Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Work Accident


__ADS_3

Bab 77 Work Accident


Dea


"Wiiiih.. bu bosss sangar banget!" Ujar mbak Nisa yang ternyata sedari tadi menjadi penonton diantara aku dan Ririn.


"Harus gitu mbak, bibit pelakor harus dimusnahkan sedari awal, kalau tidak repot sendiri nantinya." Ucapku menanggapi mbak Nisa.


"Ha ha ha.. bu bosss bisa aja. Aku siap mendukungmu, istri sah harus bertaring!"


"Nanti taringnya diumpetin dimana kalo lg gak di hadapan pelakor?"


"Taringnya kan otomatis."


Tawa kami pecah mengingat pembicaraan absurd yang tidak tahu arahnya kemana.


Aku kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda, sejenak menarik nafas panjang, meluruskan otot-otot tubuh yang sempat tegang.


Sampai sekarang aku masih bingung, mengapa ada perempuan yang masih mau sama laki-laki yang sudah beristri. Apa mereka tidak pernah berfikir bagaimana kalau posisinya dibalik? Bagaimana jika suaminya yang digoda oleh perempuan lain? Relakah?


Apa mereka tidak memikirkan perasaan sang istri dan anak-anaknya? Bagaimana masa depan anak-anak ini jika kedua orang tuanya bercerai? Bukankah anak-anak dari broken home kebanyakan menimbulkan masalah sosial baru di tengah masyarakat?


Salah satu efek dari kehidupan broken home, jika dia adalah anak perempuan maka ia akan memilih menjadi kaum feminis. Menganggap semua laki-laki itu brengsek, laki-laki dianggapnya sebagai kompetitor, bukan partner. Padahal sejatinya laki-laki dan perempuan itu lahir untuk saling melengkapi.


Tinggal temukan laki-laki baik dan bertanggung jawab maka kita akan menjadi perempuan paling bahagia di dunia ini. Tidak perlu capek-capek cari uang karena dia yang akan memenuhi segala kebutuhan kita, tidak perlu mengejar dunia karena laki-laki yang akan bertanggung jawab membawakan dunia dan seisinya ke dalam genggaman kita.


Aku menggelengkan kepala, kasihan juga melihat perempuan tipe Ririn, aku hanya bisa berharap perkataanku tadi kepadanya bisa menjadi bahan renungan untuknya, aku tidak bermaksud menggurui, aku hanya peduli kepada orang-orang yang ada di sekitarku.


Tok tok tok!


"Masuk!"


Mbak Nisa buru-buru menghampiriku dengan wajah tegang dan panik.


"Bu, kita harus bergegas ke rumah sakit." Ucapnya sedikit terbata.


Aku mengerutkan kening, "siapa yang sakit?"


"Nanti saya jelaskan, kita harus segera ke rumah sakit sekarang!"


Meskipun aku belum tau ada apa, namun aku langsung menyambar ponsel dan tas tanganku. "Memangnya siapa sih mbak? Jangan bikin aku khawatir begini mbak!" Rengekku mulai panik.


"Itu..itu.. di lapangan ada block yang jatuh saat lifting tadi dan--"


"Astaghfirullah..Bang Azka!" Aku terduduk lesu di kursi, rasanya seperti sesuatu ditarik paksa dari dadaku. "Bang Azka baik-baik saja kan mbak?"


"InsyaaAllah pak Azka baik-baik saja, pokoknya sekarang ayo kita ke rumah sakit, tadi semua korbannya sudah dibawa ke sana."


Mbak Nisa kemudian menuntunku menuju lift kemudian di bawah sudah ditunggu mobil kantor di depan lobby.

__ADS_1


Perasaanku benar-benar sudah tidak enak, awalnya aku berusaha berfikir positif, namun pada akhirnya air mataku luruh juga. Berkali-kali kurapalkan doa terbaik untuk keselmatan suamiku itu.


