Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Suka


__ADS_3

Bab 41 Suka


Matahari jingga nampak mulai memayungi pantai, burung-burung beterbangan sambil bergerombol menuju pulang setelah seharian menjemput rezekinya. Begitupun dengan kebanyakan karyawan BM Shipyard, sebagian sudah pulang sejak jam 4 sore tadi untuk yang mengambil jam kerja basic, sebagian sedang bersiap untuk pulang jam 6 sore dan untuk yang pekerjaannya belum bisa ditinggal, mereka bertahan hingga jam 9 malam nanti.


Hal yang sama dengan Dea dan Azka, saat ini Azka masih berkutat dengan beberapa meeting sejak habis asar tadi, sementara Dea sedang sibuk memeriksa Work Schedule untuk persiapan mengikuti bidding tender proyek kapal perang milik TNI-AL yang rencananya akan mereka submit minggu depan.


Suasana yard yang tadinya begitu sibuk dengan segala aktivitas pekerjaan yang seolah tidak ada habisnya, kini mulai lengang. Tak ada lagi lalu lalang truck pengangkut baja, atau mobil trailer pengangkut block Kapal yang hendak melakukan erection block, suara-suara mesin pengelasan yang biasanya tak ada jeda, kini hanya terdengar sesekali yang kadang membuat gigi terasa ngilu.


Samar-samar terdengar suara ombak kecil yang memukul-mukul dinding dermaga. Kapal-kapal yang sandar bergelayut mesra di sisi fender dermaga,. Desau angin bertiup cukup kencang menyapu debu yang ada di atas lantai beton yang menutupi setiap jengkal tanah areal perusahaan yang luasnya kurang lebih 120 ha itu, dengan luas lahan tersebut menjadikan BM Shipyard sebagai galangan kapal terluas di Indonesia yang saat ini masih berada di peringkat ke-tiga terbaik se-Indonesia.


Dan salah satu visi besar Azka adalah membawa BM Shipyard menjadi Galangan Kapal terbaik di dunia, mengalahkan Geoje Shipyard di Korea dan Mitsui di Jepang.


*****


"Masih sibuk?" Tanya Azka membuat Dea mengangkat kepalanya melirik ke arah datangnya suara.


Dea tidak menyadari Azka yang masuk ke dalam ruangan.


"Masih. Udah selesai meeting-nya? Atau nanti lanjut lagi?" Dea balik bertanya.


"Masih."


Azka menghampiri Dea, memeluknya sejenak, menghirup semua energi positif yang dihasilkan Dea untuknya. Ia sangat membutuhkan Dea saat ini.

__ADS_1


"Kenapa? Ada masalah?" Tanya Dea lagi mengelus kepala Azka penuh sayang.


"Apa aku terlalu ambisius dengan 10 proyek yang sedang on progress, 4 proyek akan start dalam beberapa bulan ke depan dan saat ini kita sedang berburu 3 tender baru? Apa menurut kamu aku bisa melakukannya?"


Tangan Dea mengambil mouse kemudian membuka sebuah file dari Ms.Excel untuk ditunjukkan pada Azka.


"Ini, lihat!"


Azka mengurai pelukannya kemudian fokus menatap pada layar monitor komputer Dea.


"Lihat, aku sudah membuat simulasinya dengan beberapa skenario, bahkan andai kita mendapatkan ketiga proyek itu, yard kita mampu menampungnya, fasilitas kita cukup memadai meski memang harus diakui dalam beberapa tempat harus ada penambahan alat dan upgrade teknologinya. Namun dengan catatan, dalam satu tahun ke depan, kita harus pastikan 5 kapal sudah delivery. Untuk departemen planning sendiri, aku sudah membuat template untuk semua format report dan pengolahan data yang menggunakan Ms.Excel, udah kubuatin versi macronya. Sama dengan WBS (Workbreak Down Structure) di Primavera dan Ms.Project, semua udah kubuatin juga template-nya. Job description-nya sudah kubuat sejelas mungkin berikut tutorial dari A to Z dari membuat Schedule sampai terbentuk S-Curve dan histogram-nya, semuanya sudah kubuatin bukunya, bahkan dilengkapi video juga. Jadi ketika ada planner yang mengundurkan diri, itu bukan masalah besar, tinggal hire orang baru dan mudah ngajarinnya. Harapannya, departemen lain menyusun hal serupa sehingga manajemen tidak perlu terlalu direpotkan dengan kasus karyawan yang gonta-ganti sehingga mempengaruhi produktivitas di lapangan." Ucap Dea panjang lebar berusaha mengurai ketakutan dan pesimisme Azka.


