Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Ramuan


__ADS_3

Bab 36 Ramuan


Aufar


Sementara di rumah utama, semua keluarga masih berkumpul, masih saling melepas rindu. Entah kapan terakhir mereka bisa berkumpul seperti ini.


"Kapan kamu kenalkan calon istrimu ke oma?"


Aufar terkesiap mendapati omanya sudah duduk di sampingnya ikut menikmati angin sepoi-sepoi di taman samping rumah tempatnya kini melepaskan penat.


Aufar menggeleng, menarik omanya dengan rangkulannya.


"Aku belum berfikir ke sana, oma! Kasihan anak gadis orang kalo nikah sama aku, mau dikasi makan apa?" Jawab Aufar sedikit bercanda.


"Jangan pernah takut menikah karena masalah rezeki. Allah itu Maha kaya, minta dong sama Allah, pasti diberi. Yang penting kamu sudah siap bertanggung jawab dan bersungguh-sungguh, jangan ragu lagi!"


"Iya, oma! Aku belum siap, jalan masih panjang. Nanti aja."


"Kamu gak mau bercerita ke oma tentang sesuatu mungkin?" Tanya omanya menyelidik.


Aufar tersenyum, mungkin omanya bisa melihat kegundahannya saat ini. Namun biarlah perasaan itu ia simpan sendiri, ada hal-hal yang sebaiknya tidak perlu dibagikan ke orang lain, meskipun itu adalah kepada orang terdekat kita sendiri. Aufar enggan membebani fikiran omanya, toh semuanya sudah berlalu, tidak etis rasanya mengungkapkan perasaan yang jelas-jelas sudah terlarang.


"Gak ada oma, suatu saat aku akan mengenalkan seorang gadis kepada oma. Tapi tidak sekarang, soalnya hilalnya aja belum kelihatan." Aufar tertawa menampakkan gigi-gigi putihnya yang rapi dan bersih.


"Kamu ini, bercanda mulu!"


Omanya pun ikut tertawa dengan masih saling merangkul.


*****


Dea


Azka dan Dea sepakat tidak memperpanjang cuti mereka untuk bulan madu. Hal ini mengingat pekerjaan mereka di kantor. Puncak-puncak kesibukan pekerjaan di kantor akan berlangsung selama 3 bulan ke depan. Dan tanggung jawab terbesar ada di pundak Dea untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana yang sudah ditetapkan.


Dan siang ini mereka akan pulang ke rumah utama mengingat keluarga besar Azka masih berkumpul di sana.


Saat ini Azka dan Dea sedang dalam perjalanan pulang yang disopiri oleh Aldo. Tubuh Dea sangat lemas, belum lagi rasa perih yang dirasakannya benar-benar membuatnya sangat tidak nyaman. Namun tinggal di hotel juga bukanlah pilihan terbaik mengingat keganasan Azka yang tak pernah kehabisan energi menyentuhnya.

__ADS_1


"Nyonya bos gak dibawa ke rumah sakit dulu, Ka?" Aldo nampak khawatir melihat Dea yang terkulai lemas dipelukan Azka, apalagi tadi saat keluar hotel Azka menggendongnya.


"Gak usah bang, aku gak apa-apa kok!" Tolak Dea, malu dong saat nanti ditanya dokter sakit apa terus jawabnya kecapean karena habis melakukan 'itu'.


"Udah dari tadi gue bilang mau bawa dia ke Rumah Sakit, Do. Tapi dianya nolak terus." Azka membela diri, kenyataannya memang dari kemarin ia sudah menawarkan Dea periksa ke dokter namun Dea tetap menolak.


"Elo sih, sama istri jangan ganas-ganas gitu. Kasihan! Mentang-mentang baru rasain pecah telor udah langsung rapelan macam kagak ada hari besok lagi." Cibir Aldo.


"Sok tau lo, Do!" Azka melempar tissu ke Aldo yang tentu saja hanya diabaikan Aldo.


Sebenarnya Dea merasa malu mendengar pembahasan mereka, bagaimanapun urusan ranjang adalah hal yang tabu diumbar-umbar kepada siapapun, meskipun semua orang yang sudah menikah pasti tau, tapi seharusnya cukup tau saja dengan urusan masing-masing, tidak perlu penasaran dengan urusan ranjang pasangan lain. Apalagi Aldo belum menikah, kawin mungkin sudah, tapi tetap saja biarlah itu menjadi rahasia berdua.


Sesampainya di rumah, Azka kembali menggendong Dea masuk ke dalam rumah, Dea sempat menolak, tidak enak dilihat oleh semua keluarga, namun kondisinya memang sangat sulit untuk berjalan sendiri, apalagi untuk naik tangga ke kamar mereka.


Saat melewati ruang keluarga, ternyata semua sedang berkumpul menunggu makan siang sambil bercengkrama di sana.


"Loh, Dea kenapa, Ka?" Bunda Aya langsung mendekati mereka, beliau cukup panik melihat menantu kesayangannya yang tidak berdaya.


