Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat

Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat
Chapter 08 : Hutan Monster Memang Menjanjikan


__ADS_3

Aku bertanya pada Hoshimiya, dibanding siapapun dia adalah orang yang memiliki cukup pengetahuan setelah Cassiopeia.


"Apa itu yang disebut alat semi otomatis?" dan ia menjawab dengan anggukan kecil sebelum melanjutkan.


"Aku pikir itu buatan sendiri, tak ada yang memiliki bentuk sebesar itu, jika mengingatnya mungkin senjata semi otomatis yang paling kuat adalah Eternal Suit."


"Eternal Suit?" aku benar-benar asing dengan istilah itu.


"Eternal Suit semacam armor tapi lebih ke arah mesin, itu merubah gadis hanya mengenakan pakaian dalam serta tubuh yang dilindungi mesin dan meriam."


"Bukannya itu malah terlihat cabul."


"Keseksian juga adalah kekuatan."


Aku memasang wajah bermasalah saat Cassiopeia mengarahkan meriamnya ke arah sebuah batu besar.


"Jika senjata sebesar itu akan memakan mana yang sangat besar, bagaimana cara menggunakannya?"


"Itu mengunakan energi yang disebut Rubix."


Aku bisa melihat Cassiopeia mengeluarkan sebuah kotak kubus kecil dari saku bajunya yang di dalamnya berwarna hijau cerah.


Aku ingin tahu apa yang ada di dalamnya namun memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. Cassiopeia memasukannya ke dalam meriam dan perlahan meriam itu terisi oleh energi yang menyilaukan.


Melihatnya sekilas itu berbahaya, dan sesuai yang kuduga saat cahaya itu ditembakan ledakan besar terjadi, batu yang sebelumnya berdiri telah dihancurkan menyisakan lajur lava sepanjang jalannya.

__ADS_1


Cassiopeia tersenyum senang dan aku sama sekali tidak.


"Bagaimana jika senjata ini digunakan bahkan ribuan kadal akan binasa."


"Dan jika itu terjadi kita tidak akan mendapatkan uang sedikipun," kataku lemas.


Dalam perburuan ini aku meminta Cassiopeia sebagai pengumpul buruan dengan tas penyimpanan yang kumiliki.


Aku melompat dengan menebaskan pedangku dan kadal yang lain berhasil tumbang.


"Bagus Weis, akan kumasukkan ke dalam tas."


"Aah."


Di tempat lain Andelona dan Hoshimiya memburu cukup banyak. Letupan senjata bersamaan bunyi potongan gergaji cukup terdengar jelas di sini. Aku bisa yakin semua orang segera menjauh jika mendengarnya juga.


"Tolong diurus untuk harganya," kataku menggodanya.


"Baik, ini kualitas terbaik."


Selagi menunggu aku mengundang semua orang untuk makan di mana aku yang akan mentraktir mereka.


Rex merangkulku dengan segelas bir di tangannya.


"Ya ampun tak kusangka kalian benar-benar hebat bahkan kalian mentraktir kami juga."

__ADS_1


"Ini hanya permintaan maaf kami karena telah berbuat masalah."


"Haha kau lebih cocok jadi petualang dibandingkan siswa akademi, kalau begitu mari bersulang."


"Oooh."


Kami jadi akrab dengan cepat.


Saat kami kembali ke akademi, kami telah melewatkan makan malam, syukurlah kami masih sempat masuk sebelum akademinya di tutup rapat.


Selagi menggendong Cassiopeia di punggungku, aku, Hoshimiya dan juga Andelona menemukan Sento Maria berada di depan pintu selagi menyilangkan tangannya.


"Kalian datang terlambat."


"Kami tadi dari guild dan hingga lupa waktu."


"Begitukah, jika kalian terlambat lagi untuk makan malam aku harus menghukum kalian."


Aku bisa melihat tatapan bersinar di wajahnya, orang ini jelas sangat mengharapkannya.


Dia berjalan pergi dan aku hanya menghembuskan nafas panjang, aku sama sekali tidak ingin dihukum olehnya jika hal itu terjadi mungkin aku akan menikmatinya, bukan berarti aku masokis hanya saja Sento Maria adalah wanita cantik itu sama saja dengan aku akan berduaan dengannya.


Melihat ekspresiku yang terlihat aneh Hoshimiya menusukan jarinya di pipiku.


"Kamu memikirkan hal nakal bukan."

__ADS_1


Intuisi gadis benar-benar kuat.


__ADS_2