
Bab 78 Prematur Terlambat
Dea bangkit dari tempat tidur kemudian berputar mengitari Azka hendak mendorong kursi rodanya.
"Aduh!" Dea meringis kesakitan memegang perutnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Azka panik.
"Perutku sakit banget!" Dea kembali duduk di sisi tempat tidur, rasa sakit yang menderanya begitu kuat.
"Sabar, kamu istirahat dulu. Abang panggil Nisa dulu."
"Nisa..Nisa..Nisa.." Teriak Azka ke arah pintu.
"Iya pak." Nisa masuk ke ruangan tergopoh-gopoh mendengar Azka memanggilnya.
"Panggilkan dokter, panggilkan siapapun, Dea kesakitan."
"Baik pak." Dengan cekatan Nisa kembali keluar ruangan melaksanakan perintah Azka.
Dea masih meringis menahan rasa sakit di perutnya. Keringat dingin memenuhi wajahnya. Ia bisa merasakan keringatnya mengaliri tubuh bagian belakangnya.
"Yaa Allah.. sakit banget, bang." Keluh Dea.
"Sabar yah, sayang.. istighfar..istighfar!" Azka tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa mengelus-elus perut Dea, rasa sakit di pahanya terasa ngilu jika digerakkan.
Pintu kembali terbuka menampakkan bunda Aya dan ayah Arga mendekati mereka lalu disusul beberapa perawat dan dokter yang menangani kandungan Dea.
"Baring dulu." Ucap dokter Fany kemudian tangannya bergerak lincah di atas perut Dea.
Bunda Aya mengitari tempat tidur memilih duduk di sisi lain sambil memegangi tangan Dea.
"Apa sebelumnya pernah rasakan sakit seperti sekarang?" Tanya dokter Fany.
Dea menggeleng, "Tadi di kantor sempat rasa sakit, tapi baru kali ini sesakit ini, dok." Jawab Dea dengar bibir bergetar.
"Maaf yah, kita coba cek dulu." Dokter Fany kemudian membuka kedua paha Dea kemudian memasukkan jarinya ke dalam kewanitaan Dea.
"Ini sudah pembukaan lima."
"Tapi dok, ini belum 9 bulan?" Sela Azka merasa khawatir mengingat kandungan Dea yang masih berusia 8 bulan.
"Sepertinya ibu mengalami stress berat yang merangsang terjadinya pembukaan jalan lahir si bayi, pak." Jawab dokter Fany.
"Tidak masalah dokter, yang terpenting lakukan yang terbaik untuk anak dan cucu kami." Ucap bunda Aya penuh harap.
"Iya dok, InsyaaAllah kami usahakan. Baik, kalau begitu kita akan ke ruang bersalin dan kita lihat apa bisa lahir normal atau caesar."
"Caesar aja, dok!" Ujar Azka cepat.
Dea menggeleng. "Kalau bisa normal, normal aja dok." Tolak Dea.
Azka menatap sayu kepada Dea, "tapi sayang ini---"
__ADS_1
"Udah..udah.. serahkan ke dokter, nanti kita lihat hasilnya mana yang paling memungkinkan." Sela bunda Aya, ia tidak ingin mempersoalkan mesalah melahirkan normal atau caesar.
Dokter Fany memeriksa kandungan Dea dengan USG setelah mereka sudah tiba di ruang bersalin.
"Posisi bayinya bagus kok bu..pak! Kalau mau normal tidak masalah. Lagian usia kehamilan sudah 35 minggu. Ini namanya lahir prematur terlambat. Gak masalah, posisi kepala sudah ada di bawah, dilahirkan normal atau caesar, sama amannya." Ucap dokter Fany menatap Azka dan Dea secara bergantian.
"Ikuti keinginan Dea saja kalau begitu." Kali ini ayah Arga yang memberi saran.
Ia ingin menantunya itu merasa nyaman dan dihargai keinginannya. Meskipun jauh di lubuk hatinya tidak ingin melihat anak menantunya itu merasakan sakitnya kontraksi selama proses persalinan. Beliau ingat betul bagaimana istrinya dulu selalu bersikeras melahirkan anak-anaknya secara normal, terakhir Caca yang terpaksa dilahirkan caesar karena waktu itu usia istrinya sudah 37 tahun. Ia tidak ingin mengambil resiko.
