
Bab 69 Hak Ulayat
PT. Blue Marine Papua terletak di Kampung Holtekamp, Distrik Muara Tami, kota Jayapura. Perusahaan ini berdiri di atas luas lahan 200 hektar, persis di bibir pantai menghadap ke Samudera Pasifik. Jaraknya sekitar 60 menit dari Skow, perbatasan Papua Nugini dan 15 menit dari pusat kota Jayapura.
Dari luas lahan yang digunakan untuk fasilitas fabrikasi, baik ruang terbuka dan tertutup, termasuk gedung perkantoran dan mess karyawan, sebanyak 100 hektar akan digunakan sebagai ruang terbuka hijau.
Di sini juga dibangun Training Center sebagai salah satu isi MoU dengan pemerintah dan masyarakat adat dengan pihak perusahaan sebagai bentuk partisipasi perusahaan dalam membangun masyarakat Papua yang berdaya saing dan kompeten, terutama dibidang industri oil and gas.
Dan Azka sudah tau, dimana ia akan membangun istana untuk istrinya tercinta. Dengan kondisi topografi tanah kota Jayapura yang sebagian besar adalah perbukitan, ia sudah menentukan titik dimana istana tersebut akan ia bangun. Dari luas area 200 hektar miliknya, di dalamnya hampir 70 hektar adalah bukit-bukit yang bertebing mensesejajari bibir pantai. Dari rumah, ke arah utara, kita akan mendapati pemandangan samudera pasifik yang sangat luar biasa membentang jauh. Dari arah barat, keindahan sunset dan kerlap kerlip lampu perkotaan akan memanjakan mata dari petang hingga pagi hari. Dari arah timur, hutan hijau yang berkabut saat pagi akan setia menyapa. Dan ke arah selatan, tentu saja akan terlihat aktivitas kesibukan yard yang juga tak akan kalah menariknya dari atas ketinggian sekitar 50 hingga 100 meter dari atas permukaan laut ini.
*****
Saat mobil yang dikendarai Azka dan Aldo mendekati pintu gerbang masuk kantor, puluhan orang sudah berdiri disana lengkap dengan panah dan samurai di tangannya menahan mobil mereka. Aldo terpaksa menepikan mobil dan keluar menemui warga yang berkumpul dan sudah nampak mereka sudah melakukan pemalangan dengan kayu pada pintu gerbang kantor.
Dalam hukum adat Papua, hak ulayat adalah hak kepemilikan komunal atas tanah berdasarkan klan maupun berdasarkan gabungan beberapa klan. Hukum adat sudah mengatur kepemilikan tanah, hutan, gunung dan segala yang ada di dalamnya di seluruh tanah Papua.
Selanjutnya, hak tanah adat seharusnya dilakukan pendaftaran ke kantor pertanahan setempat. Namun masyarakat hukum adat menolak dengan alasan akan mendegaradasi kewenangan pemimpin adat, dan sebagainya. Hal tersebut itulah yang selalu menjadi permasalahan seolah hukum adat Papua merupakan penghambat pembangunan.
Dalam perselisihan hak atas tanah yang terjadi di papua lebih dominan diselesaikan oleh para kepala suku atau Ondoafi setempat.
Permasalahan atau konflik sering dikeluhkan oleh para kepala kantor atau pimpinan proyek berkaitan dengan proyek-proyek pembangunan di Papua, karena dalam dana pembangunan yang berasal dari anggaran pemerintah tersebut tidak mengakomodir biaya-biaya jika terjadi kasus pemalangan oleh warga setempat. Padahal biaya penyelesaian sangat besar atau signifikan menguras dana proyek.
Terkadang persengketaan yang terjadi sulit dipahami secara logika. Ada juga kejadian, seorang kepala kantor telah menyelesaikan masalah hak atas tanah adat tersebut dengan biaya cukup besar. Namun pada saat kepala kantor tersebut diganti dengan yang baru, terjadi lagi pemalangan kayu pada kantor tersebut.
Seperti yang sudah-sudah yang sering dialami oleh pemerintah maupun para pengusaha lainnya, kini masalah yang sama dihadapi Azka. Ada satu klan masyarakat adat yang mengaku belum dilibatkan saat pembebasan lahan. Mereka menuntut ganti rugi yang luar biasa tidak masuk akal. Mereka benar-benar memanfaatkan momen ini dengan kejam dimana perusahaan sudah hampir 95% selesai dan rencananya satu bulan lagi akan beroperasi.
Sudah biasa, masyarakat ini membiarkan proyek berjalan setelah proses pembebasan lahan selesai. Namun diujung, ketika proyek telah siap beroperasi, maka akan ada saja klan yang datang mengaku-ngaku punya hak atas tanah tersebut dan belum menerima ganti rugi sehingga mereka merasa berhak melakukan pemalangan.
Mau tidak mau, pihak pemilik proyek terpaksa harus memenuhi tuntutan mereka, tidak mungkin bukan meninggalkan sesuatu yang sudah dibangun dengan susah payah begitu saja?
