Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Khilaf


__ADS_3

Bab 29 Khilaf


To tok tok! Suara ketukan pintu membangunkan Dea, mengambil kesadarannya yang sempat terlelap. Ternyata Dea benar-benar tidur dan entah sudah berapa lama ia tertidur di sini. Dea melangkah malas membuka kunci pintu.


Azka muncul dengan muka datarnya. Ia masuk kemudian menutup kembali pintunya.


"Dasar pemalas!" Ucapnya sarkas.


Dea begitu malas menanggapinya dan entah mendapat keberanian dari mana ia malah kembali ke atas tempat tidur kemudian membaringkan tubuhnya dengan posisi tengkurap.


"Hei.. mau sampai kapan kamu tidur? Ditunggu ayah buat makan siang!" Azka duduk di tepi tempat tidur kemudian menarik bahu Dea agar menghadap dirinya.


"Bang Azka aja yang makan sama ayah, aku masih ngantuk. Pengen bobo di sini aja." Jawab Dea dengan suara khas orang baru bangun tidur, matanya masih terpejam dan ia mengerucutkan bibirnya.


Namun bagi Azka, itu terdengar manja dan sangat seksi di telinganya.


Azka menarik paksa tubuh Dea agar segera bangun, tidak enak membuat ayahnya menunggu. Namun karena terlalu kuat, tubuh Dea malah menabrak dadanya, mereka berdua tampak kaget, pandangan mereka bertemu, saling mengunci.


Dea yang awalnya ingin protes malah sekarang tenggelam jauh ke dalam tatapan mata elang milik Azka.


Posisi mereka sangat dekat, telinga Azka bisa mendengar irama tak beraturan detak jantung Dea, begitupun dengan Dea, itupun jika ia menyadarinya karena dirinya kini sudah terbius oleh pesona kesempurnaan keindahan fisik seorang Azka.


Menatap wajah Dea dari posisi sedekat ini benar-benar membuat Azka tak bisa lagi berfikir jernih. Sesuatu di bagian tubuhnya tiba-tiba bangkit, hawa panas menyelimutinya, apalagi saat memandang bibir merah pucat bak buah persik milik Dea yang ia biarkan tak dipoles apapun semakin memporak-porandakan akal sehat Azka.


Satu tangannya ia bawa menelusuri setiap garis wajah Dea dan berakhir di bibir seksi milik Dea.


Dea sudah kehilangan kesadarannya, ia begitu terbuai hingga memejamkan matanya saat merasakan sensasi aneh yang dihasilkan oleh sentuhan tangan Azka.

__ADS_1


Dahi dan hidung mancung mereka sudah saling bertemu, deru nafas hangat mereka saling menderu, Azka memiringkan sedikit wajahnya.


Sreeeet! Suara pintu bergeser.


Dea dan Azka terlonjak kaget, tanpa sadar Dea menyembunyikan wajahnya di dada Azka.


"Oh maaf! Ayah tidak lihat, kalian lanjutkan saja!" Ayah Arga tertawa terbahak kemudian kembali menutup pintu.


"Mau sampai kapan kamu memelukku seperti ini?" Suara bariton Azka mengagetkan Dea. Ia langsung menarik tubuhnya menjauh dari Azka.


Wajahnya terasa panas, menyembulkan rona merah padam di sana. Tak sanggup bertemu tatap dengan Azka. Dea langsung bangkit dan berlari masuk ke kamar mandi.


Dea terus merutuki kebodohannya. Terlalu lemah. Baru begitu saja dia sudah terlena dan terbuai. Pasti Azka akan memandangnya seperti perempuan gampangan. Belum apa-apa sudah pasrah disentuh.


Dea duduk di atas toilet, membenamkan wajahnya di atas pangkuannya, memijit-mijit kepalanya yang mendadak terasa ingin meledak.


Malu! Itulah perasaan yang mendominasi fikirannya saat ini. Bagaimana ia menunjukkan mukanya di depan Azka? Ia tidak sanggup melihat pandangan jijik Azka pada dirinya.


Mengapa harus malu? Dea juga perempuan normal, disentuh oleh suami sendiri rasanya hal yang wajar jika ia merespon balik. Tidak peduli mereka saling membenci, tidak peduli tak ada cinta dari mereka, namanya juga perempuan dan laki-laki. Sangat wajar jika ada ketertarikan dan menimbulkan sengatan listrik dari setiap persentuhannya. Apalagi jika statusnya adalah suami istri.