"Bu Dea jangan khawatir, doakan yang terbaik." Ucap mbak Nisa menenangkan aku di sepanjang perjalanan ke rumah sakit.


"Aku takut mbak, aku takut bang Azka kenapa-napa, hiks hiks hiks."


Ponselku berbunyi dan dari layar kelihatan nama bunda menelpon.


"Ha..hallo..Assalamu'alaikum bunda."


"Wa'alaikum salam, kamu dimana, nak?" Terdengar beliau dengan suara berat dari balik sana.


"Masih di jalan bunda, bang Azka bunda, bang Azka. Hiks..hiks..hiks.."


"Kamu tenang sayang, doakan semuanya baik-baik saja, fikirkan anak di dalam kandungn kamu. Oke!"


"Aku mohon bunda, tolong bantu bang Azka."


Aku sudah tidak tau apa yang dikatakan bunda setelahnya, fikiranku benar-benar kacau. Perjalanan ke rumah sakit terasa berjalan lambat mengalahkan kuda laut dan ubur-ubur saat berenang.


Petugas langsung membawa kami ke ruang tempat bang Azka dirawat. Suasana rumah sakit nampak sangat ramai dan dipenuhi oleh orang-orang yang memakai uniform BM Shipyard. Aku terus berjalan cepat ke ruang bang Azka.


Ya Allah.. ternyata ini ruang operasi. Aku hanya bisa berdiri menyandarkan kedua tangan di depan pintu ruangan operasi tersebut. Mbak Nisa terus berusaha menenangkanku namun aku sudah kacau memikirkan semuanya. Hingga aku limbung, semuanya terlihat gelap!


*****


Azka dan Deon sedang melakukan meeting dengan para electrical engineer di lapangan, di sana juga ada Badai. Setelah meeting selesai, mereka memutuskan ikut menyaksikan installasi sebuah block yang ada di Slipway 1, mereka punya 2 slipway dan 3 drydock sebagai fasilitas docking kapal di perusahaan. Kapasitas 1 drydock sendiri mampu menampung 2 kapal di dalam sana. Selain itu, ada juga Syncrolift yang bisa menampung 5 kapal baru di sana.


Kumpulan panel-panel besi baja yang sudah dirakit sedemikian rupa itu berhamburan, tersebar dan terbang kemana-mana. Badai yang menyadari beberapa pelat besi terbang ke arah mereka dengan gerakan cepat memasang badan melindungi Azka yang berdiri di sampingnya. Namun karena posisi mereka yang terlalu dekat dengan kapal dan banyaknya pelat yang beterbangan, membuat tubuh Azka dan Badai banyak terkena hantaman. Deon sendiri lebih beruntung, dia hanya tergores. Berbeda dengan Badai, sebuah bracket tertancap sempurna di pinggangnya, sementara paha Azka juga terkena dan sudah ada bracket yang juga tertancap di sana.


Jika Badai tidak menghalangi bracket yang menghantam pinggangnya tadi, maka bisa dipastikan perut Azka yang menjadi sasarannya.


Suasana panik menyelimuti area Slipway. Bukan hanya Azka dan Badai yang terluka, beberapa orang pekerja yang hadir di sana juga ikut terluka dan sepertinya akan menelan korban jiwa mengingat posisi beberapa orang tadi berada di atas kapal saat lifting dilakukan.


Tubuh Badai roboh saat menyadari rasa sakit di pinggangnya. Deon cepat menangkap tubuhnya, sementara Azka terduduk memegang pahanya. Fikirannya kacau, ia masih sangat shock, namun ia berusaha tetap sadar. Tidak lama beberapa orang menghampirinya dan langsung membawa mereka ke rumah sakit terdekat.


Tiba-tiba ketakutan menyelimutinya saat darah segar tidak berhenti mengucur keluar, ia teringat Dea dan anaknya yang masih ada di dalam kandungan. Berdoa, semoga kuat. Ia tidak boleh lemah, ia harus kuat, ada orang-orang yang sangat ia cintai dan ingin ia lindungi dalam waktu yang panjang.


