Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Hutang Penjelasan


__ADS_3

Bab 25 Hutang Penjelasan


Azka tidak bisa menyembunyikan rona bahagia di wajah dingin dan kakunya itu. Sepanjang perjalanan menuju apartemen Dea, bibirnya tak henti-hentinya membentuk garis tipis melihat Dea yang begitu bete dengannya.


Rencana awal strategi menaklukkan Dea sepertinya berhasil. Strategi membuat kebiasaan, membuat Dea terbiasa melihatnya, terbiasa bersamanya, terbiasa dengan aroma tubuhnya, terbiasa dengan kehadirannya dan terbiasa dengan segala hal tentang dirinya.


Karena Azka yakin betul bahwa kebiasaan adalah pencuri terbaik yang patut diperhitungkan. Saat Dea sudah terbiasa dengannya, maka bisa dipastikan Dea akan merasa kosong dan berbeda jika ia tidak ada.


Saat hendak memasuki pintu unit apartemennya, tiba-tiba ada Badai yang keluar dari unitnya.


"Bad.."


"Dea, pak Azka. Sore pak!" Sapa Badai sopan namun tatapan matanya dipenuhi tanda tanya pada Dea.


Azka menjawab sapaan Badai tadi hanya dengan anggukan dan langsung berjalan masuk duluan ke unit Dea.


"Ngapain pak Bos ke sini sama kamu?" Tanya Badai dengan suara rendah namun penuh penekanan.


"Nanti aja aku jelasin. Aku gak punya banyak waktu, untuk sementara aku akan tinggal di rumah pak Azka, sekarang aku mau beres-beres dulu." Jawab Dea juga dengan suara tak kalah rendah.


"Kamu hutang penjelasan, nanti malam aku tunggu di group!" Ucap Badai kemudian berjalan menuju lift.


"Iya, iya..bye!"


Dea masuk ke apartemennya namun tidak menemukan Azka di ruang tamu. Dea malas mencarinya, ia fikir mungkin Azka lagi di dapur atau mungkin di balkon apartemennya.


Saat Dea memasuki kamarnya, ia bengong melihat Azka sedang mengepak barang-barangnya masuk koper.


"Bang Azka ngapain?" Tanya Dea menghampiri Azka dan langsung berjongkok melihat barangnya berserakan di lantai.


Azka hanya mengedikkan bahunya sambil terus memilah-milah pakaian Dea dari lemari.

__ADS_1


"Pilih barang yang kamu suka dan penting-penting aja, nanti bisa beli lagi buat kebutuhan kamu di rumah."


"Iya, tapi gak gini juga. Kok diberantakin gini sih? Capek tau lipat lagi, atur lagi masuk lemari." Keluh Dea memukul jidatnya sendiri kemudian bertolak pinggang menatap tajam ke arah Azka.


Azka yang merasa ditatap oleh Dea menghentikan aktifitasnya kemudian melihat ke arah Dea.


"Kenapa? Apa ada yang salah?"


"Ya salah lah, bang Azka keluar sana!" Ketus Dea merasa tidak nyaman melihat Azka mengemasi barang-barangnya.


Azka bangkit, namun bukannya keluar dari kamar, ia malah naik ke atas tempat tidur kemudian berbaring di sana.


"Bangunkan kalau sudah maghrib, saya mau istirahat dulu." Ucap Azka kemudian tidur memunggungi Dea


Dea benar-benar tidak habis fikir dengan sikap semau-maunya Azka itu.


Andai Azka tidak membencinya, tentu ia akan dengan senang hati bergabung tidur di sana dengannya. Bahkan andai bukan Azka, meskipun laki-laki yang menikahinya itu tidak mencintainya, Dea akan rela melakukan apa saja untuk membuat suaminya itu mencintainya. Tapi dengan Azka, Dea sudah hopeless duluan.


Bagi Dea, Azka terlalu tinggi untuk ia gapai, jika dibandingkan dengan kekasih Azka, Dea insecure sendiri, bersaing dengannya sama saja dengan buang-buang waktu, sudah tau akan gagal tapi masih ngebet, kalau bukan bodoh, itu namanya dung* bin tolo*.


Pakaian ke pesta atau suasana formal lebih tragis lagi, hanya 3 pasang selama 2 tahun terakhir. Begitu pun dengan pakaian rumah. Tidak terlalu banyak.


Tas tangan yang dimilikinya hanya 2 buah, sepatu 2, sendal juga hanya 2. Saat ke kantor Dea lebih memilih memakai tas ransel agar semua barang-barang keperluannya bisa dimasukkan ke dalam ranselnya tersebut.


Dea memang memilih gaya hidup minimalis, terbukti dengan jumlah pakaian yang sedikit dan perabotan yang juga minim di apartemennya. Seperlunya saja.


