
Cassiopeia melemparkan beberapa granat tangan untuk menutupi pergerakan semua orang dengan asap dan ledakan, semua orang bergerak sesuai arahannya.
"Nona Cassiopeia?"
"Tidak ada jalan lagi kita harus mengalahkannya, jika kita bisa mendekat maka kemenangan dapat diraih dengan mudah."
"Meski Anda bilang begitu orang bernama Ban sulit dihadapi."
Ban adalah salah satu pilar di kerajaan ini, ia memiliki tubuh kurus dengan rambut acak-acakan dan senang menggunakan ledakan seperti sebuah mainan anak-anak.
"Cih, menyebalkan... harus aku sendiri yang harus maju."
Jika Cassiopeia bergerak sembarangan tubuhnya yang akan meledak, dia perlu pengalihan ketika dia menyelinap.
"Kalian semua alihkan perhatian mereka, aku akan pergi ke sana," Cassiopeia mengeluarkan seluruh peledak untuk mereka gunakan.
"Ini?"
"Tarik saja penguncinya seperti ini, lalu lemparkan dan benda ini akan meledak dalam waktu lima detik, kalau kalian telat melemparkannya tubuh kalian yang akan hancur."
"Senjata yang mengerikan."
"Aku mengandalkan kalian."
__ADS_1
Jika ingin menang maka mereka harus lebih nekat dibandingkan musuh. Cassiopeia mengenakan sarung tangan sebelum melompat untuk memecahkan kaca jendela salah satu bangunan, dia mengambil rute paling cepat dan dekat, dia berlari untuk menembuskan dirinya ke jendela lain lalu dia melompat ke bangunan sebelah tanpa memperdulikan ledakan yang menggema di udara, dia melompat untuk mengambil tiang besi kemudian pindah ke atap berbeda.
Walau tubuhnya kecil Cassiopeia jelas sangat mahir dalam gerakan seperti ini, dia melompat di udara dan ketika para penembak meriam menyadarinya Cassiopeia memunculkan sengatan listrik di sarung tangannya lalu menyentuh wajah mereka hingga tak sadarkan diri.
"Apa?"
"Tinggalkan meriamnya, tangkap bocah itu."
Sarung tangan ini adalah pengembangan senjata dari Stun Gun milik Cassiopeia, dengan penggunaan seperti ini akan jauh lebih efisien digunakan.
Cassiopeia melompat di udara memberi tendangan berputar membuat mereka kesulitan setelah memberikan pukulannya, sebuah pukulan balasan tertuju padanya dan ia menangkapnya lalu mengalihkan listrik untuk menyelesaikannya.
Kini tinggal hanya satu orang yang masih berdiri yaitu Ban.
"Sepertinya aku juga sudah cukup."
Dia menarik pedang tipis di pinggangnya dan memakainya dengan gaya tusukan cepat, Cassiopeia menghindarinya namun tusukan itu sedikit menyerempet bahunya memberikan sedikit rasa sakit dari darah yang mengalir segar..
"Senjata ini menghasilkan racun cukup kuat, hanya dengan goresan kau akan mati dalam waktu beberapa menit saja."
"Senjata yang bagus, kalau begitu aku hanya harus mengalahkanmu sebelum racunnya aktif."
"Orang yang nekat haha tapi aku suka."
__ADS_1
Dengan langkah cepat Cassiopeia melewati setiap serangan padanya, dia mendapatkan goresan berikutnya namun di detik akhir ia berhasil menangkap pedang tersebut.
"Kurasa itu cukup."
Listrik mengalir dari pedang tersebut menyengat tubuh Ban dengan kekuatan luar biasa, tubuhnya hangus sementara rambutnya gosong dengan model apro sebelum roboh ke tanah tanpa kehilangan nyawanya.
Cassiopeia mengeluarkan suntikan lalu menyuntikkannya pada tubuhnya sendiri.
"Apa yang kau lakukan? Kau bahkan tidak tahu racun seperti apa yang digunakan pedang ini?"
"Tak perlu, karena merepotkan aku membuat sebuah penawar untuk segala racun apapun, hanya dengan ini sudah cukup."
Mata Ban terbelalak terkejut.
"Aku pernah mendengarnya, seorang gadis yang mampu membuat segala hal seperti mesin ataupun obat-obatan.. kau si genius dari kota mesin."
Cassiopeia menyentuhkan tangannya dan Ban langsung tak sadarkan diri.
"Nona Cassiopeia Anda berhasil."
"Sudah kubilang panggil aku nona Cassiopeia yang agung, hancurkan setiap meriam lalu setelah selesai mari kita juga bergerak."
"Baik."
__ADS_1