"Apa kamu yakin sayang?" Tanya Azka menatap ke dalam manik mata Dea.
Dea mengangguk dan mengulas senyum meski wajahnya tidak bisa lagi menyembunyikan rasa sakit yang semakin bertambah-tambah menderanya tanpa henti.
"Kalau abang ridha, aku pasti bisa!" Ucap Dea sambil membawa tangan kanan Azka untuk dikecupnya.
"Apapun sayang, asal kamu janji kamu akan baik-baik saja, abang ridha." Ucap Azka mengecup singkat kening Dea.
"Oke baik, kita tunggu dulu sampai pembukaannya sempurna, ini juga ketuban belum pecah. Bu Dea yang rileks yah. Kalau gak kuat rasa sakitnya, ibu boleh coba tidur miring. Dan jangan lupa banyak-banyak ingat nama Allah." Ujar dokter Fany kemudian bangkit dan meminta bidan dan perawat yang membantunya untuk menyiapkan semua peralatan yang diperlukan, termasuk oksigen buat jaga-jaga, mengingat kelahiran ini masih tergolong prematur.
Beruntung mereka berada di ruang bersalin khusus sehingga Dea tidak malu mengekspresikan rasa sakitnya. Apalagi bunda Aya selalu menyemangatinya.
"Gak usah takut dibilang tukang mengeluh, memang sakit kok, sayang. Jadi gak usah malu keluarin suara karena merintih kesakitan, ini adalah rasa sakit yang paling sakit dari semua rasa sakit yang ada, tetapi ini juga adalah sebuah nikmat paling ternikmat yang akan kamu rasakan." Bunda Aya menjeda kalimatnya kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Dea. "Apalagi jika kamu berhasil mendapatkan orgasme saat bayinya keluar nanti, itu akan menjadi pengalaman perasaan terbaik dan tidak akan terlupakan." Ucap bunda Aya berbisik.
Sejenak Dea menatap lekat mata mertuanya itu, mereka saling menatap sekian detik lalu terbit senyum bahagia di wajah Dea dan tertawa demi melihat tatapan nakal bunda Aya.
"Bunda sama Dea ngomongin apa sih?" Tanya Azka penasaran melihat tingkah dua perempuan kesayangannya itu.
"Ini rahasia perempuan, kamu gak usah tau." Jawab bunda Aya tersenyum miring, mengabaikan rasa penasaran Azka.
"Bisa, ini bukan teori. Bunda sendiri mengalaminya saat melahirkan anak badung ini." Ucap bunda Aya sambil melirik Azka.
Azka semakin jengah karena tidak mengerti arah pembicaraan mereka.
Dea malah masih sempat-sempatnya tertawa lepas. Namun tiba-tiba cengkeraman tangan Dea di lengan Azka menjadi sangat kuat.
"Awwww.. Yaa Allah.. sakit! Hikss..!" Dea merasakan sesuatu pecah di bawah sana.
Bidan dan perawat yang sejak tadi berada tidak jauh dari tempat tidur Dea segera mendekat.
"Ini sudah pecah ketuban, bu." Ucap bidan yang memeriksanya.
Nampak sangat basah dan darah mulai keluar. Sementara rasa sakit yang Dea rasakan benar-benar sudah diluar dugaannya.
Dokter Fany mendekati mereka, kemudian memeriksanya. "Tahan dulu yah bu Dea, usahakan jangan ngedan dulu, kita tunggu sedikit lagi."
"Tapi ini sakit dok!" Keluh Dea yang akhirnya mengedan karena tidak kuat menahan rasa sakitnya.
"Sesekali boleh, tapi jangan terlalu sering, jangan sampai ibu kehabisan tenaga." Ucap dokter Fany lembut.
"Seperti buang air besar, De. Ngedannya seperti buang air besar, oke! Bukan hanya leher kamu yang ngedan." Ucap bunda Aya mengingatkan.
