
Kami tiba di guild di mana pemandangan orang-orang kasar dan sangar menjadi wajah depan dari tempat ini.
Mereka berpenampilan seperti itu namun sejujurnya mereka ramah, kami mengenakan seragam akademi jadi mereka dengan mudah menebak siapa kami.
"Oh, kalian dari akademi kah.. namaku Rex, jadi apa yang kalian butuhkan di sini."
Orang yang menyapa kami pria besar tinggi dengan tubuh berotot serta pedang di punggungnya.
Hoshimiya terus saja menempel padaku.
"Dia seperti orang jahat."
"Ugh."
"Walau dia terlihat sangar, dia pria baik."
"Ahaha maaf, penampilanku memang seperti ini."
"Cepatlah minta maaf."
"Jangan menekan kepalaku."
"Kalian semua telihat kuat, bertarunglah denganku."
Aku memukul kepala Andelona.
"Jangan tiba-tiba menunjukan hawa membunuh."
"Sakit... kau kejam Weis."
Untuk Cassiopeia dia melompat-lompat ke Rex berusaha untuk bisa digendong olehnya.
"Cepatlah, cepatlah, aku ingin terlihat tinggi."
__ADS_1
"Maaf mereka orang-orang bermasalah, aku benar-benar minta maaf."
"Ah tak apa."
Aku melanjutkan.
"Namaku Weis kami di sini hanya ingin bisa mendapatkan uang dari guild."
"Jadi begitu, temui Elma dia pasti akan menjelaskannya."
"Kami mengerti."
Yang dimaksud adalah gadis resepsionis imut dengan rambut pirang serta gaun one piece oranye yang dikenakannya. Ia memakai topi segitiga di atas kepalanya.
"Apa kalian dari akademi? Ini pertama kalinya ada yang datang ke sini."
Itu bisa dimengerti orang yang masuk ke sekolah adalah orang kaya mereka tidak kekurangan seperti kami.
"Kalau begitu aku akan menanyakannya dulu pada guild master, tolong tunggu sebentar."
"Tentu."
Gadis itu naik ke lantai dua lalu kembali selagi menundukkan kepalanya.
"Sepertinya siswa akademi dilarang untuk bergabung dengan guild tapi jika menjual seperti bahan material monster kami akan menerimanya dan membelinya dengan harga yang sama."
"Itu juga sudah cukup menurutku," Cassiopeia yang entah sejak kapan telah berada di bahuku mengatakan hal demikian, Hoshimiya dan Andelona juga terlihat cukup puas dengan jawaban tersebut karena itu kami akan melakukan hal itu dan pergi ke hutan monster.
Beberapa petualang biasa berburu di sini jadi tidak aneh jika kami sesekali berpapasan dengan mereka.
Andelona tertawa.
"Akhirnya ada sesuatu yang bisa kubunuh serang."
__ADS_1
Dia berlari dengan gergaji mesin dan selanjutnya terpental olah ekor kadal hingga menabrak batu besar.
"Orang itu, jika monster dipotong-potong bayaran kita akan jadi kecil."
"Jangan khawatir biar aku saja."
Hoshimiya mengarahkan senjatanya, dia menarik pelatuknya dan timah panas menembus kepala kadal tersebut lalu roboh ke samping.
Andelona hendak maju tapi aku segera memegangi belakang kepalanya.
"Lepaskan aku Weis, biar aku potong-potong."
"Jangan lakukan itu, kau hanya diperbolehkan memenggal kepala mereka."
"Kenapa?"
"Kulit monster ini akan sangat mahal dijual maka dari itu harga yang bisa diberikan pada kita juga lumayan, apa kau mau diluncurkan oleh meriam karena menunggak uang bulanan."
"Dimengerti."
Walau dia kecewa itulah yang harus dilakukan dalam perburuan ini. Uang adalah hal yang penting untuk kami sekarang.
"Kerja bagus Hoshimiya."
"Sugoi desu."
Dia mengacungkan jempol ke arahku sambil berkata dengan bahasa yang tidak aku mengerti dan Cassiopeia terlihat tampak kesal.
"Jika hal itu aku juga bisa."
Aku memang belum pernah melihat kemampuannya jadi ini waktu yang tepat untuk melihatnya.
Cassiopeia menjentikkan jarinya dan sebuah meriam muncul dari lubang hitam, meriam itu berukuran lebih besar darinya dan seperti alat berat yang sangat berbahaya.
__ADS_1