itulah aku memutuskan ikut, aku tidak ingin sendiri dan jauh dari Weis."
Dia sangat jujur.
__ADS_1
Aku mengelus rambut Hoshimiya.
Gerbang terbuka dan kami melangkah maju, seperti apa yang akan menghadang nantinya, kami siap untuk mengalahkannya.