Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat

Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat
Chapter 77 : Musuh Dari Masa Lalu Dan Sebuah Penyesalan Yang Tertinggal


__ADS_3

Itu adalah sebuah kota yang telah ditinggalkan sejak lama, apapun yang aku bisa lihat semuanya hanyalah reruntuhan semata.


Di mana aku melihat bagaimana mayat-mayat berada telah digantikan dengan rerumputan, aku berhenti sesaat untuk melihat tempat yang sebelumnya aku mati, aku jelas masih ingat bagaimana tubuhku terbelah dua bagian di sini.


"Apa kau baik-baik saja Weis?"


"Tak apa Rista, berbeda dengan dulu aku sudah siap sekarang."


Rista tersenyum selagi berjalan di depanku.


Kami berdua berjalan sedikit jauh dan melihat sebuah patung yang menampilkan makhluk dengan empat tangan, empat mata dan empat tanduk serta ekor mirip seperti kadal.


"Saat kematianmu Weis, aku menyegelnya seperti ini, hanya menunggu sebulan lagi segelnya akan hancur sendiri tapi jika kau mau aku bisa melakukannya sekarang, apa mau berubah pikiran?"


"Tidak."


"Kalau begitu baiklah."


Rista menjentikkan jarinya dan perlahan retakan muncul di makhluk itu.


(Kami semua akan membantu tuan dengan segala kemampuan kami)


(Terima kasih kalian semua, tolong pinjami kekuatan kalian)


Rista berjalan di udara dan menontonnya di atas saat aku bersiap untuk menghadapinya. Aku ingat bagaimana makhluk ini telah membunuh banyak orang dan sekarang aku akan membalaskan dendam semua orang.


Seluruh segel Rista mulai berjatuhan ke bawah, dan hanya hitungan detik aku melesat maju. Aku memberikan tinju ke perutnya dan seketika itu menciptakan ledakan Sonic yang menerbangkannya menembus beberapa bangunan.


"Bagaimana ini bisa terjadi, aku yakin baru saja sudah menghancurkan kota ini tapi sekarang semuanya tampak berbeda."


Sudah kuduga itu belum cukup.


"Kau juga, aku yakin sudah memotong tubuhmu dengan tanganku."


Makhluk itu melirik ke arah Rista.


"Ini semua pasti ulahmu."


"Seperti itulah, aku ingin melihat bagaimana pertarungan ini akan berakhir."


"Cih... aku sudah keluar dari dunia bawah sekarang tidak akan ada orang yang mampu membunuhku."


Tepat saat dia berbicara aku sudah muncul di atas kepalanya, menyayatkan pedangku, itu memberikan goresan di lehernya tapi tidak mampu membunuhnya.

__ADS_1


Sebagai serangan balasan, dia memukulku di perut kemudian menendang tubuhku hingga menembus satu bangunan.


"Cuma bocah, kau bahkan tidak bisa menghindari seranganku."


"Guakh."


Aku memuntahkan darah tapi tidak sampai merusak organ dalamku.


"Aku memujimu karena berani melawanku tapi ketahuilah namaku Lord of Abyss tidak akan kalah hanya dengan manusia."


"Tidak peduli namamu aku akan membunuhmu."


Aku menciptakan puluhan lingkaran sihir dengan berbeda elemen yang secara bersama menembakan sihir tanpa ampun.


Tak perlu menahan diri, akan kukeluarkan semuanya.


Ledakan silih berganti.


Meski tidak menumbangkan Lord of Abyss itu cukup membuatnya melemah.


"Sialan, sama seperti sebelumnya aku akan memotong tubuhmu."


keempat tangannya berubah menjadi pedang dan meluncur ke arahku, dari jauh dia mengirim bilah angin, aku menggunakan sihir ruang untuk melenyapkannya dan memaksanya untuk bertarung secara langsung.


Benar, sekarang aku sudah siap.


Kami saling membenturkan senjata menciptakan dentingan di setiap pertempuran kami, aku tidak akan kalah lagi dengannya.


"Casandra, Inferno."


Ledakan api membuatnya meledak dahsyat.


"Apa-apaan ini, sihir api tingkat atas."


"Talia."


Aku menciptakan naga air yang menerjang ke arahnya tepat saat ia keluar dari asap kemudian menggigitnya sebelum naik ke udara.


"Ini tidak masuk akal."


"Ini untuk semua orang."


"Arina dan Arisa."

__ADS_1


Aku menciptakan tanah kerucut yang mana menembus tubuhnya setelah naga menghantamkannya ke tanah kemudian di susul tebasan angin yang memotong empat tangannya.


"Sialan."


Lord of Abyss membuka mulutnya kemudian menembakan laser ke arahku.


"Miko."


Aku menciptakan lubang hitam yang mana menelan serangan tersebut.


"Dan sekarang akhirnya, Neil, Eir."


Aku menciptakan tombak raksasa dengan sihir cahaya dan kegelapan. Aku melemparkannya dan itu menghantam tubuhnya lalu meledak menjadi bola raksasa hingga tubuhku terhempas ke belakang karena efeknya.


"Gwaaah... tidak mungkin, aku kalah," siluet hitam dari tubuhnya mulai lenyap dan hanya ada kawah raksasa setelah kematiannya.


Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh terlentang menatap langit biru, seluruh roh di tubuhku keluar secara bersamaan dan aku bisa melihat bagaimana mereka tersenyum ke arahku sebelum aku menutup mataku.


"Tuan sudah berhasil, sebaiknya biarkan dia beristirahat sebentar."


"Itu benar."


Rasanya terasa damai, aku membuka mataku dan melihat bagaimana seluruh penduduk yang kukenal menatapku.


"Itu baru raja penyihir, sebaiknya kau tidak melupakan untuk mampir ke tokoku lagi, ada potongan harga untukmu."


Pak tua penjual sate.


"Sesuai yang diharapkan darimu, kakak jadi jatuh cinta loh, mari menikah."


Wanita penggoda di bar.


"Haha aku juga ingin sepertimu kakak, aku akan rajin berlatih."


Anak kecil yang selalu mengagumiku.


"Kalian semua."


Sementara aku meneteskan air mata mereka semua melambaikan tangan ke arahku dan menghilang menjadi butiran cahaya.


"Maaf karena terlambat."


"Tak usah dipikirkan kau paling bekerja keras dibandingkan orang lain, pak tua ini sangat berterima kasih."

__ADS_1


__ADS_2