
Bab 1. Prolog
Azka: "Jangan salah faham. Saya menikahi kamu karena terpaksa. Saya tidak bisa melawan keinginan bunda."
Dea : "Saya mengerti! Maaf jika sekali lagi saya menjadi parasit dalam hidup bapak. Tapi bapak tidak usah khawatir, kali ini saya tidak akan menjadi beban buat bapak. Anggap saja saya tidak ada. Bapak tidak punya kewajiban menafkahi saya, lahir dan batin. Bapak tidak perlu merasa terikat dengan pernikahan ini. Jika bapak ingin menikah lagi, silahkan melakukannya, tanpa persetujuan saya pun, silahkan. Setelah kondisi bunda membaik, saya pastikan akan pergi jauh dari kehidupan bapak bahkan untuk sebuah kebetulan pun tidak akan pernah memiliki celah untuk saya muncul di hadapan bapak."
Azka: "Baguslah kalau begitu, saya pegang kata--katamu. Saya sudah tidak sabar melihatmu menghilang tanpa jejak dari hidupku!"
*****
Azka melangkah pergi, meninggalkan Dea dengan mata memanas dan hati yang tak kalah panasnya. Gemuruh perasaan tak berdaya menghantamnya sekali lagi. Laki-laki itu, laki-laki yang dulu diidolakannya sewaktu kecil, sekali lagi mengucapkan kalimat menyakitkan, merontokkan segala sendi-sendi jiwanya.
Dea memeluk tubuhnya, ia baru merasakan dingin yang menusuk-nusuk hingga ke celah pori, angin di balkon kamar Azka saat ini berhembus lumayan kencang. Seharusnya malam ini bulan purnama menguasai kegelapan, sayangnya ia harus pasrah ditutupi oleh awan gelap.
Dea melangkah masuk ke kamar, ia mengunci pintu dan jendela. Sekarang yang terdengar hanya desauan mesin pendingin ruangan dan gemericik air dari balik pintu kamar mandi. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam, Dea sudah merasa terlalu lelah. Lelah hati dan fikiran, fisiknya juga, habis Isya tadi dia resmi menjadi istri Azka, anak sahabat orang tuanya, tetangga masa kecilnya, GM tempatnya bekerja dan sekaligus laki-laki yang sangat membencinya.
Semua terjadi begitu saja, Dea yang datang bertamu mengunjungi bunda Aya yang sedang sakit, sekarang malah terjebak dalam pernikahan bersama putranya.
Dea tidak bisa berbuat apa-apa, ia mengingat pesan kedua orang tuanya sebelum meninggal di Rumah Sakit dalam kecelakaan 6 bulan silam untuk selalu menurut pada keluarga om Arga dan bunda Aya.
Bergitupun dengan Azka, titah bundanya seperti suara Tuhan, tak bisa ia bantah.
Bagaimana perasaan Dea?
Tidak jauh beda dengan Azka, Dea pun sudah hampir melupakannya. Bedanya, Dea tidak ingin membenci siapapun.
Dea mengambil sebuah bantal kepala kemudian memindahkannya ke atas karpet tebal yang terhampar di space sisa antara jendela dengan tempat tidur. Tidak begitu luas, hanya sekitar 1 meter, namun itu sudah cukup untuk Dea. Sebenarnya ada sigle sofa di dalam kamar, namun itu tidak akan cukup untuk panjang badan Dea saat tidur. Lagian jika memilih tidur di bawah, setidaknya Azka tidak akan melihatnya begitupun dengan dirinya.
Azka keluar dari kamar mandi dan tidak menemukan Dea. Ia fikir Dea masih di balkon. Cepat-cepat ia kenakan pakaiannya, emosinya sudah sampai diubun-ubun, namun saat hendak membuka pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon, tidak sengaja matanya menangkap keberadaan Dea dengan nafas yang terdengar berat namun teratur.
"Cih..dasar keras kepala." Azka berdecih melihat Dea yang memilih tidur di karpet.
Azka merangkak naik ke tempat tidur, sebelum membaringkan tubuhnya yang lelah, diam-diam ia sempatkan melirik sebentar wajah Dea. Di sana masih tampak wajah sembab milik Dea. Azka tidak mau peduli, ia baringkan tubuhnya telentang, memandang langit-langit kamar yang ditrmani temaram lampu tidur. Hingga ia pun terlelap memasuki ruang peristirahatan bagi jiwa-jiwa yang lelah.
Biarkan malam yang memelukmu, agar esok saat kau terbangun, kau bisa melupakan sedikit kepenatan hidupmu, digantikan oleh hari baru yang menyambutmu dengan tenang.