Senyum tipis mengembang di wajah lelah Azka.


"Aku suka dengan cara kerja kamu, visioner banget!" Satu tangan Azka mengelus lembut kepala Dea dan satu tangan lainnya mengambil alih mouse yang dipegang Dea untuk melihat dokumen-dokumen lain yang disiapkan Dea.


Dea kemudian menuju kamar pribadi Azka yang ada di dalam ruangan mereka. Ia ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum sholat maghrib. Sejak mereka bekerja dalam satu ruangan sekitar 1 bulan lebih yang lalu, kantor sudah menjadi rumah kedua bagi mereka, beberapa pasang pakaian kerja bahkan pakaian santai sudah bertengger memenuhi lemari pakaian di dalam kamar tersebut. Apalagi terkadang mereka memilih menginap di kantor saat pekerjaan Azka dan Dea masih menumpuk.


Selain itu, terkadang gairah Azka tidak mengenal tempat saat bersama Dea. Sehingga membuat mereka bisa beberapa kali mandi junub saat di kantor. Dea sendiri bingung, sudah sebulan lebih Azka berhasil menandainya sebagai miliknya, tapi intensitas keinginan Azka untuk terus menyentuhnya tidak berkurang.


Berbagai cara dan alasan Dea lakukan agar dirinya tidak terlalu lama hanya berdua di dalam ruangan, namun Azka punya cara lebih banyak lagi untuk menahan Dea.


Jika dulu, setiap hari Dea bisa turun ke lapangan bahkan naik turun kapal yang aksesnya masih kebanyakan harus dengan memanjat schafolding, sekarang, hampir-hampir Dea tidak pernah melakukannya lagi. Orang-orang di lapangan melarangnya.

__ADS_1


"Istri bos besar gak boleh lagi ke lapangan, nanti kulitnya hitam, bau, jangan sampe lecet, bisa ditutup satu perusahaan ini sama pak bos besar kalau sampe istri kesayangannya tergores sedikit saja. Trus ribuan pekerja di sini mau dikemanain?" Ucap Badai suatu waktu saat dirinya meminta Badai menemaninya mengecek beberapa equipment yang telah di-instal masuk kapal.


"Bang Azka benar-benarlah, bikin susah orang saja. Mau ini itu gak dibolehin, padahal ini kan untuk kebaikan perusahaan, artinya untuk dia juga." Keluh Dea menyesalkan sifat posesif Azka padanya.


"Uang bisa dicari, ganti istri juga mudah saja buat pak Azka, tapi kamunya ini hanya satu di dunia ini, gue juga kalo punya istri gak bakal gue biarin kerja keras lagi. Istri itu buat disayang-sayang dan bisa buat suami dimanjakan. Lah, kalo istri juga capek, gimana mau manja-manjaannya?"


Glek!


Dea merasa tertampar dengan celetukan Badai barusan. Selama ini Dea begitu sibuk bekerja bahkan terkadang karena dirinya yang sibuk membuat Azka ikut menemaninya di kantor.


Karena itulah, akhirnya Dea kefikiran untuk membuat pekerjaannya lebih mudah dan lebih cepat diselesaikan dengan membuat format template yang bekerja secara otomatis hanya dengan mengganti beberapa angka di dalamnya.


Dea cukup ahli di bidang IT, bahkan ia pun adalah seorang hacker handal yang ada di dunia. Ini adalah rahasia terbesarnya, tak satupun yang tau tentang bakatnya yang satu ini.


×××××


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamu'alaikum readers!


Author doakan semoga sehat dan tidak ada yang sakit. Aamiin.


Terus author ingatkan, berikan like, komentar dan vote-nya yah agar popularitas Novel ini terus naik. Dan semoga pesan-pesan kebaikan yang ada di dalam Novel ini bisa menginspirasi readers semuanya. Jika ada yang salah, mohon koreksinya. Jika ada keburukan yang author tulis, tolong diabaikan yah...

__ADS_1


Thanks😘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2