Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat

Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat
Chapter 43 : Setelah Badai


__ADS_3

Semua orang kembali ke perahu dan kapal kami mulai berlayar kembali. Saat siang hari kami memakan ikan mentah yang disajikan paman pemilik.


"Apa tak masalah untuk memakannya secara langsung?"


"Jangan khawatir, ikan tuna memang bisa dimakan mentah."


Aku menuruti apa yang dikatakannya dan mencoba beberapa ke dalam mulutku, rasanya enak serta tidak terlalu amis. Untuk Hoshimiya sepertinya terbiasa dengan ikan mentah.


"Di negaraku ini disebut sebagai Sushi, akan enak jika ada nasi juga."


"Begitu."


Nasi adalah barang yang sangat mahal, kudengar para elf saja yang bisa menanamnya saja serta rempah-rempah seperti kecap dan juga kedelai.


Ketika kami memiliki waktu aku ingin pergi ke sana.


Andelona dan Sento makan layaknya orang kelaparan sementara Geonia serta Cassiopeia seperti bangsawan. Aku tidak tahu ada apa dengan orang-orang ini.


Setelah setengah perjalanan, kami dihadang oleh sebuah badai besar, layaknya seperti air bah yang dijatuhkan dari langit, itu membasahi kapal kami bersamaan gelombang raksasa.


Aku meminta para wanita masuk ke dalam kabin, sementara aku dan para awak berusaha mengendalikan semuanya agar kami tidak tenggelam.


"Celaka, gelombang itu akan menyapu kita."


Gelombang setinggi 25 meter atau setara dengan unit Zeltras muncul di depan kami, aku pengguna sihir air hal seperti ini jelas berada dalam kemampuanku.

__ADS_1


Aku menciptakan gelombang yang sama dan secara bersamaan saling bertabrakan hingga akhirnya lenyap sebelum kapal kami benar-benar terhantam.


Membelah langit gelap adalah pemandangan lingkaran cahaya menyilaukan, awal hitam mulai memudar dan hasilnya memperlihatkan keindahan dari langit biru.


Meski begitu.


"Setelah ini hal yang paling berbahaya akan minum."


"Apa maksudmu?"


"Ini sudah menjadi legenda bagi para nelayan saat badai berlalu maka makhluk itu akan muncul."


"Makhluk apa?" tanya Sento yang keluar bersama yang lainnya untuk memeriksa situasi.


Cassiopeia memucat.


"Makhluk seperti ini tipe makhluk yang melecehkan para gadis, ini mengerikan."


Mereka semua mundur secara serempak, entah kenapa di saat seperti ini saja mereka normal. Casandra keluar dari tubuhku menggunakan wujudnya sebagai roh kucing.


"Biar aku saja yang mengatasinya tuan, kebetulan tubuhku sangat kaku karena belum bertarung beberapa hari ini."


"Baiklah, kalau begitu aku akan membuat pijakan untukmu."


"Iya."

__ADS_1


Aku mengarahkan tanganku untuk membuat pijakan dari es di sekeliling monster tersebut, tepat saat itu Casandra melompatinya selagi memberikan tendangan maupun pukulan pada musuhnya.


Dia bergerak dengan cepat membuat pergerakannya sulit diikuti.


"Aaaaah."


Tendangan api merobek perut monster disusul pukulan cepat.


"Hora, hora."


Dia melakukannya secara brutal hingga kepala monster tersebut hancur lalu dia mendaratkan kakinya di pijakan es selagi melirik ke arahku dengan senyuman.


"Aku jadi kembali segar."


Lain kali aku akan membiarkannya bertarung.


Kami akhirnya sampai di laut mengamuk, laut ini seperti namanya bukanlah laut yang bisa dilintasi begitu saja. Aliran disini terlihat aneh seolah kami berada dalam pusaran.


"Kau masih ingin pergi ke sana?"


"Aah, ada seorang teman yang harus aku jemput."


"Kalau begitu kami akan menunggu di sini."


Aku mengangguk mengiyakan dimana Hoshimiya menggunakan Eternal Suitnya untuk membawaku terbang bersamanya ke pulau yang berada di tengahnya.

__ADS_1


__ADS_2