__ADS_1
*****
Hai, kenalkan;
Aulia Deandra Azkiya, 22 tahun. Dea adalah alumni Teknik perkapalan Universitas Ayam Jago, Makassar. Sudah setahun bekerja sebagai Planning Engineer di BM Shipyard. Dea adalah anak tunggal dari pasangan Muhammad Yudha dan Winny Ervinawati.
Dea adalah nama kecilnya, setelah pindah ke kota Makassar, teman-temannya di sana lebih senang memanggil namanya Ali karena penampilannya yang tomboy dan ceria.
Setelah tamat SMA, ia mulai menggunakan hijab dan lebih nyaman memakai rok panjang dibanding memakai celana Jeans atau semacamnya. Meskipun wajahnya tampak anggun dan memancarkan kecantikan alami dengan bibir sedikit berisi warna pink kemerahan, kulit putih bersih dan terawat, ditambah lagi tinggi badan yang lumayan dari tinggi ìkebanyakan perempuan Indonesia yang 165cm itu, namun sisa-sisa ketomboyannya masih sedikit membekas, ditambah lagi ia kuliah di juruaan teknik sehingga teman bergaulnya kebanyakan dari kaum Adam. Bukan hanya cantik, dia juga punya otak encer, tidak salah sehingga ia bisa menyelesaikan pendidikan sarjananya hanya dalam waktu 3,5 tahun dengan IPK 3,98 dan menjadi lulusan terbaik di Universitasnya. Dea sangat tertarik dengan dunia rancang bangun kapal karena sejak kecil sudah melihat ayahnya berkutat dengan proyek-proyek pembangunan kapal yang dilakukannya bersama om Arga, tetangga sekaligus sahabat ayahnya.
Arazka Alifaturrizky Argantara, 24 tahun. Lulusan Teknik Rancang Bangun Kapal di Universitas Kyoto, Jepang. Saat ini bekerja sebagai project manager termuda di Mitsui E&G Shipbuilding. Sebentar lagi Azka akan kembali ke Indonesia untuk mengelola perusahaan milik orang tuanya, ia akan menjabat sebagai General Manager di BM Shipyard. Punya 2 adik, 1 cowok terpaut 2 tahun di bawahnya dan 1 cewek berjarak 5 tahun darinya.
Aufar Abdillah Argantara, adik Arga ini sedang melanjutkan S2nya di German, berbeda dengan ayah dan kakaknya, ia lebih memilih mengambil jurusan Teknik Mesin dibanding bidang perkapalan.
Azka dan Aufar tidak pernah akur, entah apa yang memicunya, Azka selalu merasa tidak nyaman berada di dekat Aufar sementara Aufar sering memanfaatkan ketidaknyamanan Azka padanya sehingga berujung Azka yang selalu pergi menghindar darinya.
Aisyah Argantara, Caca. Anak bontot, sekarang masih kuliah S1 di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Nusantara. Dia sangat cantik, mengikuti kecantikan bundanya. Ia manja namun penyayang.
__ADS_1
Aldo, sahabat Azka sekaligus asisten pribadinya di BM Shipyard.
Chyintia Putri, sahabat Azka, pacar Aldo, profesi model. Ia terikat hubungan friend of benefit dengan Azka. Di luar, orang-orang taunya Azka dan Tia adalah pasangan kekasih, padahal Tia memanfaatkan ketenaran nama besar keluarga Azka untuk memuluskan karir modelnya, sementara Azka memanfaatkannya agar terhindar dari kejaran perempuan-perempuan yang tergila-gila pada ketampanan dan kekayaan keluarganya.
Badai, orang pertama yang Dea kenal saat menginjakkan kaki di kampus. Akhirnya mereka pun bersahabat, tepatnya Badai jadi tukang ojek terbaik bagi Dea dan Rara.
Rara, sahabat Dea di kampus. Sama dengan Badai, mereka bertiga adalah sahabat. Badai sendiri mengambil jurusan teknik elektro, sementara Dea dan Rara sekelas dan mengambil jurusan yang sama. Setahun setelah Dea Sarjana dan langsung bekerja di Jakarta, Badai dan Rara menyusul Dea ikut bekerja di BM Shipyard.
×××××
Hallo Readers, jumpa lagi sama Author dalam novel berbeda. Anggap saja ini adalah sequel novel dari Kapal Cinta Ayana.
Semoga berkenan.
Mohon komentar, like dan votenya yah, biar author semangat. Thanks..
_Big Hug_
__ADS_1