"Gak papa kok, Bun. Bang Azka aja yang lebay pake gendong segala." Dea memilih menjawab pertanyaan bundanya karena Azka hanya mengangkat bahunya tadi saat ditanya.


"Uluh-uluh.. pengantin baru, nempel terus kayak sepatu ama talinya." Tante Alya ikut mendekati mereka.


"Pelan-pelan dong, Ka! Tuh, ayah kamu aja yang baru bisa pecah telor hampir enam bulan setelah pernikahan gak ganas-ganas amat sampe bikin gak bisa jalan istrinya gini." Ucap tente Alya menggoda mereka.


Sementara mereka yang ada di sana terkekeh melihat wajah panik Dea dan Azka. Jika awalnya Azka merasa biasa-biasa saja, sekarang Azka keder juga digoda oleh tante Alya. Takutnya dia dibilang laki-laki mesum atau hipersek*.


"Udah-udah, jangan digodain terus." Sela oma Andini menengahi. "Bawa istri kamu istirahat, kalian makan siang di kamar aja nanti." Perintah oma membuat Azka segera melanjutkan langkahnya menuju kamar mereka.


Keringat bercucuran di dahi Azka, membuat Dea merasa tidak enak dan tanpa sadar mengelapnya dengan punggung jari telunjuknya.


"Maaf!" Ucap Dea.


Azka meletakkan tubuh Dea di atas tempat tidur dengan pelan dan lembut, seperti porselin yang ia takutkan akan pecah, ia benar-benar sangat hati-hati.


"Kamu istirahat saja!" Kecupan lembut mendarat di kening Dea. "Maaf udah buat kamu kesakitan seperti ini." Imbuhnya.


Semburat merah di wajah Dea kembali terbit, hatinya selalu menghangat setiap kali Azka bersikap manis padanya.

__ADS_1


Dea memiringkan tubuhnya kemudian mulai memejamkan matanya. Sebenarnya ia sudah tidak mengantuk, namun tubuhnya harus dipaksa beristirahat jika ingin pulih secepatnya. Azka masih dengan sabar duduk di sisi tempat tidur sambil memainkan rambut Dea.


Tok tok tok!


Bunda masuk menghampiri mereka dengan membawa sebuah nampan.


"Ini obat pereda nyeri dan salep. Nanti minta Azka olesi di bagian itu." Ucap bunda sambil menyerahkan sebuah salep ke tangan Azka.


Dea dan Azka sejenak saling pandang kemudian sama-sama membuang muka, menjadi salah tingkah di hadapan bunda. Dea tidak bisa membayangkannya. Itu memalukan!


"Dea makan dulu, jangan lupa minum obatnya setelah makan." Bunda Aya ikut duduk di sisi tempat tidur, membuat Azka sedikit menggeser tubuhnya lebih ke bawah dekat kaki Dea.


"Masih bisa bangun sendiri?" Tanya bunda pada Dea namum matanya menatap sinis kepada Azka. Azka yang merasa di tatap mengalihkan rasa bersalahnya dengan terus memijat-mijat pelan betis Dea.


"Iya, bunda. Bisa kok!" Dea mengangkat sedikit badannya kemudian duduk bersandar di kepala tempat tidur. Ini benar-benar terasa sakit namun ia berusaha menyembunyikannya.


"Minum dulu minuman ramuan ini selagi masih hangat!" Bunda mengangkat gelas kemudian mendekatkannya ke bibir Dea. Dea ingin mengambil alih gelasnya namun tangannya ditahan bunda.


"Buat aku mana, bun?" Protes Azka manja namun tentu saja ia hanya bercanda.


"Ayah sudah beli susu kuda buat kamu, tapi tadi kata ayah dibatalkan demi menjaga kesehatan Dea. Kamu gak dikasi apa-apa saja istri sudah dibuat tidak bisa jalan begini!" Bunda mendecih melihat hasil kebuasan Azka.


Azka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Habis enak sih, bun!" Azka tergelak sendiri namun dua pasang mata saat ini sedang melotot melihatnya seperti mangsa yang siap ditelan bulat-bulat.


Merasa terancam, Azka buru-buru berdiri namun ia sempatkan mengecup pipi bundanya dulu tak lupa mengecup salah satu benda kesayangannya saat ini, yaitu bibir Dea.


Mata Dea melebar, berani-beraninya Azka mencium bibirnya di depan bundanya. Sementara bunda Aya tidak bisa menahan tangannya untuk memukul lengan Azka yang tingkat kemesumannya baru ia ketahui sekarang.


Azka segera melipir keluar kamar.


Sementara Dea seperti kucing yang habis kecebur di dalam air, rasanya ia sudah tidak punya muka lagi di hadapan mertuanya itu.


"Semoga calon cucu bunda segera tumbuh di dalam sini." Tiba-tiba beliau mengusap lembut perut Aya.


"Aamiin.. bunda doakan aja!" Dea memeluk beliau penuh perasaan. Sungguh Dea belum bisa meraba bagaimana kelanjutan rumah tangganya di masa depan.

__ADS_1


×××××


__ADS_2