"Iya, ingat aja kalau pas ibu lagi BAB, kalau masih keluar suara begini saat ngedan, berarti ngedannya belum benar." Ucap dokter Fany menambahi.
__ADS_1
"Ini sakit banget, bunda!" Dua tangan Dea terus menggenggam tangan suami dan mertuanya itu.
"Sabar yah sayang, ini sebentar lagi." Ucap Azka menguatkan Dea. "Ayo semangat, sebentar lagi kita akan ketemu sama hasil proyek pertama kita." Imbuh Azka tersenyum nakal namun di matanya juga sudah ada cairan bening karena tidak kuat melihat istrinya kesakitan seperti ini.
Dea tersenyum samar, suaminya ini masih bisa saja bercanda di tengah kondisi mereka saat ini.
"Bayinya udah siap, coba ibu ngedan! Tarik nafas dulu kemudian buang lewat mulut." Instruksi dokter Fany seperti cambukan buat Dea untuk menyambut kelahiran anak pertamanya. Ia pun sudah sangat tidak sabar mengingat mereka belum tahu jenis kelamin anak yang dikandungnya.
Lima kali mengedan dengan intens, di sisa-sisa tenaganya, Dea mengerahkan semua tenaganya. "Allahu Akbar!!!"
Akhirnya bayinya meluncur dan melompat keluar. Beruntung bidan dan perawat yang membantu dokter Fany sigap menangkap bayinya.
"MaasyaaAllah... Alhamdulillah, Alhamdulillah.. Allaahu Akbar, Allahu Akbar, Allaahu Akbar!" Ucap semua yang berada di ruangan itu bergantian.
Suasana kembali tegang karena bayinya tidak mengeluarkan suara tangisan. Dokter Fany langsung mengambil alih sang bayi dan langsung menanganinya yang juga diikuti oleh bunda Aya. Sementara sang bidan membantu Dea mengeluarkan plasentanya, Dea merasa tidak nyaman karena plasentanya agak sulit dikeluarkan.
Seketika ia mengingat pesan almarhum mamanya. "Nanti kalau kamu sudah nikah dan hamil, rambutnya dipanjangin."
"Buat apa, ma?" Tanya Dea penasaran.
"Buat jaga-jaga saja, kali aja plasentanya susah keluar."
"Hubungannya?" Dea masih belum mengerti.
"Rambutnya digenggam kemudian dimasukkan ke dalam mulut sampai mampu membuat keselek gitu, dijamin plasentanya langsung keluar. Ini ilmu turun temurun dari keluarga nenek kamu di Makassar."
Dea hanya tersenyum melihat mamanya begitu semangat berbagi warisan nenek moyangnya.
Tak ada salahnya mencoba resep nenek moyang, fikirnya kini.
Dea menarik rambutnya dari balik jilbabnya kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Benar saja, saat ia keselek rambutnya, plasentanya pun langsung keluar padahal dari tadi bu bidannya sudah berusaha namun belum berhasil juga.
"Kamu ngapain sayang?" Tanya Azka keheranan.
Dea hanya tersenyum, ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan aksinya barusan. Saatnya ia memikirkan keadaan anaknya yang belum tahu bagaimana keadaannya sekarang.
Saat bidan dan perawat ingin membersihkan tubuh Dea, Azka langsung menahannya.
"Kalian mau apain istri saya?" Tanya Azka posesif.
Dea sampai menepuk jidatnya melihat kelakuan suaminya yang kekanak-kanakan.
"Ini mau dibantu doang bang buat bersihin badan, lagian abang kan lagi sakit. Udah.. abang lihat baby kita dulu, aku udah penasaran pengen lihat wajahnya." Perintah Dea yang sudah tidak bisa dibantahnya lagi.
Azka mengambil ponselnya dan meminta Nisa membawanya menemui bayinya. Padahal sekarang sudah pukul 10 malam dan Nisa masih setia menemani mereka di rumah sakit.
×××××
\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=
Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.
Jangan lupa baca juga novel author lainnya, KAPAL CINTA AYANA.
__ADS_1
Thanks, 😘