Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat

Reinkarnasi "Penyihir" Menjadi Siswa Akademi Militer Terkuat
Chapter 29 : Kembali Ke Rutinitas Akademi


__ADS_3

Alya menaruh tehnya kembali setelah aku menceritakan perjalananku ke labirin ruang bawah tanah di akademi ini. Tentu saja keberadaan Casandra jelas aku sembunyikan.


[Ah, dia gadis kecil yang bilang menyukaimu tuan, heh dia sungguh berkembang]


[Kau diamlah, jika ketahuan ia pasti akan langsung mencekikku]


"Jadi Weis apa menurutmu labirin itu bisa dibuka untuk pelatihan akademi?"


"Kau sudah memikirkannya sejauh itu?"


"Aku ingin lebih membantu para siswa di sini untuk semakin berkembang."


Aku memikirkannya sejenak sebelum memberikan tanggapan.


"Itu bisa saja namun dari lantai 10 sampai seterusnya akan lebih baik membiarkan seorang instruktur mendampinginya."


"Begitu, ngomong-ngomong soal instruktur... partymu kini telah terpilih untuk melakukan misi di luar akademi."


"Apa maksudmu?"


Aku jelas tidak mengetahuinya.


"Di akademi ada peraturan khusus bagi siswanya yang memiliki kemampuan terbaik mereka akan mendapatkan misi khusus di luar akademi dan diberikan satu instruktur yang akan mendampinginya.. alasan Figo menantangmu dengan sungguh-sungguh tidak lain karena itu juga."


Aku mengingatnya sekarang, jadi inilah maksud dari perkataan Cassiopeia.


"Kalian sudah berjuang di ruang bawah tanah akademi jadi aku jelas tidak akan memberikan misi apapun untuk sebulan ke depan jadi bersantailah selama itu."


"Jadi siapa instruktur kami?"


"Sento Maria."


Aku mengerutkan alisku, dengan kata lain kami bisa berpergian bersamanya.


"Apa aku bisa menolaknya?"


"Sayang sekali karena ini peraturan jika kau menolaknya kau mungkin harus dikeluarkan."

__ADS_1


"Sampai sejauh itu."


Rasanya seperti aku baru saja masuk ke dalam kandang singa, tapi biarlah mungkin itu juga yang akan membuat aku semakin kuat.


Untuk buku Avades aku tidak terlalu terburu-buru.


Dengan kemenanganku di pertandingan itu kelompokku akhirnya mendapatkan kelas untuk belajar. Saat aku ingin menghampiri mereka di kelas para gadis akademi langsung mengerumuniku dengan banyak bunga dan coklat.


"Kamu sangat hebat Weis, apa kamu punya waktu untukku?"


"Aku juga, apa kau bisa meluangkan waktu ke gudang."


Aku tidak ingin melihat sisi gelap seperti itu.


Gudang adalah tempat yang harus kuhindari.


"Ahaha."


Aku mencoba sebaik mungkin untuk menolaknya dan itu menguras banyak mental karenanya. Hoshimiya mengembungkan pipinya sedikit marah.


"Jangan khawatir aku tidak akan menyentuh mereka."


Dia sangat imut.


Cassiopeia tersenyum mengerikan.


"Nah Weis mau belajar pelajar reproduksi aku punya beberapa buku yang menunjang hal itu."


"Aku tidak mau."


"Reproduksi kah, apa itu semenyenangkannya dengan memotong-motong tubuh monster."


"Benar Andelona, saat kau mencobanya kau akan ketagihan dan setiap malam kau akan terus memintanya."


Oi, apa ini perkataan normal yang dikatakan siswi akademi.


Lumia dan pengawalnya muncul untuk menyapaku.

__ADS_1


"Pagi Weis, senang rasanya melihat kamu dan yang lainnya sudah kembali kemari."


"Ah iya."


Dia lalu memberikan buku pada Cassiopeia.


"Terima kasih untuk bukunya, banyak hal yang bisa aku pelajari dari sini."


"Syukurlah jika kamu mengetahuinya."


"Oi, bukannya buku itu cara reproduksi."


"Haha memalukan sekali, tapi aku harus mempelajarinya... Weis kalau mau, maukah kau mengunjungi kamarku nanti malam."


Aku menarik pipi Cassiopeia selagi berteriak.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku meminjamkannya sebelum penjelajahan, aku pikir ia perlu sedikit bimbingan."


"Dengar Lumia jangan pernah lakukan itu apa lagi dengan pria yang tidak kau sukai, dengar."


"Iya, lagipula aku menyukai Weis."


Seluruh suasana jatuh ke dalam keheningan.


Hoshimiya menatap penuh permusuhan.


"Sepertinya aku mendengar sebuah deklarasi perang barusan."


"Ara, mungkin kau salah dengar.. tanpa peperangan aku pasti akan jadi istri pertama."


"Heh."


Mereka saling mendorong dada mereka satu sama lain dengan kilatan petir di wajah keduanya.


"Baguslah Weis, sepertinya kau populer."

__ADS_1


"Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang buruk nantinya."


__ADS_2