
Aku berbaring di tempat tidurku selagi membaca buku saat Hoshimiya menyelinap dan masuk ke dalam selimutku.
"Begini lebih nyaman."
Aku bukan pria naif yang akan pura-pura bodoh lagi, seperti mengatakan apa yang kau lakukan? Atau menjauhlah dariku meskipun sebelumnya aku memang melakukan itu tapi sekarang aku tidak akan.
"Kau bisa lebih dekat lagi jika mau Hoshimiya."
"Yeay."
Aku sebisa mungkin membuat wajah Fake sekarang, aku melirik ke arah Andelona dan Cassiopeia kalian benar-benar bisa membaca suasana hingga sudah tertidur sejak lama.
"Apa yang kau baca?"
"Hanya cerita pahlawan."
Hoshimiya menahan tawanya.
"Maaf, maaf. apa Weis ingin jadi pahlawan? Seorang yang muncul dan menyelamatkan gadis yang dicintainya dari musuh."
"Tidak sejauh itu juga... aku hanya menyukai cerita-cerita yang Heroik."
"Owh aku mengerti... tapi menurutku pahlawan sebenarnya itu tidaklah ada, mereka hanya mendapatkan gelar itu karena mereka kebetulan menyelamatkan orang dan kemudian dipuja-puja dengan pencapaian mereka."
"Apa kau membenci pahlawan Hoshimiya?"
"Tidak, aku benci orang yang memanggil mereka."
"Memanggil?"
__ADS_1
Sebelum aku melanjutkan pertanyaanku Hoshimiya sudah tertidur di lenganku, aku memang belum mengenal semua orang di sini. Aku ingin secara perlahan untuk mengetahuinya.
"Yaw, Weis.. kau sangat kuat. Aku sudah lelah kau tahu."
Dia mulai mengigau lagi, aku lupa tentang kebiasaan buruknya dan anehnya kenapa selalu namaku yang keluar dari mulutnya.
Sebelum aku dituduh sebagai orang tidak bermoral atau mungkin dituduh menghamilinya aku lebih suka mendorongnya agar sedikit menjauh dariku.
Keesokan paginya aku mengembalikan buku tersebut dan mencari sesuatu lagi yang bisa aku baca. Sungguh membosankan bahwa kami tidak mendapatkan pelajaran apapun dari sekolah ini.
Ketika aku melakukannya Cassiopeia menerobos masuk selagi terlihat panik, sebelum aku bertanya dia telah lebih dulu menjelaskannya.
"Weis, Andelona dan Hoshimiya terlibat perkelahian."
"Aku bisa membayangkan apa yang terjadi."
Aku menggendong Cassiopeia dengan perasaan dingin menjalar di punggungku lalu buru-buru ke arah yang dia tunjukkan yaitu halaman luar akademi, ada beberapa orang yang sedang mengepung keduanya hingga aku menerobos masuk.
"Kenapa tidak dia barusan mengejek kami, bahkan mereka juga menghina anak bangsawan tinggi di sekolah ini."
Aku melirik ke arah kedua orang yang dimaksud yang dengan senang membuang muka.
Jadi ini gara-gara kalian.
Mereka pasti bosan dan memilih untuk memburu onar. Cassiopeia turun dari gendonganku dan memilih untuk tidak melakukan apapun.
"Kalian ini siswa paling lemah di akademi ini bahkan kalian tidak memiliki instruktur tapi sejauh ini kalian terlihat santai dan makan bersama kami, apa kalian tidak malu.. kalau jadi aku kalian harusnya jadi budak di sini."
Cassiopeia bereaksi dengan penghinaan itu namun aku segera menutup mulutnya, mereka hanya bocah yang hidup dari uang orang tuanya seolah itu uang mereka sendiri jadi mereka tidak tahu konsep menghargai orang lain.
__ADS_1
Bangsawan memang seperti itu dan nantinya perilaku ini akan diwariskan ke anak-anaknya kembali.
"Hoshimiya dan Andelona, apa kalian tahu harus melakukan apa?"
"Kami harus menghajar mereka."
"Bukan, cepat minta maaf. Aku ingin menyelesaikan ini dengan damai."
Para siswa bangsawan ini tertawa terbahak-bahak.
"Damai, jelas kami tidak berharap kalian bisa lolos."
Sebenarnya siapa pria arogan ini, ketika aku memikirkannya gadis yang lain yang terlihat seperti orang kaya muncul, dia memiliki rambut biru panjang dengan wajah cantik dan di sebelahnya ada wanita lain yang terlihat seperti pengawalnya atau sebagainya.
"Ada apa ini?" tanya wanita cantik ini.
"Maafkan kami tuan putri, mereka semua telah menghina keluarga bangsawan."
Bahkan aku juga dilibatkan, mau sampai kapan pria ini bertindak seenaknya.
"Mereka bilang bahwa kita hanya bangsawan ingusan yang tidak tahu apapun, dan hanya bisa menyusu pada orang tuanya demi kehidupan selanjutnya, mereka juga menghina anda tuan putri."
"Heh?"
Putri itu kebingungan bahkan aku juga merasa sama.
"Mungkin itu tidak disengaja, bisakah kalian memaafkannya termasuk tuan Figo juga."
"Sebagai anak dari bangsawan Marquez aku tidak bisa begitu saja membiarkannya, aku ingin berduel dengan mereka dan melihat bagaimana mereka dipermalukan."
__ADS_1
Kecuali aku ketiganya tersenyum senang seolah jelas menyetujuinya, setelahnya aku dipanggil ke ruangan kepala sekolah bersama Figo serta tuan putri yang entah siapa namanya.
Aku yakin dia pasti senang, kami sekarang jelas berada di atas telapak tangannya sesuai yang dia inginkan.