
"Kau yakin akan membiarkannya begitu saja Weis."
Di atas bangunan di mana hanya aku dan Sento berada, tampak sekumpulan orang telah membawa buku yang lain di tangan mereka, sesuai dugaanku dua di antara buku Rudolf dikirim ke temannya di negara lain.
"Kita tidak boleh mengambil resiko, jika dia mengetahui anak buahnya diserang saat waktu seperti ini, ia akan yakin menuduh kita dan itu buruk bagi akademi, meski kita memakai pakaian biasa dia pasti tahu bahwa kita dari akademi, jaringan pedagang cukup mengagumkan."
"Tak kusangka kau peduli terhadap sekolah."
"Aku peduli pada Alya."
"Kau juga mengincarnya ternyata."
Kurang tepat disebut demikian, karena aku dengannya lebih dulu mengenalnya sejak lama.
"Kita sudah selesai di sini mari pergi."
"Aku ingin membeli beberapa cemilan tengah malam."
"Belilah apa yang kau inginkan."
Colosseum adalah sebuah arena pertarungan yang dijadikan ladang judi juga bagi penontonnya. Semua penonton mulai berteriak semangat saat seorang pria besar menggunakan aksesoris besi telah memasuki arena.
Dia membawa palu besar di tangannya selagi mulut tertutup masker, dari yang kudengar dia adalah juara utama di arena ini secara berturut-turut.
__ADS_1
Orang yang memintanya benar-benar menyedihkan harus melawan anak kecil.
Sementara di sisiku adalah Cassiopeia dengan tubuh mungil memakai sarung tangan hitam tanpa apapun lagi, dilihat sekilas hanya satu dorongan dia akan jatuh tanpa daya.
Mereka berdua saling berhadapan dan wasit mulai menjelaskan hadiah dalam pertarungan ini dan meminta aku ataupun Rudolf maju selagi menyerahkan buku masing-masing dari kami.
Aku mengkonfirmasi soal bukunya dan dua roh di dalam tubuhku mengiyakan.
Arina, Arisa dan satu lagi Miko seorang gadis rubah.
Aku mengandalkan Cassiopeia meskipun hampir semua orang bertaruh bahwa dia akan kalah, kalau begitu siapapun yang menang berhak mendapatkan semua buku.
Saat aku dan Rudolf kembali ke bangku penonton pertarungan mereka berdua dimulai, tanpa ampun pria besar itu mengirim sebuah ayunan palu, Cassiopeia tak bergeming dan melalui tangannya dia menangkapnya dengan satu tangan.
Semua penonton menarik nafas dalam-dalam.
"Benar, itu pasti."
Penonton yang terkesima sebelumnya kembali bersemangat, aku meminta Cassiopeia untuk bermain-main dan menggunakan sebuah akting tertentu.
Aku tidak memintanya untuk terkena senjata hanya saja aku memintanya untuk sedikit bertarung lebih lama.
Cassiopeia melompat, mempersempit jarak kemudian memberikan pukulan kecil, itu mengenai tubuh kerasnya tanpa membuatnya kesakitan, atau lebih tepatnya belum.
__ADS_1
Sarung tangan itu mengirimkan sebuah listrik statis.
Jika ditanamkan di tubuh seseorang secara bertahap, listrik tersebut akan terkumpul dan selanjutnya dia akan tumbang dengan satu pukulan.
Walau Cassiopeia kecil dia seorang jenius sesungguhnya.
"Aaaaaaagh."
Pertarungan kian lama semakin kian cepat.
Ini sudah lima menit maka dari itu sudah waktunya mengakhirinya, Cassiopeia melompat ke udara, tepat saat pria besar itu berbalik Cassiopeia menunjukkan jari tepat di tubuhnya.
Dan kemudian.
Petir menyembur ke langit bagaikan pilar dari tubuhnya hanya dalam waktu singkat pria dengan nama Big Hammer dijatuhkan dengan mudah.
Kemenangan Cassiopeia membuat semua orang terdiam, tanpa menunggu aku mengambil semua buku lalu memutuskan pergi bersama Cassiopeia untuk keluar Colosseum di mana di luar sana mobil sudah terparkir dengan semua orang di dalamnya.
Aku tahu bahwa pria itu tidak akan membiarkan kami pergi begitu saja, selagi sempat mari pergi dan habisi mereka tanpa ada orang yang mengetahuinya.
Aku memacu mobil untuk keluar dari kota.
Sekitar sepuluh orang telah mengikuti kami dengan sebuah kuda.
__ADS_1
"Bunuh mereka dan bawa kembali bukunya."
"Baik."