Dea baru akan membeli pakaian baru jika ada pakaian lamanya yang sudah tidak layak pakai, ia biasanya menyortir pakaiannya 2 kali dalam setahun. Entah itu pakaian kantornya atau pun pakaian rumahnya kemudian pakaian-pakaian yang tersortir tadi ia pisahkan. Setelah dirasa cukup, pakaian tadi akan ia kirim ke @bberes.id. Dea lebih suka mengirim pakaian bekasnya ke sana karena pakaian yang masih layak pakai akan disedekahkan kepada yang membutuhkan, sedangkan pakaian yang sudah tidak layak akan didaur ulang dan diolah menjadi insulation felt.


Jadi tidak ada yang benar-benar terbuang, pada akhirnya tetap bermanfaat. Dea yakin dan percaya, bahwa setiap apa yang kita pakai dan miliki saat ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Pakaian-pakaian yang berjejer dan bertumpuk di dalam lemari itu kelak akan dipertanggungjawabkan, termasuk sepatu, sendal, tas dan berbagai aksesoris lainnya. Dea tidak ingin menambah beban dengan hal-hal yang sudah pasti bisa dihindari jika mau, sudah cukup dosa-dosanya yang harus dipertanggungjawabkan kelak, jangan lagi barang-barang kita ikut-ikutan menjadi pemberat timbangan dosa di hari perhitungan nanti.


Makanya, Dea tidak mengenal kata koleksi barang, cukup teman baik yang dikoleksi, begitulah Dea. Ia ingin merubah mindset-nya, bahwa sederhana adalah sebuah kemewahan. Bukan banyaknya, bukan harga fantastisnya, tapi dari manfaat lebih yang bisa didapatkan dari sebuah benda yang membuatnya terlihat mewah.

__ADS_1


Sepertinya Azka memang betul-betul terlelap, mungkin masih mengantuk karena semalam terlalu cepat bangun. Dea sendiri sudah terlihat segar karena setelah memasak untuk makan malam mereka nanti, Dea langsung membersihkan diri.


"Bang Azka, bangun!" Dea menusuk-nusuk lengan Azka menggunakan guling, enggan menyentuhnya dengan tangannya.


"Hmmmm.."


Berkali-kali dibangunkan namun responnya sama, bilang 'hmmmm' kemudian lanjut tidur.


"Bang Azka, ini sudah sore. Bangun!"


Dengan malas Azka membuka matanya yang masih terasa berat.


"Jam berapa sekarang?" Tanyanya kemudian menguap cukup panjang.


"Sudah hampir jam 6, itu sudah adzan!"


Dea bangkit kemudian menyiapkan alat sholat untuk Azka.


"Mau sholat bareng atau saya duluan?" Tanya Dea yang selepas mandi tadi sudah memakai mukenahnya.


Azka bangkit kemudian berjalan ke kamar mandi. "Tunggu, saya wudhu dulu."


Tentu saja bacaan sholat Azka terdengar merdu, meskipun ia sekolah bukan di pesantren atau sekolah berbasis Islam secara terpadu, akan tetapi bunda dan ayahnya tidak pernah abai dengan pendidikan agama anak-anaknya. Selain dididik sendiri oleh kedua orangtuanya, sejak kecil ada ustadz yang sengaja dipanggil ke rumah 3 kali sepekan untuk mengajarkan mereka tahsin tilawah dan berbagai ilmu keagamaan dasar lainnya.


Bunda Aya adalah ibu yang luar biasa. Di tengah kesibukannya sebagai dokter, beliau tetap tidak lupa dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Beliau tidak ingin orang lain yang menjadi orang pertama yang mengajarkan anak-anaknya membaca, menghitung dan mengaji. Karena baginya, apabila anak-anaknya kelak menjadi orang-orang besar yang bermanfaat bagi sesama manusia, maka semua amal kebaikan yang dilakukan oleh anak-anaknya tersebut akan mengalir kepadanya.


Suasana cukup canggung setelah mereka sholat, Dea bingung, apa perlu mencium tangan Azka atau tidak? Ini kan hanya pernikahan sementara, rasanya tidak ada kewajiban untuk itu. Di tengah kesibukan Dea dengan fikirannya sendiri, tiba-tiba Azka sudah lebih dulu menjulurkan tangannya pada Dea. Mau tidak mau Dea menciumnya cepat, secepat kilat kemudian, ia langsung berdiri merapikan alat sholatnya.


"Saya ada masak, kita makan dulu sebelum pulang. Tapi kalau tidak mau, nanti makanannya saya kasi Badai saja." Ucap Dea setelah melipat mukenahnya.


Tanpa menjawab, Azka bangkit dan langsung beranjak keluar kamar. Ia menuju meja makan dan langsung duduk di sana. Dea menyusul kemudian.

__ADS_1


Mereka makan dalam diam, tak ada yang berniat membuka suara. Keduanya larut dalam fikiran masing-masing. Satu hal yang pasti, saat ini mereka nampak seperti pasangan suami istri yang sedang melalui makan malam romantis berdua. Bedanya, tak ada candle light dan tak ada ungkapan pernyataan cinta. Namun bukankah makan malam berdua seperti ini adalah pengalaman pertama mereka setelah sekian tahun berpisah?


×××××


__ADS_2