Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat

Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat
Chapter 40 : Pertempuran Di Pelabuhan Bagian Satu


__ADS_3

Sesampainya di sana kami segera mencari keberadaan musuh, tak perlu lama untuk menemukannya karena ini berada di ujung kerajaan Fortagan mereka secara terang-terangan menjual belikan para budak dengan menaruh mereka dalam kurungan dan ditempatkan di dalam gang-gang gelap.


Melihat itu Sento mendecapkan lidahnya.


Sudah jelas dia akan marah dengan bukti ini berarti seluruh penjaga di pelabuhan ini telah disuap. Dia hendak menerjang ke depan namun aku segera menghentikannya.


"Hentikan, jika kau berbuat onar sekarang mereka akan bisa meloloskan diri dengan mudah."


"Tapi."


Dia orang yang labil juga.


"Kau sedang apa?"


"Aku ingin menggergaji mereka."


Dia juga.


"Untuk sekarang mari pergi dulu ke penginapan aku jelas tidak ingin membuat Geonia terlibat dalam pertempuran."


Resepsionis penginapan tampak terkejut karena aku memesan satu kamar dengan penghuninya wanita kecuali aku sendiri.


"Silahkan kuncinya, mohon untuk tidak terlalu keras karena akan mengganggu pelanggan di sebelah."


"Kau salah paham."


Pria selalu jadi penjahat di manapun mereka berada. Kami melakukan rapat mendadak.


"Ada dua akses yang bisa mereka gunakan untuk melarikan diri yaitu mereka bisa menaiki kapal serta masuk ke dalam hutan, karena itu aku ingin Andelona dan Hoshimiya berada untuk menjaga kemungkinan tersebut."

__ADS_1


"Itu masuk akal, kalau begitu aku memilih kapal."


"Aku pepohonan," potong Hoshimiya.


"Dengar jangan bunuh mereka, kita bisa mengambil informasi lebih dari mereka, untuk pemimpinnya mari bunuh saja."


"Aku tidak tahu ingin bilang bahwa Weis itu baik atau jahat."


Aku tersenyum masam atas pernyataan Cassiopeia tersebut.


"Jika pemimpinnya dihukum tidak ada jaminan bahwa mereka tidak akan mengulangi perbuatan ini. Mereka mungkin akan melakukan hal serupa di kemudian hari."


"Itu terdengar seperti Weis sayangku tidak menyukai hukum, menurutmu Sento?"


"Sayang sekali yang dikatakan Weis memang benar, aku pernah menyaksikan bagaimana para bangsawan lolos dari hukum itu sendiri hanya dengan cara kekuasaan mereka, karena itulah aku berhenti bekerja di ibukota dan menjadi pengajar di akademi, itu juga berlaku untuk penjual budak... jika mereka punya uang maka hukum tidak akan berpengaruh padanya."


Alasan Sento cukup membuat kami terkejut kendati demikian aku melanjutkan rencananya.


"Hehe akhirnya aku bisa beristirahat juga, mari mandi bersama Geonia."


Padahal selama ini dia hanya digendong olehku saja.


"Aku juga ingin membantu."


"Hentikan mereka itu monster kita tidak perlu terlibat."


Diantara kami dialah yang monster sesungguhnya. Beberapa saat menunggu kami akhirnya mulai bergerak.


Sore hari adalah waktu yang kami pilih untuk penyerangan.

__ADS_1


Dari earphone yang kukenakan suara semua orang terdengar.


"Pelabuhan oke."


"Di sini juga oke."


"Di penginapan oke juga Weis... Geonia sangat lembut."


"Hentikan Ahn... Cassiopeia."


"Apa yang kau lakukan?" teriakku.


"Tebak saja."


Aku menghela nafas selagi melirik ke arah Sento yang berada di sampingku selagi mengawasi bangunan di depan kami. Itu adalah kantor pemerintah sekaligus rumah penguasa wilayah ini.


"Mari bergerak."


Aku dan Sento melangkah maju saat beberapa penjaga berjalan ke arah kami.


"Tunggu kalian berdua, apa kalian berasal dari akademi, kalian dilarang da."


Sebelum dia menyelesaikan perkataannya Sento memukulnya beberapa kali sebelum membantingnya ke lantai.


"Sialan."


Aku mengarahkan tanganku dan menembaki mereka dengan bola api hingga mereka terlempar dan pingsan, satu orang menggunakan senapan tapi Sento dengan mudah mematahkan senapan tersebut menendang kakinya kemudian tubuhnya hingga pingsan.


"Kau benar-benar tidak menahan diri."

__ADS_1


"Apa kau mengatakan sesuatu Weis?"


"Bukan apa-apa," kataku demikian.


__ADS_2