Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat

Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat
Chapter 27 : Penjelajahan Labirin Bagian Tiga


__ADS_3

Aku memberikan perintah pada semua orang saat kami bertarung dengan monster bos di lantai ini.


Itu menyerupai kadal raksasa dengan punggungnya dipenuhi bebatuan.


"Andelona potong ekornya... Cassiopeia dan Hoshimiya alihkan perhatiannya."


"Dimengerti."


Tak kusangka monster ini sangat kuat.


Andelona berhasil memotongnya namun tubuhnya diterbangkan menabrak dinding gua, Cassiopeia melemparkan kerikil untuk mengalihkan pandangannya dan itu berhasil hingga dia dikejar olehnya.


Hoshimiya yang telah menunggu sejak lama berhasil menggores kakinya melalui light saber miliknya, saat kadal itu berbalik ke arahnya aku menerjang maju dan light saber milikku menembus jantungnya hingga roboh ke samping.


Aku membaringkan tubuhku dengan kelelahan.


"Ini benar-benar melelahkan."


Andelona tersenyum penuh kemenangan walau tubuhnya dipenuhi darahnya sendiri.


"Waktunya pemotongan."


Biarkan saja dengan apa yang diinginkannya, aku sudah mendengar keseluruhan cerita tentangnya dari Cassiopeia walau Andelona seperti itu dia memiliki niat baik di dalam hatinya.


"Weis."


"Guakh."


"Jangan menindih tubuhku."


"Barusan cukup menyenangkan jadi begini caranya bertarung secara kelompok di garis depan."


"Kau baru merasakannya."


"Um."


Cassiopeia mendekat tanpa terluka sedikitpun.


"Kau tidak melibatkanku dalam pertarungan di depan jadi itu bagus. Jadi kita akan turun ke lantai 25."


"Aah, kita harus menyelesaikan semua ini."


Satu bulan berikutnya kami telah mencapai lantai 25 dan di bulan berikutnya mencari 50 lantai seperti diprediksi sebelumnya.

__ADS_1


Kini kami menghadapi golem raksasa yang jumlahnya sangat banyak, semakin turun maka area lantai semakin luas.


Aku melompat setinggi golem lawanku, menusukan light saber tepat di area lehernya dan menjatuhkannya bersamaku.


Hoshimiya bahkan harus menggunakan Eternal Suit miliknya untuk melawan mereka. Entah bagaimana kami berhasil.


Mungkin ini yang disebut dengan seseorang akan bertambah kuat sebanyak pertarungan yang telah mereka lalui. Aku menarik pedangku lalu berkata.


"Kita menang."


"Sudah jelas kan, ini semua berkat kemampuan analisaku."


"Baik, baik, Cassiopeia memang jenius."


"Fufu."


Andelona tampak bernafas berat.


"Rokku basah karena kegirangan, Weis minta tisu."


Orang ini.


Dia dengan mudah menghancurkan suasana mengharukan ini.


"Kalian sudah berhasil datang kemari, luar biasa."


Dia pasti sudah mengawasi kami sejak lama.


Wanita itu memiliki rambut merah terang dengan gaun merah terbuka yang menampilkan punggungnya, bahu dan dadanya yang berlimpah. Untuk rambutnya sendiri dia membiarkannya terurai begitu saja sampai pinggul.


"Kau sama seperti yang kukenal Casandra."


Menanggapi panggilanku wanita yang kusebut demikian tampak terkejut, ekpresi bosan di wajahnya telah lenyap seutuhnya.


Hoshimiya yang memegangi Hecate tampak menuntut penjelasanku.


"Kamu berselingkuh, aku tidak masalah jika kamu mencoba menikah dengan wanita lain hanya saja katakan dulu padaku."


"Kau salah paham."


"Aku tidak mengerti tapi apa aku bisa memotong-motong tubuh wanita itu."


"Kau tidak bisa melakukannya."

__ADS_1


Alat yang digunakan Cassiopeia untuk mengukur kemampuan monster hancur seketika.


"Apa dia bos terakhirnya."


"Jika kau mencari bos terakhir aku pikir tulang yang kalian injak adalah orangnya.. jadi kenapa kau tahu tentang namaku?" pertanyaan itu dikirim ke arahku.


"Tak hanya Casandra, aku juga kenal dengan enam orang lagi... bagaimana mengatakannya aku adalah tuanmu, kurasa."


Casandra tertawa.


"Beliau telah mati sejak lama, aku tidak mungkin mempercayainya.. jika demikian kau harus melawanku untuk membuktikannya."


"Apa kita benar-benar harus melawannya Weis."


"Itu akan merepotkan... bagaimana kalau aku bilang kalau aku sering mengelus telinga di kepalamu."


"Ugh."


"Aku juga sering mengelus ekormu."


Sementara Casandra berkata "Awawa" dengan pipi memerah Cassiopeia memotong.


"Ekor, apa maksudnya aku tidak melihat ekor."


Sebelum aku menjawabnya Casandra telah berada di depanku untuk melompat kepadaku, aku yang belum siap menerimanya terjatuh sementara wanita di depanku menjilatiku.


"Jadi benar."


"Tolong hentikan Casandra."


Ekor dan telinga lucu muncul di bagian seharusnya.


Hoshimiya tampak akan menangis.


"Jadi begitu, dia roh kucing," ucap Cassiopeia dan aku menambahkan.


"Bukan roh biasa, tapi aku roh agung... biarkan aku perkenalkan namaku kembali Casandra Lionora, salah satu roh agung dari tujuh buku Avades salam kenal."


Hoshimiya mencengkeram ekor Casandra.


"Bisakah kau menjauh dari kekasihku, aku belum pernah melakukan hal barusan tapi kau malah melakukannya lebih dulu."


"Siapa dia tuan?"

__ADS_1


"Aku akan menjelaskan semuanya."


__ADS_2