Dea akhirnya keluar dari kamar pribadi Azka dengan wajah yang nampak segar dan ceria. Seolah tidak ada apa-apa yang terjadi, mengabaikan rasa malunya pada Azka, mengabaikan rasa malunya pada ayah Arga yang memergoki mereka tadi. Sementara ayah Arga yang duduk di sofa menatapnya dengan senyum nakal. Azka tetap saja dengan muka datarnya dan Aldo yang berdiri di depan pintu menatap kebingungan kepada 3 orang di depannya yang sepertinya nampak aneh.


"Ah, yang ditunggu datang juga," ucap Aldo pada Dea yang berjalan menghampiri mertuanya di sofa. "Ayo, makan siangnya sudah siap di ruang conference sebelah." Aldo menahan pintu menunggu mereka semua keluar dari ruangan.


Dea mengulurkan tangan kanannya pada ayah Arga dan disambut bahagia oleh ayah mertuanya tersebut. Dea memang sangat manja pada beliau sejak dari kecil.


"Trus yang gandeng laki lo siapa? Gak mungkin gue bukan?" Aldo menarik ayah Arga begitu saja kemudian berjalan duluan ke ruang conference yang ia sulap menjadi ruang makan siang mereka hari ini.

__ADS_1


Azka menghampiri Dea yang sempat bengong karena kelakuan dan ucapan Aldo tadi.


Tangan Dea tiba-tiba digenggam Azka dan langsung ikut berjalan bersisian karena ditarik Azka.


"Lain kali jangan peluk-peluk atau aku khilaf dan memakan kamu bulat-bulat!" Bisik Azka.


Sesaat wajah Dea berubah pias dan lagi-lahi tidak bisa menyembunyikan rona merahnya, tapi ia tidak mau kalah, Dea malah membalas kata-kata Azka tidak kalah sengit.


"Makanya, jangan pernah dekat-dekat. Takutnya bukan bapak yang khilaf, tapi aku yang khilaf memakan bapak tanpa ampun! Grarrrr..grarrrr!" Dea menatap tajam Azka sambil mengaum seperti serigala.


Azka menghentikan langkahnya, giliran dirinya yang bengong demi melihat reaksi Dea yang seolah menantang dirinya.


"Apa ini yang dikatakan bahwa di dalam diri setiap perempuan ada serigala betina? Hanya saja banyak perempuan yang tidak menyadarinya karena keliaran itu ditekan sedemikian rupa oleh norma-norma kesopanan dan sikap pemalunya." Batin Azka.


Sebagaimana serigala betina yang liar dan buas ia juga adalah binatang yang penyayang dan melindungi.


Ah, Azka sepertinya semakin jatuh pada Dea, serigala betinanya yang manis dan liar. Azka tak bisa tidak menyunggingkan senyumnya. Membaginya kepada orang-orang yang diundang ayahnya ikut makan siang bersama mereka saat ini.


Ini adalah pemandangan yang cukup langka, karena selama ini Azka terkenal dengan sifat sedikit bicaranya dan hampir tidak pernah senyum kepada siapapun saat di kantor.


Azka bukannya sombong, ini hanya mengingat usianya yang masih terbilang muda, masih 25 tahun, sementara kebanyakan yang menduduki posisi project manager, head of department dan deputy manager adalah orang-orang yang usianya jauh di atasnya.


Tentu saja banyak diantara mereka yang meragukan kapasitasnya dalam memimpin perusahaan tersebut. Karenanya bagi Azka, penting membangun image agar terlihat dewasa dan elegant.


Terbukti, belum setengah tahun dirinya memegang posisi general manager, ia sudah berhasil memenangkan 4 tender proyek new building ship. Dan yang paling membanggakan, satu diantaranya adalah proyek pembangunan kapal produksi penyimpanan dan pembongakaran terapung atau FPSO (Floating Production Storage and Offloading) vessel. Ini adalah sejarah pertama bagi BM Shipyard memegang proyek sebesar ini.


Ini adalah kabar luar biasa sekaligus membanggakan dan menjadi tantangan tersendiri bagi Azka dan jajaran serta karyawannya ke depan, bagaimana menyelesaikan semua proyek tersebut on time dan zero LTI (Lost Time Injury) sehingga proyek sukses tanpa terjadi kecelakan kerja di sana.

__ADS_1


Challenge your self and take risk sometimes, you will know that you're stronger than you ever imagine.


×××××


__ADS_2