__ADS_1
Melihat Aldo yang kewalahan menghadapi emosi masyarakat yang sepertinya sulit dikendalikan karena kebanyakan mereka berada dibawah pengaruh alkohol, Azka akhirnya mendekati mereka dan meminta perwakilan mereka ikut Azka masuk ke perusahaan.
Sayangnya, mereka menolak, mereka ingin masalah diselesaikan saat ini juga dan di tempat itu juga. Suasana semakin panas ketika sebagian masyarakat ini mulai memprovokasi dan terprovokasi.
Sementara, ratusan pekerja di dalam yard juga mulai berkumpul dengan peralatan tempur yang tidak boleh dibilang seadanya. Jika dibiarkan berlarut, bisa saja perang tidak bisa dihindarkan.
Suasana benar-benar mulai mencekam ketika salah satu dari masyarakat itu menarik paksa tubuh Azka mengikutinya. Sontak Aldo dan karyawan lainnya tidak terima dan sudah berhambur keluar dari area kantor.
Ketegangan tidak bisa dihindarkan, beberapa anak panah sudah dilesatkan menemui target, beberapa orang mulai terluka. Beruntung, pasukan TNI dan Brimob segera datang dan berhasil menghentikan peperangan.
Azka dan Aldo ikut terluka karena terkena sabetan samurai ketika berusaha melepaskan diri dari kepungan masyarakat. Kejadian ini membuat suasana kota Jayapura kembali mencekam ketika masyarakat pendatang tidak terima dengan jatuhnya korban dan beberapa rumah warga di sekitar perusahaan dibakar oleh massa.
Ambulance berlalu lalang membawa korban ke rumah sakit, puluhan karyawan terluka. Beruntung tak ada korban jiwa, namun 5 karyawan masih dalam kondisi kritis saat ini.
Dea yang mendengar kabar tersebut langsung lunglai tak bertulang di kamarnya menatap laporan berita yang ditontonnya. Setelah menemukan kembali kesadarannya, dengan derai air mata yang mengalir deras, ia terus menghubungi ponsel Azka namun tak dijawab, begitupun dengan Aldo.
Ponselnya kini berdering, namun dari bunda Aya yang sangat mengkhawatirkan mereka. Bunda Aya berusaha keras menenangkan Dea dan mengatakan bahwa Azka baik-baik saja setelah ayah Arga mendapat kabar langsung dari karyawan di kantor.
Tak lama ponselnya kembali berdering.
"Assalamu'alaikum.. bang Azka.. bang.. hiks..hiks.."
"Wa'alaikum salam, sayang. Jangan nangis, abang baik-baik saja. Kamu tenang yah, oke..oke.. ini lihat, abang baik-baik saja." Ucap Azka menenangkan Dea dengan membuat ponselnya sedikit menjauh agar kamera bisa mengambil sebagian besar tubuhnya.
"Hikss..hikksss.. aku takut, bang. Aku..hikss..hikss.." Dea sudah tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena tak bisa menahan isakan tangisnya.
"Iya..iya.. abang baik-baik saja. Abang sekarang di rumah sakit menemani para pekerja yang terluka. Kamu tunggu yah di situ, abang dekat kok, ini di rumah sakit dekat hotel kok, tapi abang harus menemui semua korban dulu dan setelah itu abang harus ke kantor polisi untuk menyelesaikan urusan ini. Bunda dan ayah sudah menuju ke sini, kamu tunggu di situ yah, sayang."
Dea menghapus air matanya lalu mengangguk.
__ADS_1
"Abang baik-baik yah di situ."
"Kamu juga, jaga anak kita."
Dea kembali mengangguk dan berusaha menghentikan tangisnya.
"Hati-hati, i love you, daddy!"
Deg..
Jantung Azka berdetak kencang, senyumnya mengembang, ia bahkan sempat melupakan rasa sakit yang ada di lengannya karena mendapatkan ungkapan cinta dari Dea. Bagaimana tidak, ini untuk pertama kalinya Dea yang lebih duluan mengucapkan kata-kata itu kepadanya, selama ini Azka yang selalu mengungkapkannya terlebih dahulu kemudian dijawab oleh Dea, bahkan terkadang hanya dijawab anggukan atau senyum oleh Dea.
"I love you, too.. mommy. I love you, i always love you, more and more." Ucapnya berkaca-kaca dan dibalas senyum oleh Dea.
×××××
\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=
Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.
Jangan lupa baca juga novel author lainnya, KAPAL CINTA AYANA.
Thanks, 😘
++++++++++
Maaf, tidak ada tendensi untuk menyudutkan masyarakat adat atau OAP (orang asli papua) di sini. Author hanya menceritakan kejadin yang sering terjadi di sini dan ini tidak selalu salah ada pada masyarakat karena kebanyakan juga pengusaha yang berinvestasi di sini cukup nakal dan memanfaatkan situasi sehingga merugikan negara. Salah satunya pembalakan liar yang merusak hutan-hutan Papua yang terjadi di seantero tanah Papua saat ini.
#savepapua
__ADS_1
#savehutanpapua