Azka menoleh ke Badai yang sudah terbaring kehilangan kesadarannya.


"Cepat pak, kita tidak boleh terlambat membawa Badai ke rumah sakit." Perintah Azka meringis menahan rasa sakitnya. Ia tidak ingin Badai terlambat ditangani. Ia tidak ingin istrinya kehilangan lagi.


Sesampainya di rumah sakit, Azka sudah tidak ingat apa yang terjadi setelahnya karena ia pun kehilangan kesadarannya.


*****


Dea melenguh, sentuhan lembut  di kepalanya terasa menenangkan, mencoba membuka mata yang terasa berat. Kepalanya masih pening, namun ingatannya akan Azka menarik cepat kesadarannya.


"Bang Azka!" Dea tersentak bangun menyebut nama suaminya lirih.

__ADS_1


"Ssssttttt... abang di sini sayang." Ucap Azka meraih tangan Dea ke dalam genggamannya.


"Bang.... hiks hiks hiks." Dea menarik tubuh Azka ke dalam pelukannya dengan erat.


"Aku takut abang kenapa-napa." Rengeknya sesegukan.


"Sekarang abang sudah ada di sini, abang baik-baik saja. Heumm..!" Ucap Azka mengurai pelukannya kemudian mengusap pelan air mata Dea.


Susah payah Dea turun dari pembaringan, ia meneliti keadaan tubuh Azka yang memakai kursi roda. Terlihat satu kakinya dibebat perban tebal di bagian paha.


Seolah mengerti kekhawatiran istrinya Azka berusahan menahan tubuh Dea.


"Ini hanya luka biasa, sayang. Tadi sempat kena hantaman bracket dan nancap di sini, tapi udah dikeluarin. Hanya saja..." Azka menahan ucapannya, ia menunduk, menimbang-nimbang apa ia akan berterus terang atau tidak.


"Hanya saja kenapa, bang?" Tanya Dea penasaran.


Azka menatap lembut ke dalam manik mata Dea. "Badai!"


"Badai kenapa?" Dea semakin tidak sabar.


"Badai kritis!" Kembali Azka tertunduk, ini salahnya.


Dea meluruh terududuk di tempat tidur. "Astaghfirullah.. bagaimana bisa, bang? Yaa Allah.." Tangis Dea kembali pecah.


"Dia berusaha menyelamatkan abang dengan mengorbankan dirinya. Pinggangnya tertusuk menembus perutnya. Maafkan abang." Azka benar-benar merasa bersalah.


"Bawa aku menemuinya, bang. Kita harus menyelamatkan nyawanya, abang harus memberi perawatan terbaik untuknya, aku mohon. Please!" Racau Dea bergetar.


"Iya sayang, Caca udah siapin tempat di salah satu rumah sakit di Singapur. Sekarang om Bara sedang mengurus semua administrasinya untuk menerbangkan Badai ke Singapur. Kamu tenang yah, sayang. Abang akan lakukan apapun untuk menyelamatkannya. Kamu percaya abang kan?"


Dea hanya bisa mengangguk, ia begitu mengkhawatirkan sahabatnya itu. Badai adalah sosok teman, sahabat dan saudara laki-laki terbaik yang pernah dimilikinya. Dan sekarang ia mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan laki-laki yang dicintainya.


"Kenapa kamu lakukan ini, Bad?" Lirihnya dalam hati.


×××××


\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=


Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.


Jangan lupa baca juga novel author lainnya, KAPAL CINTA AYANA.


Thanks, 😘


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


Assalamu'alaikum.


Dear my beloved readers,

__ADS_1


Sorry banget baru sempat update. Author lagi ada kesibukan yang benar2 menyita waktu.


Semoga besok bisa update lagi. aamiin..


__ADS_2